MALANG POST – Kiprah UMKM Kota Batu kembali mencuri perhatian pusat. Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang UMKM, Ubaidillah Amin, melakukan kunjungan kerja ke CV Bunga Melati di Jalan Pattimura, Kota Batu, kemarin
Perusahaan yang bergerak di bidang pembibitan, tanaman hias dan jasa lanskap itu menjadi sorotan karena sukses menembus pasar internasional melalui produk unggulannya, Creative Kokedama. Produk seni tanam berbentuk bola dari sabut kelapa tersebut bahkan telah mengantongi kontrak eksklusif dengan mitra di Jepang sejak awal 2023 hingga 2026.
Dalam kunjungannya, Gus Ubaid sapaan akrab Ubaidillah Amin didampingi sejumlah pejabat Kementerian Keuangan wilayah Jawa Timur. Di antaranya Kepala Perwakilan Kemenkeu Jatim Max Darmawan, Kepala Kanwil DJP Jatim II Arridel Mindra, Kepala KPP Pratama Batu Bangkit Bina Aji, serta Kepala Bea Cukai Malang J. Pandores.
Kepala Bea Cukai Malang J. Pandores menegaskan, pihaknya berkomitmen memperkuat ekonomi daerah melalui program Klinik Ekspor. Program tersebut menjadi wadah asistensi bagi pelaku UMKM di Malang Raya agar mampu menembus pasar luar negeri.
“Klinik Ekspor adalah wadah pendampingan hingga produk benar-benar terkirim ke luar negeri. Kami siap memberikan asistensi berkelanjutan agar produk lokal punya daya saing global,” ujarnya.
Senada, Max Darmawan menyebut Kemenkeu terus membangun ekosistem agar UMKM Jawa Timur bisa naik kelas. Mulai dari sisi pembiayaan, perpajakan, hingga fasilitasi ekspor.
Sementara itu, Pemilik CV Bunga Melati, Dwi Lili Indayani menceritakan perjalanan panjang usahanya yang dirintis sejak 1986. Berbekal pendidikan pertanian yang ditempuh di luar negeri, ia memilih pulang dan mengembangkan usaha tanaman hias dengan sentuhan inovasi.

KOKEDAMA: Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang UMKM, Ubaidilah Amin, saat melakukan kunjungan ke CV Bunga Melati, ia mendorong produk UMKM Kokedama bisa tembus pasar dunia. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Creative Kokedama menjadi salah satu produk andalan. Teknik ini memanfaatkan media sabut kelapa yang dibentuk menyerupai bola sebagai pengganti pot. Selain unik, konsep tersebut dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai estetika tinggi.
“Kami memproduksi dua jenis kokedama. Untuk pasar ekspor, kami gunakan bahan rotan alami 100 persen tanpa plastik. Sedangkan untuk pasar domestik menggunakan rotan sintetis karena lebih diminati konsumen lokal,” jelas Lili.
Menurutnya, pasar Jepang memiliki standar ketat, terutama terkait bahan ramah lingkungan dan kualitas produk. Karena itu, proses produksi dilakukan dengan seleksi bahan yang ketat dan pengawasan kualitas yang konsisten.
Gus Ubaid memberikan apresiasi atas konsistensi dan inovasi yang dilakukan CV Bunga Melati. Ia berharap keberhasilan menembus Jepang bisa menjadi pintu pembuka ke negara lainnya.
“Semoga tidak hanya Jepang, tapi bisa merambah negara lain. Kembangkan terus inovasinya dan perkuat orientasi ekspor,” pesannya.
Sebagai dukungan nyata, ia berjanji membantu mempromosikan produk kokedama dalam berbagai agenda besar agar bisa dijadikan suvenir resmi. Ia juga mendorong pemanfaatan pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) guna memperluas kapasitas produksi dan pasar.
Tak hanya itu, Gus Ubaid juga berharap produk UMKM unggulan seperti Creative Kokedama bisa dipajang di Malang Creative Center (MCC) sebagai showroom bersama produk-produk kreatif daerah.
Kunjungan tersebut ditutup dengan peninjauan langsung proses produksi kokedama di area pembibitan. Gus Ubaid melihat secara detail tahapan pembuatan, mulai dari pembentukan media tanam hingga pengemasan produk siap kirim.
Kehadiran Stafsus Menkeu ini menjadi suntikan semangat bagi pelaku UMKM di Kota Batu. Bahwa dari daerah, produk kreatif berbasis lingkungan pun mampu bersaing dan mendapat tempat di pasar internasional. (Ananto Wibowo)




