Connect with us

Hi, what are you looking for?

Malang Raya

Workshop Lingkungan Belajar Berkualitas Bagi Guru PAUD se Kabupaten Malang 

Peserta kegiatan Lingkungan Belajar Berkualitas bagi pendidikan anak usia dini Dinas Pendidikan Kabupaten Malang tahun 2021 saat berfoto bersama usai acara. (Foto: Slamet Mulyono)

Malang Post – Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, menggelar workshop. Temanya, Lingkungan Belajar Berkualitas. Pesertanya guru se Kabupaten Malang. Bertempat di Hotel YNO Kepanjen mulai 9-10 September 2021.

Dr Mohammad Muzaqi Msi, Kepala Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Jawa Timur menjelaskan. 

Baca Juga ----------------------------

Paud berkualitas dilihat dari dua hal: kualitas pengelolaan lembaga dan kualitas proses pembelajaran. Indikatornya, memiliki lingkungan belajar aman, nyaman, mampu memfasilitasi dan memberikan stimulasi pada pertumbuhan dan perkembangan anak. 

“Stimulasi pada aspek kognitif, bahasa dan literasi, sosial emosional, motorik kasar dan halus serta mampu menanamkan nilai-nilai agama dan budi pekerti dan perilaku hidup bersih sehat,” tukasnya.

Dr Moh Muzaqi M.Si, widyaprada ahli madya di BPPAUD dan Dikmas Jawa Timur.(Foto: Slamet Mulyono)

Cecep Lili, Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dinas Pendidikan Kabupaten Malang menjelaskan. Gerakan Paud berkualitas saat ini menjadi fokus penting di dunia pendidikan.

Paud berkualitas, sangat berguna. Mendukung lahirnya generasi emas bangsa. Pendidikan dan pengasuhan anak usia dini, yang berkualitas menjadi investasi penting bagi bangsa Indonesia. Agar generasi penerus mampu bersaing dengan negara lain. Lingkungan belajar yang berkualitas, salah satu elemen penting.

Kualitas dimaksud adalah: Kualitas struktural (terkait dengan ketersediaan sarana prasarana dan pengaturan lingkungan belajar). Kualitas proses pembelajaran dan Beberapa faktor kunci yang menunjang hadirnya lingkungan belajar berkualitas. 

Kualitas lingkungan dan alat pembelajaran yang baik. Adanya interaksi guru dan murid, pembelajaran yang berpusat pada anak, keterlibatan keluarga dan masyarakat, kondisi lingkungan yang inklusif, pendekatan bermain dalam belajar dan kualitas guru serta tenaga kependidikan.

“Kondisi sekarang ini, apalagi pandemi, bisa dikatakan ketercapaian lingkungan belajar kualitas sangat minim. Oleh karena itu, perlu adanya gerakan untuk menciptakan lingkungan belajar berkualitas. Salah satunya melalui intervensi organisasi mitra,” ujar Cece Lili, kepada Malang Post, Jumat (10/9/2021).

PKG PAUD secara strategis dapat menjangkau hingga ke tingkat satuan sebagai perwujudan pendampingan berjenjang, berbasis ekosistem (dari pusat, daerah, kecamatan hingga ke satuan). Keaktifannya, diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan di masing-masing wilayah. PKG diharapkan dapat secara aktif menjadi wadah pendidik dan tenaga kependidikan untuk belajar bersama rekan sejawatnya. Utamanya dalam memahami hakikat lingkungan belajar berkualitas.

Harapannya setelah dari workshop ini diharapkan para Ketua PKG yang menjadi peserta wajib menularkan ke semua Lembaga di Kecamatan masing-masing. Tentang pemahaman konsep serta implementasi lingkungan belajar berkualitas. 

“Mohon PKG yang ada sekarang jangan memandang, apakah dari KB/SPS/TPA atau dari TK. Yang penting  adalah PAUD menjadi satu kesatuan langkah dalam upaya menciptakan layanan  

PAUD Berkualitas demi anak bangsa,”pungkasnya.

“Saat ini masih ada pendidik yang mindsetnya melihat hasil belajar, hanya dari aspek akademik kognitif semata. Sehingga metode pembelajarannya cenderung konvensional dan instruksional,” ujar Dr Moh Muzaqi M.Si

Selain itu, juga mindset orang tua yang melihat ukuran hasil belajar adalah anak bisa calistung. Padahal proses pembelajarannya tidak memperhatikan prinsip perkembangan dan karakter anak. Langsung diinstruksikan dengan angka dan huruf. Ini akan menyebabkan anak bosan dan indikator perkembangannya terganggu.

“Ini juga menjadi permasalahan. Karena selama ini, peraturan dan kebijakan yang dibuat hanya mengatur tentang kewajiban pendidik. Tanpa mengatur hak pendidik. Misalnya UU menyaratkan pendidik PAUD harus S1. Tapi tidak membahas berapa besar hak kesejahteraan yang diterima jika sudah S1,” tegas Muzaqi. (yan)

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

headline

Malang Post — Beredarnya video jajaran Pemkot Malang bersepeda dan diduga memaksa memasuki Pantai Kondang Merak yang tutup, viral di media sosial. Kejadian berlangsung Minggu...

Pendidikan

Malang Post — Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang memperpanjang waktu penerimaan mahasiswa baru hingga 30 September 2021 mendatang. Kabar perpanjangan waktu penerimaan mahasiswa baru ITN Malang...

Pendidikan

Malang Post — Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menyampaikan kebijakan di sektor pertanian harus memiliki sudut pandang agribisnis policy. Dinilai sangat penting, utamanya...

Malang Raya

Malang Post – Dalam upaya mendukung Pemerintah memutus mata rantai penuebaran Covid 19, Kodim 0833/Kota Malang menggelar serbuan Vaksinasi Dosis 2, bertempat di gedung...

Pendidikan

Malang Post – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, terus menggeber kerjasama di berbagai bidang. Kali ini UIN Malang melebarkan sayapnya melalui...

Malang Raya

Malang Post – Pemkab Malang terus berupaya agar produk lokal go Internasional. Hal ini dilakukan untuk menggenjot penjualan produk lokal. Bupati Malang Drs HM...

Kriminal

Malang Post – Pelaku curanmor terus beraksi mencari sasaran di Kota Malang. Kali ini Jumat  (17/9/2021)  pelaku beraksi di depan warung Soto Cak Son Jl ...

headline

Malang Post – Satuan Reskrim Polresta Malang Kota, Senin (20/9/2021) siang, merilis hasil penyelidikan persoalan fetis mukena yang sempat viral beberapa saat lalu.  Didatangkan...