MALANG POST – Ungkap 123 sinyal metabolit dan keanekaragaman habitat Pala Jawa di Pantai Selatan Malang, tim peneliti UM pimpinan Prof. Fatchur Rohman, kembangkan metode eDNA dan LC-MS non-destruktif.
Universitas Negeri Malang (UM) terus mengembangkan penelitian mengenai keanekaragaman hayati Indonesia. Salah satunya melalui kajian terhadap pala Jawa (Myristica teysmannii) di kawasan Hutan Lindung Pesisir Pantai Selatan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Pada 2026, penelitian yang dipimpin Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si. menghasilkan temuan berupa 123 sinyal metabolit dari daun pala Jawa, sekaligus informasi mengenai karakter habitat tempat spesies tersebut tumbuh. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kajian yang telah dilakukan sejak 2024.
Tim peneliti yang terdiri atas Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si.; Bagus Priambodo, M.Si., M.Sc., Ph.D.; Kennis Rozana, S.Pd., M.Si.; Indra Fardhani, M.Sc., M.I.L., Ph.D.; Dilla Anisa Ikhtira, S.Pd., M.Si.; Dr. Maisuna Kundariati, M.Pd.; dan Dr. Zia Aulia Zaidin Putra, M.Pd. mengembangkan pendekatan penelitian secara bertahap untuk memperoleh gambaran yang semakin menyeluruh mengenai pala Jawa.
Kajian pada 2024 menitikberatkan pada aspek ekologi dan kondisi lingkungan. Setahun kemudian, penelitian dikembangkan menggunakan pendekatan environmental DNA (eDNA). Metode ini memungkinkan keberadaan M. teysmannii dideteksi melalui material DNA yang terdapat di dalam tanah, sehingga pemantauan dapat dilakukan tanpa harus mengambil atau merusak individu tumbuhan.
Hasil penelitian eDNA menunjukkan bahwa DNA pala Jawa ditemukan pada sembilan dari 10 sampel tanah yang dianalisis. Penggunaan ekstraksi DNA tanah yang dikombinasikan dengan quantitative polymerase chain reaction (qPCR) menggunakan target gen rbcL menunjukkan bahwa metode tersebut berpotensi digunakan sebagai teknik biomonitoring non-destruktif, khususnya untuk spesies dengan populasi terbatas atau yang sulit dijumpai melalui survei lapangan secara langsung.

Pada penelitian yang berlangsung 3 Juni hingga 31 Juli 2026, cakupan kajian diperluas dengan menggabungkan pengamatan kondisi habitat dan analisis metabolit daun. Sejumlah parameter mikrohabitat dicatat, meliputi suhu serta kelembapan tanah, pH tanah, suhu dan kelembapan udara, pergerakan udara, serta intensitas cahaya.
Pengukuran lapangan memperlihatkan adanya variasi kondisi mikrohabitat di lokasi penelitian. Suhu tanah tercatat antara 25–28 derajat Celsius, sementara suhu udara berada pada kisaran 30,6–30,7 derajat Celsius. Nilai pH tanah berkisar 5,8–6,1, kelembapan udara 76,5–81 persen, kelembapan tanah 35–93 persen, dan intensitas cahaya 20–933 lux.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa habitat pala Jawa memiliki kondisi lingkungan yang cukup dinamis. Intensitas cahaya dapat mencerminkan perbedaan tingkat keterbukaan tajuk, sedangkan kelembapan tanah dapat dipengaruhi oleh topografi, tutupan vegetasi, keberadaan serasah, maupun kemampuan tanah menyimpan air. Berbagai faktor lingkungan tersebut berpotensi berhubungan dengan kondisi fisiologis tumbuhan dan proses pembentukan metabolit sekundernya.
Selain karakter habitat, penelitian 2026 juga memberikan informasi mengenai profil kimia daun pala Jawa. Analisis menggunakan Liquid Chromatography–Mass Spectrometry (LC-MS) mendeteksi 123 sinyal metabolit. Temuan ini memberikan gambaran awal mengenai kompleksitas komponen kimia yang terdapat pada daun M. teysmannii dan dapat menjadi dasar untuk penelitian lanjutan.
Sejumlah kelompok metabolit yang teramati antara lain neolignan turunan arilpropanoid, fenilpropanoid, alkilfenol, dan glikosida flavonoid. Pada tumbuhan, metabolit sekunder dapat memiliki berbagai fungsi biologis, termasuk berperan dalam mekanisme pertahanan, interaksi dengan organisme lain, serta respons terhadap perubahan atau tekanan lingkungan.

Namun, jumlah sinyal yang diperoleh tidak serta-merta menunjukkan jumlah senyawa yang telah berhasil diidentifikasi secara definitif. Setiap sinyal masih membutuhkan proses anotasi dan verifikasi struktur. Pada tahap tertentu, konfirmasi menggunakan teknik analisis tambahan juga diperlukan. Dengan demikian, angka 123 lebih tepat dipahami sebagai gambaran awal mengenai profil dan keragaman sinyal metabolit pada daun pala Jawa.
Rangkaian penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana beberapa pendekatan dapat digunakan secara saling melengkapi. Kajian ekologis memberikan informasi tentang kondisi habitat, metode eDNA membantu mendeteksi keberadaan spesies tanpa merusak tumbuhan, sementara analisis metabolit memberikan gambaran mengenai karakter kimia jaringan daun. Penggabungan ketiganya dapat memperluas pemahaman terhadap pala Jawa dari sisi lingkungan, keberadaan spesies, hingga karakter biologisnya.
Konsistensi penelitian yang dilakukan secara bertahap juga memperkuat kontribusi UM dalam pengembangan riset berbasis keanekaragaman hayati lokal. Data mengenai habitat, keberadaan, serta karakter kimia pala Jawa dapat menjadi sumber informasi untuk penelitian berikutnya sekaligus mendukung penyusunan strategi pengelolaan dan konservasi spesies tersebut.
Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 15 tentang Ekosistem Daratan, terutama dalam konteks perlindungan keanekaragaman hayati dan ekosistem. Penelitian terhadap spesies dengan persebaran terbatas seperti pala Jawa dapat membantu memperkuat basis data ilmiah yang diperlukan untuk memahami kondisi populasi dan lingkungannya.
Bagi UM, penelitian pala Jawa tidak berhenti pada pengumpulan data lapangan maupun hasil analisis laboratorium. Rangkaian kajian tersebut menunjukkan proses membangun pengetahuan secara bertahap: mulai dari memahami habitat, mendeteksi keberadaan spesies melalui DNA lingkungan, hingga mengungkap profil metabolit daun. Setiap temuan menjadi bagian dari upaya memperdalam pemahaman terhadap Myristica teysmannii sekaligus mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




