MALANG POST – Di saat awal tahun sering kali dimaknai publik sebagai jeda singkat dari rutinitas dan hingar-bingar perayaan. Namun, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru memilih langkah berbeda.
Awal tahun dijadikan momentum krusial untuk menakar arah bangsa melalui diskusi bertajuk “Refleksi Awal Tahun: Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”.
Bertempat di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Senin (12/1/2026). Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., membuka forum dengan perspektif yang tajam.
Ia menegaskan bahwa pemilihan waktu di awal tahun adalah strategi proaktif untuk menawarkan inovasi sejak dini. Baginya, narasi Indonesia Emas tidak boleh berhenti di podium politik, melainkan harus diuji secara akademis.
“Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak. Visi besar ini membutuhkan fondasi ilmiah yang kuat dan keberanian melakukan koreksi.”
“Diskusi ini kami arahkan agar tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi akan dirumuskan menjadi book chapter sebagai rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis,” tegas Gonda.
Diskusi semakin menghangat ketika Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan memberikan peringatan keras atau alarm bahaya terkait bonus demografi.
Ia menilai keberhasilan menuju 2045 sangat bergantung pada kemampuan negara membangun sumber daya manusia (SDM) dan kesehatan secara simultan. Tanpa prasyarat tersebut, impian menjadi negara maju hanyalah utopia.
“Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan serius, bonus demografi justru bisa berbalik menjadi ancaman atau bencana bagi pembangunan Indonesia Emas 2045.”
“Kita butuh tata kelola pemerintahan yang bersih serta efektif untuk menopang ini, bukan sekadar memanen jumlah penduduk usia produktif tanpa skill yang memadai,” ujar Luthfi.
Menyambung kekhawatiran tersebut, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam, M.Si., mengajak peserta menengok realitas di lapangan yang sering luput dari jargon pembangunan, yakni kemiskinan struktural. Ia membedah persoalan ini dari berbagai sisi yang lebih mikro dan menyentuh akar masalah.
“Kita masih menemui wajah kemiskinan struktural yang nyata. Ada kemiskinan agraria di mana petani tak lagi punya lahan, hingga kemiskinan urban.”
“Akibat lemahnya struktur industri yang memaksa masyarakat bergantung pada sektor informal. Ini adalah ‘pekerjaan rumah’ besar yang harus diselesaikan jika ingin bicara soal kemajuan,” kata Abdus Salam.
Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai elemen, mulai dari aktivis mahasiswa hingga pegiat literasi ini, ditutup dengan komitmen bersama untuk mengawal isu-isu strategis bangsa.
PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi peta jalan Indonesia masa depan.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




