MALANG POST – Menjadi tua itu pasti. Tapi menjadi tua dengan bahagia, sehat, dan bermartabat di sebuah kota, itu urusan lain. Itu urusan kepedulian pemerintahnya.
Di Kota Malang, jumlah warga lanjut usia (lansia) terus merangkak naik. Mereka bukan lagi sekadar pelengkap statistik kependudukan, melainkan kelompok yang hak-hak dasarnya wajib dipenuhi oleh negara.
Komitmen dan rapor penanganan para sesepuh kota ini, dibedah secara mendalam dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Jumat (5/6/2026).
Pemerintah Kota Malang mengklaim telah mengunci anggaran dan program khusus untuk mereka. Bahkan, payung hukumnya sudah telanjur kokoh sejak satu dekade lalu: Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 Tahun 2015.
Kepala Bappeda Kota Malang, Dwi Rahayu, menegaskan bahwa perhatian kota ini kepada lansia tidak sekadar pemanis di atas kertas regulasi.
“Komitmen itu mewujud dalam program janji kerja konkret. Ada Ngalam Ngopeni, ada Ngalam Santun. Isu-isu strategis mengenai lansia pun sudah kita kunci di dalam dokumen RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah),” ujar Dwi Rahayu.
Malang bahkan punya tradisi unik yang jarang dimiliki daerah lain di Indonesia. Yaitu Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) Tematik Lansia.
Tradisi urun rembuk ini sudah konsisten berjalan sejak tahun 2019. Di forum itulah para lansia diberi panggung untuk berbicara, mengusulkan program, dan menagih hak fasilitas publik yang ramah bagi fisik mereka yang mulai senja.
Kisah 129 Lansia Terlantar dan Jaminan BPJS 100 Persen
Lalu bagaimana eksekusinya di lapangan? Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang menjadi motor utamanya.
Penyuluh Sosial Muda Dinsos P3AP2KB Kota Malang, Heri Wiyono, membeberkan target besarnya: mewujudkan lansia Malang yang sehat, mandiri, aktif produktif, dan tetap bermartabat.
Programnya bermacam-macam. Mulai dari yang sifatnya preventif-kesehatan seperti senam lansia. “Dulu senam ini hanya ada di tingkat kelurahan saja. Sekarang sudah berbiak, berkembang pesat sampai ke tingkat RW,” kata Heri.
Di sektor perlindungan sosial, angkanya lebih mentereng. Jangkauan BPJS Kesehatan untuk lansia yang ber-KTP Kota Malang diklaim sudah menyentuh angka mutlak: 100 persen. Gratis. Ditanggung pemerintah kota. Bantuan sosial tunai juga terus mengalir.
Ada lagi satu program yang sangat menyentuh kemanusiaan: Program Rantang Kasih. Ini adalah gerakan mengantarkan makanan sehat siap saji langsung ke pintu rumah para lansia yang membutuhkan.
“Fokus kami adalah mereka yang rentan. Berdasarkan data kami, dari total 343 lansia di Kota Malang, saat ini sebanyak 129 lansia terlantar telah berhasil kami jangkau dan kami penuhi kebutuhan hidupnya secara rutin,” urai Heri.
Jangan Dianaktirikan oleh Isu Perempuan dan Anak
Meski program berseliweran, legislatif mengingatkan agar pemerintah tidak cepat berpuas diri. Masih ada lubang besar yang harus ditambal.
Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo, menjatuhkan catatan kritisnya. Menurut Ginanjar, kehadiran Pemkot Malang harus dirasakan secara utuh secara menyeluruh.
Meliputi tiga pilar utama: jaminan kesehatan yang tuntas, perlindungan ekonomi yang kokoh, hingga pembangunan fasilitas publik—seperti trotoar dan taman—yang benar-benar ramah untuk langkah kaki lansia.
Ginanjar melihat ada kecenderungan ketimpangan arus utama dalam ruang diskusi publik di pemerintahan.
“Selama ini, kalau kita rapat atau diskusi, fokus kita selalu tersedot habis ke urusan perempuan dan anak saja. Isu itu seolah mendominasi. Akibatnya, penekanan terhadap hak-hak lansia agak terpinggirkan,” sentil Ginanjar.
Dewan mendesak agar Dinsos P3AP2KB sebagai leading sector melipatgandakan energinya. Kampanye dan eksekusi hak lansia harus digencarkan secara masif. Tidak boleh lagi ada kesan bahwa urusan lansia adalah urusan nomor dua setelah urusan anak-anak.
Kota yang hebat bukan hanya kota yang mampu membangun gedung pencakar langit atau memanjakan kaum mudanya dengan investasi properti.
Kota yang hebat—dan beradab—adalah kota yang tahu cara merawat dan memuliakan warganya yang telah selesai melintasi masa muda.
Malang sudah punya modal Rantang Kasih dan jaminan BPJS, kini tinggal bagaimana dewan dan pemkot memastikan agar 129 lansia terlantar yang digandeng hari ini, benar-benar menjadi akhir dari cerita pilu kemiskinan di masa tua. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




