Connect with us

Hi, what are you looking for?

headline

Milenial Mau Nikah, Baca Tips Doktor UIN Maliki Ini

Peserta Pembinaan Keluarga Sakinah Bagi Usia Pra Nikah saat menyimak penyampaian Dr Farudatus Suhadak. (istimewa)

Malang-Post – Edukasi pra nikah penting dilakukan. Mengingat pernikahan bukan sekedar menyatukan dua individu yang berbeda. Tapi menyatukan dua keluarga besar yang penuh dinamika karakternya. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pun berperan aktif. 

Kali ini menugaskan dosen sekaligus Ketua Unit BK2S Fakultas Syariah UIN Maliki, Dr Faridatus Suhadak M.HI. Hadir sebagai pemateri dalam Premarital Counseling yang digelar Pemkot Malang.

Baca Juga ----------------------------

Ini upaya mengedukasi kalangan millenial. Pemkot memfasilitasi ‘Pembinaan Keluarga Sakinah Bagi Usia Pra Nikah’. Diikuti 80 orang dari berbagai perwakilan organisasi, khususnya kalangan milenial.

Seperti disampaikan Humas UIN Malang, Selasa (15/6/2021). Acara tersebut digelar Senin (14/6/2021) pukul 08.00 di Hotel Sahid Montana, Kota Malang dan dihadiri Walikota Malang, Sutiaji dan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat dan Kemasyarakatan Kota Malang, Drs R Achmad Mabrur.

Pemateri lainnya adalah Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang, Drs Moh Rosyad MSi.

Dr Faridatus Suhadak menjelaskan definisi konseling pranikah, adalah: Bimbingan dan pendampingan yang diberikan oleh ahli. Untuk memberikan serangkaian pengetahuan dan keterampilan kepada Calon Pengantin (catin). Tentang perkawinan dan teknik penyelesaian konflik dalam rumah tangga. Untuk menciptakan keluarga Sakinnah, Mawadah dan Warahmah (SaMaRa).

“Terdapat empat tujuan konseling pranikah. Antara lain; memberikan pemahaman tentang persiapan perkawinan, memberikan penguatan dan peningkatan komitmen dalam membina rumah tangga, memberikan pengetahuan dan metode solving problem dan memberikan pemahaman pentingnya saling menerima dan strategi beradaptasi,” jelasnya.

Faridatus menambahkan. Terdapat enam tahapan konseling pra nikah. Pertama, persiapan. Kedua, membangun kedekatan dengan calon pengantin berupa kontak mata. Ketiga, psikologi. Keempat, ajakan berbicara. Kelima, mendengar. Keenam, memahami dan merespon.

Dalam mempersiapkan membina rumah tangga diperlukan keterbukaan, motivasi dan curahan hati kepada pasangan. Agar dapat memahami harapan, pemantapan komitmen, menerima serta memahami perbedaan calon pengantin. Dalam memilih pasangan, perlu memperhatikan empat faktor. Yaitu faktor harta, faktor keturunan, faktor fisik dan faktor agama.

“Tips menjemput jodoh terbaik yaitu introspeksi dan perbaiki kualitas diri, perluas pergaulan, buka hati dan pikiran. Tentukan kriteria suami dan isteri ideal, sebut dia dalam doa dan munajat, dan sambut kedatanganya menuju hari raya cinta (KUA),” tutur doktor konseling pranikah dari Fakultas Syariah UIN Maliki Malang ini. 

Walikota Malang, Drs H Sutiaji menuturkan, proses pernikahan tidak hanya sekadar menyalurkan biologis. Namun kedepan, mempunyai keturunan dan ikut membesarkan anak sebagai amanah titipan dari Tuhan.

“Perlu dipahami, proses menikah ini nantinya ada keturunan. Nikahnya enak, ngrumatnya (red, merawat) anak yang sulit,” bebernya.

Diakhir sesi, Sutiaji meminta dua peserta untuk maju kedepan sebagai sampling. Satu laki-laki dan satu perempuan. 

Masing-masing diberikan dua pilihan soal calon pendamping hidupnya kelak. Jawaban mereka beragam, sementara Walikota Malang mencoba mencomblangkan mereka berdua.

Sementara itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat dan Kemasyarakatan Kota Malang, Drs R Achmad Mabrur mengatakan. Pemerintah mempunyai peran ikut serta dalam menciptakan keluarga sakinah. Supaya permasalahan perceraian diminimalisir di kalangan millenial.

“Kita punya peran untuk membangun keluarga sakinah. Melihat problematika di masyarakat, ada perceraian bagaimana meminimalisir hal ini. Tentunya dengan pola-pola seperti ini,” ujar Achmad Mabrur

Pihaknya menjelaskan, jumlah antara perkawinan yang ada dan terfasilitasi oleh Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang hanya kisaran 500 pasangan. Jauh dari jumlah perkawinan sekitar 5.400 di tahun 2020.

Selebihnya, kegiatan pembinaan mandiri melalui majelis taklim yang ada, baik oleh masyarakat sendiri melalui organisasi. Pihaknya mensupport agar pemahaman meluas, dan tidak hanya berhenti pada peserta, namun harus berlanjut.

“Mereka bisa menyebarluaskan dan mengedukasi masyarakat yang lain,” pungkasnya. (yan)

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

News

Malang Post – Kepedulian sosial saat ini benar-benar diuji. Tak perlu jauh. Perhatian terhadap orang didekat kita. Mereka yang terpapar Covid. Pasti butuh support. Seperti...

headline

Malang Post – Program yang digencarkan Walikota Malang Drs H Sutiaji tentang lima strategi penanganan Covid mulai membuahkan hasil. Diantaranya Malpro (Malang beli produk lokal),...

Malang Raya

Malang Post – Setelah 37 tahun menjadi anggota polwan, Iptu Ni Made Seruni Marhaeni mengakhiri masa tugasnya di Polresta Malang Kota, pada usia 58 tahun....

Malang Raya

Malang Post – Ada yang menarik setelah rapat evaluasi Pemkot Malang dan Forpimcam Lowokwaru dan Blimbing. Walikota Malang Sutiaji dan peserta rakor mempraktekkan cara menggunakan...

Malang Raya

Malang Post –  Jumlah kasus Covid masih tinggi. Pemkot Malang pun menggelar rapat koordinasi dan evaluasi bersama Forum Koordinator Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam). Kali ini Kecamatan...

Malang Raya

Malang Post – Warga Kabupaten Malang menyambut antusias gelaran Vaksinasi Gotong Royong. Giat ini diselenggarakan IKA (Ikatan Keluarga Alumni) dan Keluarga Besar UB (Universitas Brawijaya),...

Pendidikan

Malang Post – Program akselerasi vaksinasi terus dilakukan pemerintah. Mulai dari tingkat pusat maupun di daerah. Tak ketinggalan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ikut andil melakukan...

headline

Malang Post – Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan pemimpin baru beberapa institusi pendidikan di bawah naungannya. Salah satunya Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang...