MALANG POST – Mengenal kehidupan satwa di kawasan bersalju, kini tak harus terbang jauh ke Kutub Utara maupun pegunungan tinggi. Pengalaman unik tersebut dapat dirasakan langsung di Zona Winter Museum Satwa, Jawa Timur Park (JTP) 2, Kota Batu, yang menyajikan diorama interaktif dan sarat nilai edukasi adaptasi fauna beriklim ekstrem, Rabu (29/7/2026).
Mengenal kehidupan satwa di kawasan bersalju kini tak harus terbang jauh ke Kutub Utara atau pegunungan tinggi. Pengalaman tersebut bisa dirasakan langsung di Zona Winter Museum Satwa, Jawa Timur Park (JTP) 2, Kota Batu.
Zona edukasi ini menjadi salah satu area favorit pengunjung karena menghadirkan gambaran kehidupan satwa yang hidup di kawasan Arktik dan pegunungan bersuhu ekstrem melalui diorama yang dibuat sangat realistis. Konsep tersebut menjadikan proses belajar terasa lebih menarik sekaligus mudah dipahami oleh anak-anak, pelajar, hingga wisatawan umum.
Memasuki Zona Winter, suasana ruangan langsung berubah. Hamparan salju berwarna putih mendominasi ruangan, dipadukan dengan penataan koleksi satwa dalam berbagai pose alami. Pengunjung seolah diajak berpindah ke wilayah kutub maupun pegunungan bersalju yang menjadi habitat asli satwa-satwa tersebut.
Setiap diorama tidak hanya menampilkan koleksi satwa awetan, tetapi juga menggambarkan bagaimana mereka berburu, beraktivitas, hingga bertahan hidup di lingkungan dengan suhu yang sangat rendah. Melalui penyajian visual tersebut, pengunjung diajak memahami cara setiap spesies beradaptasi terhadap habitatnya.
General Manager Jawa Timur Park 2, Agus Mulyanto, menyatakan bahwa salah satu koleksi yang paling banyak menyita perhatian adalah Polar Bear (beruang kutub). Predator darat terbesar di kawasan Arktik itu ditampilkan sedang mengamati Seal (anjing laut) yang menjadi mangsa utamanya.

ZONA WINTER: Wisatawa bisa mengenal kehidupan satwa di kawasan bersalju melalui Zona Winter Museum Satwa Jatim Park 2. (Foto: Jatim Park for Malang Post)
“Melalui diorama tersebut, pengunjung dapat mempelajari hubungan predator dan mangsa dalam ekosistem kutub. Informasi yang tersedia juga menjelaskan bagaimana lapisan lemak yang tebal serta bulu berwarna putih membantu beruang kutub bertahan dari suhu ekstrem sekaligus menjadi kamuflase saat berburu di atas hamparan es,” papar Agus, Rabu (29/7/2026).
Petualangan Mengenal Caribou hingga Snow Leopard
Perjalanan berlanjut menuju koleksi Caribou, rusa khas Arktik yang dikenal mampu bermigrasi hingga ribuan kilometer setiap tahun demi mencari sumber makanan. Pengunjung juga dapat mengenal bentuk kaki Caribou yang lebar sehingga memudahkannya berjalan di atas salju maupun tanah yang lunak.
Tak jauh dari sana, terdapat diorama Snow Leopard (macan tutul salju) yang hidup di kawasan pegunungan tinggi Asia. Satwa ini memiliki bulu sangat tebal, ekor panjang untuk menjaga keseimbangan, serta kemampuan memanjat dan melompat di medan berbatu.
“Melalui visualisasi habitat yang menyerupai kondisi aslinya, pengunjung dapat memahami bahwa setiap bagian tubuh Snow Leopard memiliki fungsi penting untuk menunjang kehidupannya di alam liar,” tuturnya.
Zona Winter juga menghadirkan koleksi Muskox, mamalia berbulu panjang penghuni tundra Arktik. Selain mampu bertahan pada suhu yang sangat rendah berkat lapisan bulunya yang tebal, Muskox memiliki perilaku sosial yang unik. Saat menghadapi ancaman predator, mereka membentuk lingkaran untuk melindungi anak-anaknya.
Penyajian informasi tersebut memperlihatkan bahwa strategi bertahan hidup satwa tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik, melainkan juga kerja sama dalam kelompok.
Koleksi lain yang tak kalah menarik adalah Harimau Siberia (Siberian Tiger), subspesies harimau terbesar di dunia yang berasal dari hutan bersalju di Rusia bagian timur. Dibandingkan harimau lainnya, Harimau Siberia memiliki bulu yang lebih tebal sehingga mampu bertahan pada suhu dingin yang ekstrem.
Pembelajaran Adaptasi Makhluk Hidup dan Konservasi
Lebih dari sekadar memamerkan satwa dari berbagai belahan dunia, Zona Winter mengangkat konsep edukasi mengenai adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungan. Mulai dari perubahan bentuk tubuh, ketebalan bulu, pola migrasi, hingga perilaku sosial, seluruh materi disampaikan melalui visual yang interaktif.
Keberadaan diorama yang realistis membuat proses belajar menjadi lebih hidup. Pengunjung tidak hanya membaca informasi pada panel edukasi, tetapi juga dapat langsung menghubungkan fakta-fakta sains tersebut dengan visual habitat yang ditampilkan.
Agus menyampaikan bahwa Zona Winter dikembangkan sebagai ruang pembelajaran yang memperkenalkan keanekaragaman satwa dari wilayah beriklim ekstrem secara komprehensif.
“Melalui Zona Winter, kami ingin memperlihatkan bahwa setiap satwa memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa untuk bertahan hidup. Kami berharap pengunjung tidak hanya mengagumi keindahan koleksi yang ditampilkan, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kelestarian habitat agar spesies-spesies tersebut tetap dapat hidup di alam liar,” ujarnya.
Menurut Agus, perpaduan diorama realistis, koleksi satwa dari kawasan Arktik dan pegunungan tinggi, serta penyampaian informasi yang rinci menjadikan Zona Winter sebagai salah satu destinasi wisata edukasi unggulan di Museum Satwa JTP 2.
Tak hanya memberikan pengalaman visual yang berbeda, zona ini juga mengajak pengunjung memahami pentingnya menjaga kelestarian habitat satwa liar, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman terhadap ekosistem kutub.
Bagi keluarga, pelajar, maupun pencinta satwa, Zona Winter menjadi pilihan menarik untuk menikmati wisata edukasi yang memadukan ilmu pengetahuan dengan rekreasi. Pengunjung dapat memperoleh informasi terbaru mengenai jam operasional, promo, dan berbagai aktivitas di Museum Satwa JTP 2 melalui akun Instagram resmi @jatimparkdua.
Sementara itu, pembelian tiket dapat dilakukan secara daring melalui situs resmi www.jtp.id, sehingga perjalanan menjelajahi kehidupan satwa daerah bersalju dapat direncanakan dengan lebih praktis dan nyaman. (Ananto Wibowo)




