MALANG POST – Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menuntut seluruh perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu, untuk meninggalkan cara kerja sektoral yang lamban. Dalam rapat koordinasi di Ruang Rapat Wakil Wali Kota pada Kamis (4/6/2026), Heli menegaskan bahwa implementasi inovasi Cobek Mbatu Sae harus menjadi senjata utama untuk melahirkan kebijakan berbasis data yang cepat, tepat sasaran, dan berdampak langsung pada penguatan sektor pertanian serta pariwisata Kota Batu.
Zaman sudah berubah. Tantangan pembangunan Kota Batu makin rumit. Maka, cara kerja birokrasi tidak boleh lagi pakai lagu lama: lambat dan jalan sendiri-sendiri.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, tahu betul penyakit itu.
Kamis hari ini (4/6/2026), pria yang akrab disapa Mas Heli itu mengumpulkan anak buahnya. Rapat koordinasi di ruang kerjanya. Agendanya serius: membahas implementasi sebuah sistem bernama Cobek Mbatu Sae.
Namanya unik. Khas Batu. Tapi misinya sangat modern: mengintegrasikan data untuk mengejar kecepatan respons.
Bagi Heli, kunci pelayanan publik hari ini cuma satu. Respons cepat. Ada gejala masalah di bawah, langsung sikat.
“Setiap gejala yang muncul harus kita respons secara cepat, terstruktur, dan berbasis data,” tegas Heli.
Dia melihat, problem pemerintah saat ini bukan lagi kekurangan informasi. Data itu melimpah.

PIMPIN RAKOR: Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto saat memimpin rakor implementasi Cobek Mbatu SAE, ia mendorong kepala OPD Pemkot Batu untuk membuat kebijakan berbasis data. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Masalah utamanya justru pada eksekusi. Bagaimana menerjemahkan gunungan data itu menjadi tindakan konkret di lapangan. Di situ seninya. Di situ sering kali macetnya.
Kenapa data ini jadi begitu krusial bagi Batu?
Lihat saja dua motor utama ekonomi kota dingin ini: pertanian dan pariwisata.
Dua sektor ini sensitif. Saling mengikat. Kalau pertanian terguncang, pariwisata bisa ikut redup. Begitupun sebaliknya.
Urusan sepenting ini jelas tidak bisa diserahkan ke satu dinas sendirian. Harus keroyokan. Lintas perangkat daerah.
Lewat Cobek Mbatu Sae inilah integrasi itu dipaksakan. Semua data, potensi masalah, hingga riak-riak di lapangan harus terdeteksi lebih dini.
Istilah kerennya: early warning system.
Jadi, pemerintah punya waktu yang cukup untuk menyiapkan payung sebelum hujan. Menyiapkan solusi sebelum masalahnya telanjur membesar.
Heli mengingatkan, ego sektoral harus dibuang ke jurang. Jangan ada lagi dinas yang merasa menjadi menara gading. Arah pembangunan kota ini harus satu frekuensi.
Sebab itu, dia mewanti-wanti anak buahnya. Rapat jangan hanya jadi ajang kumpul-kumpul. Identifikasi masalah jangan cuma berakhir di atas kertas laporan yang berdebu. Rekomendasi harus menjadi aksi.
“Yang terpenting adalah tindak lanjutnya. Setiap rekomendasi harus bisa diterjemahkan menjadi langkah konkret,” katanya.
Nada bicaranya tegas. Dia ingin masyarakat langsung merasakan manfaatnya. Bukan sekadar mendengar janji di berita.
Heli ingin Pemkot Batu lebih adaptif. Lebih lincah membaca gerak lapangan. Hanya dengan cara itu, program pembangunan bisa tepat sasaran.
Ujungnya jelas: petani Batu tersenyum, wisatawan nyaman, dan daya saing kota ini tetap berada di kasta tertinggi.
Tinggal kita tunggu, seberapa cepat “Cobek” ini bisa mengulek data menjadi kebijakan yang lezat bagi warga Batu. (Ananto Wibowo/Malang Post)




