Dr. dr. Dhelya Widasmara, Sp.DVE., Subsp. DT, FINSDV, FAADV (tengah) bersama tim. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Inovasi digital bidang kesehatan yang dikembangkan oleh tim dosen dan peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), di bawah pimpinan Dr. dr. Dhelya Widasmara, Sp.DVE., Subsp. DT, FINSDV, FAADV berhasil mengukir prestasi nasional. Inovasi bertajuk Aplikasi KUESTA tersebut dianugerahi Piagam Penghargaan Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), sebagai Aplikasi Digital Pertama untuk Penanganan dan Edukasi Kesehatan Kusta di Indonesia, Kamis (16/7/2026).
Inovasi digital bidang kesehatan yang dikembangkan oleh tim dosen dan peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) di bawah pimpinan Dr. dr. Dhelya Widasmara, Sp.DVE., Subsp. DT, FINSDV, FAADV berhasil mengukir prestasi nasional.
Aplikasi KUESTA besutan FK UB tersebut resmi dianugerahi Piagam Penghargaan Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Aplikasi Digital Pertama untuk Penanganan dan Edukasi Kesehatan Kusta di Indonesia.
Penyerahan penghargaan berlangsung di Gedung Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Penganugerahan ini menjadi pengakuan resmi atas terobosan teknologi KUESTA yang dirancang untuk mendukung deteksi dini, penanganan medis, hingga edukasi kesehatan kusta secara terpadu.
Pendiri MURI, Jaya Suprana, mengapresiasi tinggi nilai kemanusiaan yang melandasi pengembangan platform digital ini. Menurutnya, MURI mencatat rekor KUESTA bukan semata-mata karena kecanggihan teknologinya, melainkan atas besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat rentan.
“Di MURI, kami mencatat rekor bukan untuk sekadar menjadi nomor satu, melainkan untuk menginspirasi bahwa karya terbaik lahir dari cinta kepada sesama. KUESTA adalah bukti bahwa inovasi sejati bukanlah yang paling canggih, melainkan yang paling bermanfaat bagi yang membutuhkan,” ujar Jaya Suprana, Kamis (16/7/2026).
Jaya Suprana menyoroti bahwa kusta bukan sekadar persoalan medis, melainkan juga menyangkut stigma sosial yang masih melekat pada para penyintas. Kehadiran KUESTA membuktikan bahwa teknologi dapat memperluas akses edukasi sekaligus menghadirkan pendekatan pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi.
Solusi Edukasi Digital dan Pengikis Stigma Kusta
Dalam prosesi penganugerahan, Dr. dr. Dhelya Widasmara beserta tim pengembang memaparkan berbagai fitur unggulan, manfaat teknis, serta dampak klinis Aplikasi KUESTA bagi pasien maupun tenaga medis di lapangan.
Selain mengapresiasi dedikasi tim inovator, piagam MURI ini diharapkan semakin meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya pengobatan tepat kusta serta menghapus stigma negatif terhadap para penderita melalui informasi tepercaya yang mudah diakses.
Ke depan, Aplikasi KUESTA diproyeksikan dapat diadopsi secara masif oleh puskesmas, rumah sakit, dan kader kesehatan—khususnya di wilayah-wilayah endemis kusta di Indonesia. Tim FK UB juga tengah menyiapkan pengembangan fitur pemantauan berkala dan teleconsultation (telekonsultasi) pasien.
Bagi FK UB, raihan Rekor MURI ini semakin memperkuat komitmen civitas akademika dalam melahirkan riset dan pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan nyata. Langkah ini sekaligus mendukung ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Goal 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. (M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




