Warek I UIN Malang, Drs. H. Basri, MA, Ph.D, didampingi para peserta dari berbagai negara membuka ICIED ke-10 yang digelar FITK UIN Malang. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
MALANG POST – Konferensi Internasional tentang Pengembangan Pendidikan Islam (ICIED) ke-10 telah memulai perjalanan penting untuk mengeksplorasi integrasi teknologi dan nilai-nilai ekoteologi dalam pendidikan yang impactful. Tema tahun ini menekankan pentingnya menciptakan masa depan yang berkelanjutan melalui perpaduan harmonis antara alat digital inovatif dan prinsip-prinsip teologis.
ICIED ke-10 dibuka Wakil Rektor (Warek) I UIN Maliki Malang, Drs. H. Basri, MA, Ph.D, mewakili Rektor UIN Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, Kamis (27/11/2025), di Aula Rektorat UIN Malang lantai 5. Dalam sambutannya, Warek I Basri mengenalkan tentang kampus UIN Malang, mulai jumlah mahasiswa, ranking UIN Malang di tingkat internasional dan nasional, serta pembangunan kampus 3 di Kota Batu.
Basri optimistis, 4 atau 5 tahun mendatang UIN Malang akan mampu mengalahkan Al Azhar. Seusai memberikan sambutan, Warek I Basri didampingi para utusan dari berbagai negara serta Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, M.M.A, menekan tombol sirene tanda ICIED ke-10 dimulai.
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Prof. Muhammad Walid, mengungkapkan fungsi kegiatan konferensi.
“Konferensi ini berfungsi sebagai platform bagi akademisi dan praktisi pendidikan untuk berbagi wawasan mengenai perbaikan praktik pendidikan, bahwa integrasi teknologi dapat meningkatkan pengalaman belajar, membuatnya lebih aksesibel dan efektif bagi pendidik dan mahasiswa,” ungkapnya.

Para peserta menyimak sambutan Warek I UIN Malang. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
ICIED ke-10 dirancang untuk menyediakan arena komprehensif, yaitu para peserta dapat mendalami berbagai topik seputar pendidikan yang impactful. Sesi-sesi akan membahas strategi inovatif yang memanfaatkan alat digital sambil mengintegrasikan nilai-nilai ekoteologi dalam kurikulum.
“Kami percaya bahwa dengan mengadopsi teknologi dalam kerangka etika, kami dapat membimbing mahasiswa menuju cara hidup yang lebih sadar dan berkelanjutan,” tambah Prof. Walid.
Peserta konferensi ini berasal dari berbagai universitas di berbagai negara, termasuk Brunei Darussalam, Australia, Jepang, dan beberapa universitas ternama di dalam negeri. Keberagaman ini menciptakan suasana kolaboratif yang kaya di mana ide-ide inovatif dapat dipertukarkan dan diperluas.
Beberapa topik kunci yang akan dibahas selama konferensi meliputi:
Platform Pembelajaran Digital: Meneliti bagaimana teknologi dapat memfasilitasi pembelajaran dan memungkinkan akses lebih besar ke sumber daya pendidikan.
Ekoteologi dalam Pendidikan: Diskusi tentang peran nilai-nilai teologis dalam mempromosikan kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan dalam kerangka pendidikan.
Pengembangan Holistik:Fokus pada integrasi pengembangan karakter dan pendidikan etis sebagai bagian dari perjalanan akademik.
Di akhir sesi, akan diselenggarakan penghargaan dalam tiga kategori, yaitu best paper, best speake, dan photo exhibition (dengan peserta: 1. Azharotunnafi, M.Pd., 2. Khoirul Mustofa, 3. Wirda Alfi Qumillaila).
Konferensi ini juga akan menampilkan berbagai inisiatif yang menyoroti komitmen FITK UIN Malang dalam meningkatkan layanan akademik melalui metode inovatif. Ini termasuk presentasi pencapaian utama dari fakultas, yang menunjukkan keterlibatan masyarakat, prestasi mahasiswa, dan upaya kolaboratif.
“ICIED ke-10 bertujuan tidak hanya untuk mendiskusikan ide, tetapi juga untuk menunjukkan pencapaian komunitas akademik kami dalam memperbaiki pendidikan melalui integrasi teknologi modern dan nilai-nilai tradisional,” ujar Prof. Walid.
Dengan menyelenggarakan ICIED ke-10, FITK UIN Malang memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam inovasi pendidikan, menginspirasi fakultas lain untuk meningkatkan kualitas akademik melalui solusi berbasis teknologi yang impactful.
Konferensi ini juga berfungsi untuk menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan pendidikan serta membentuk masa depan yang berkelanjutan yang mencerminkan nilai-nilai ekoteologi dan kehidupan yang bertanggung jawab.(*/Eka Nurcahyo)




