Pelantikan Profesi Insinyur dengan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Wisuda ke 133 di Graha ITS. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Dunia akademik dan keinsinyuran tanah air, mencatatkan tinta emas melalui prestasi gemilang, Ir. Nono Agus Santoso, S.Si., M.T.
Alumnus Program Studi Fisika Universitas Negeri Malang (UM) ini, resmi dinobatkan sebagai insinyur pertama di bidang Agrogeofisika di Indonesia. Setelah menuntaskan Program Profesi Insinyur di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Capaian ini menjadi tonggak baru dalam integrasi sains dasar dengan sektor pertanian modern, serta pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Nono Agus Santoso meraih pengakuan tersebut, atas dedikasinya dalam memadukan kompetensi geofisika terapan dengan kebutuhan krusial sektor agrikultur.
Fokusnya pada Agrogeofisika, membuka dimensi baru bagi para praktisi dalam memetakan potensi bawah permukaan tanah guna mendukung kedaulatan pangan nasional.
Sebagai alumnus yang lahir dari rahim disiplin Fisika UM, Nono mengaku, fondasi keilmuan yang kuat menjadi modal utama dalam pengembangan pemikiran lintas disiplin.

PENERAPAN ILMU: Praktik Keinsinyuran di PT Great Giant Pineapple Lampung. (Foto: Istimewa)
Baginya, fisika bukan sekadar rumus di atas kertas. Melainkan alat analisis untuk memecahkan masalah kompleks di lapangan.
“Fisika mengajarkan cara berpikir sistematis dan berbasis data. Dari dasar logika itulah, saya kemudian mengembangkan pendekatan geofisika yang disesuaikan secara spesifik untuk kebutuhan pertanian, khususnya pemetaan air tanah dan karakterisasi lahan,” ujar Ir. Nono Agus Santoso saat dihubungi Malang Post.
Mengenal Agrogeofisika: Solusi Modern Sektor Pertanian
Agrogeofisika merupakan disiplin ilmu baru yang mengintegrasikan berbagai metode geofisika. Seperti geolistrik, magnetik dan seismik refleksi, untuk menganalisis kondisi bawah permukaan lahan pertanian.
Metode ini sangat efektif untuk menentukan titik lokasi air tanah yang akurat, memetakan tingkat kesuburan lahan, hingga merancang efisiensi sistem irigasi berbasis data spasial.
Dalam praktiknya, pendekatan yang dikembangkan Nono telah diapresiasi oleh banyak sektor perkebunan skala besar.

PENERAPAN ILMU: Praktik Keinsinyuran di PT Great Giant Pineapple Lampung. (Foto: Istimewa)
Teknologi ini membantu menentukan titik pengeboran sumur bor dengan presisi tinggi, sehingga secara signifikan mengurangi risiko eksplorasi gagal yang seringkali memakan biaya besar.
Jembatan Antara Sains dan Industri Pangan
Capaian Ir. Nono Agus Santoso ini, mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi dan praktisi. Hal ini dinilai mampu menjembatani celah yang selama ini ada antara sains murni, dengan kebutuhan industri pangan serta lingkungan.
Agrogeofisika hadir sebagai jawaban atas tantangan perubahan iklim yang mengharuskan sektor pertanian dikelola secara lebih ilmiah dan terukur.
Dengan pencapaian bersejarah ini, Ir. Nono Agus Santoso kini tidak hanya dikenal sebagai dosen dan praktisi geofisika kawakan. Tetapi juga sebagai pionir lahirnya bidang Agrogeofisika di Indonesia.
Keberhasilannya membuktikan bahwa lulusan Universitas Negeri Malang (UM), mampu bersaing dan menjadi motor inovasi di tingkat nasional.
Diharapkan, langkah Nono ini dapat memicu lahirnya cabang-cabang ilmu terapan lainnya yang mampu memberikan kontribusi langsung bagi kemajuan ekonomi rakyat.
“Harapan saya, Agrogeofisika bisa menjadi standar baru dalam perencanaan lahan pertanian di Indonesia. Agar kita tidak lagi menebak-nebak potensi alam, melainkan membacanya dengan data,” pungkasnya. (*/Ra Indrata)




