Connect with us

Hi, what are you looking for?

News

Diaspora Indonesia Sukses Bertani Di Negeri Paman Sam

Syarif Syaifulloh, pria asal Magelang, Jawa Tengah, yang sukses bertani di AS. (VOA)

Philadelphia – Salah seorang diaspora Indonesia sukses bertani di kota Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia adalah Syarif Syaifulloh, pria asal Magelang, Jawa Tengah . Ia lebih popular dengan panggilan Pak Tani Philadelphia. Julukan itu melekat pada Syarif karena dia adalah sosok fighter tangguh yang berhasil membudidayakan berbagai jenis tanaman sayur endemik Indonesia yang beriklim tropis di lahan pekarangannya di belahan bumi utara yang beriklim empat musim.

Bukan hal mudah bagi Syarif untuk bercocok tanam komuditi Indonesia di negeri orang. Tantangan, mulai dari iklim, jenis tanah, ketersediaan benih, dan keterbatasan lahan harus ia taklukkan. Namun berkat perjuangannya, hal tersebut bukan hal mustahil. Pekarangan yang luasnya tidak seberapa menjadi sumber makanan organik bergizi. Makanan dari kebun sendiri itu juga mengingatkan Syarif akan makanan khas Indonesia, sekaligus sebagai sarana memperkenalkan Indonesia kepada tetangga dan komunitasnya.

Syarif punya kebun seluas 80 meter persegi. Apa yang ia lakukan di lahan kecil ini mendapat perhatian dan pengakuan tidak saja dari diaspora Indonesia dan komunitas sekitar, tetapi juga dari para pejabat pemerintah dan bahkan kalangan akademia. Pada musim panas, kebun Pak Tani Philadelphia menjadi pilot project – proyek percontohan – dan model budidaya sayur mayur untuk mendongkrak ketahanan pangan keluarga.

Suami dari Hani White ini telah menetap di Philadelphia sejak 2001, setelah mencoba berbagai pekerjaan dalam pengembaraan di berbagai kota, dan negara bagian. Dalam wawancara dengan  VOA, Syarif mengaku dirinya merasa nyaman di Philadelphia “karena semuanya komplit, di mana gedung-gedung kuno serta situs-situs bersejarah dilestarikan, selain juga kemudahan transportasi kota,” ujarnya.

Bapak tiga anak ini  mengatakan bahwa di kota yang dijuluki “brotherly love” atau “kota cinta persaudaraan” ini bermukim cukup banyak diaspora Indonesia. “Di Philadelphia ini kan banyak orang Indonesia dan di sini kan markasnya orang Jawa, orang-orang dari berbagai daerah kumpul di sini. Jadi, makanan itu banyak, dan kalau kita mau ke mana-mana itu mudah banget. Kota Philadelphia itu sangat komplit, imigran dari berbagai negara itu tumplek di sini. Jadi gerakan saya itu lebih enak di sini. Saya nyaman di Philadelphia sampai saat ini.”

Syarif menceritakan kegiatan bertani yang ia geluti. Ia telah aktif bercock tanam selama hampir 10 tahun. Dia mengalami masa-masa sulit pada tahun pertama dan kedua, dan baru pada tahun ketiga hasil dari jerih payahnya mulai bisa dinikmati. Keberhasilan itu dicapai setelah melalui berbagai trial and error, coba-coba dan kegagalan, dan dari proses itu pula “saya banyak belajar karena saya berkebun secara otodidak tapi dengan konsisten membaca berbagai tulisan dan menonton banyak video tentang berkebun sebagai referensi,” terang Syarif.

Syarif tidak hanya senang berbagi hasil kebunnya dengan tetangga dan sesama, tetapi dia juga berusaha menularkan pengetahuannya berkebun kepada sesama diaspora, baik dari Indonesia maupun dari manca negara, dan bahkan secara luas kepada warga Amerika di komunitasnya.

“Kebetulan saya juga banyak mengajarkan berkebun kepada diaspora, dan kebetulan hasil-hasil panennya itu saya bagi-bagikan,” tambahnya.

Apa yang ia lakukan ini semata-mata dadasari oleh keinginan untuk memanfaatkan lahan kosong di pekarangan rumah. Menurutnya, mahalnya harga sayur-mayur dan keinginan menyediakan makanan sehat untuk keluarga juga menjadi faktor pendorong.

“Di Amerika itu sayur-mayur, terutama yang organik, harganya mahal, sedangkan ada lahan kosong, kenapa tidak dimanfaatkan? Jadi saya mencoba memanfaatkan lahan kosong itu.”

Pada awalnya, Syarif mencoba menanam sayur-sayuran khas Indonesia, termasuk brokoli, kacang panjang, sawi, kangkung, tomat, pare, oyong, bit, kunyit, dan serai. Namun, sekarang dia hanya memusatkan perhatian pada jenis-jenis sayuran berdasarkan kebutuhan yang sering dimakan oleh masyarakat Indonesia dan Amerika. “Misalnya, tahun lalu saya menanam kangkung, daun bawang, tomat ceri, cabe keriting, cabe rawit, pare, sawi hijau, dan bayam, sedangkan tahun ini saya akan menanam lebih banyak sayuran kale dan bayam, yang disukai oleh orang Amerika maupun Indonesia,” katanya.

 “Saya merasa puas dengan hasil yang melimpah dari lahan sempit di depan dan belakang rumah karena saya memanfaatkannya semaksimal mungkin dengan sistem tumpang sari dan hasilnya luar biasa banget. Hasilnya dibagi-bagikan ke masyarakat, misalnya ke gereja dan ke masjid,” imbuhnya.

Karena keberhasilannya berkebun dan keinginannya berbagai hasil maupun pengetahuan kepada sesama diaspora, pihak pemerintah kota Philadelphia memberi Syarif “hak garap” tanah publik seluas 500 meter persegi. Dia sempat menggarap tanah itu selama empat tahun sebelum akhirnya diserahkan kembali kepada pemerintah setelah dia mengalami cedera leher dalam suatu turnamen pencak silat.

Tidak hanya  memperkenalkan tanaman sayur endemik Indonesia, Syarif juga berusaha memperkenalkan makanan Indonesia kepada warga Amerika lainnya yang semuanya dibuat dari hasil panen dari kebunnya.

“Saya itu juga menanam yang orang Amerika suka, dan juga memperkenalkan kepada orang Amerika makanan Indonesia atau sayur Indonesia. Seperti kalau ada para mahasiswa berkunjung ke sini, mereka saya buatkan gado-gado dan pecel, segala macam di sini. Mereka suka juga dengan makanan Indonesia. Mereka ini kan tak kenal maka tak sayang.”

Memang, setiap musim panas, kebun Syarif menjadi seperti model, seperti “workshop,” bagi siswa SMA dan mahasiswa yang datang dan belajar sebagai bagian dari praktek lapangan yang ditugaskan oleh sekolah/universitas. “Rata-rata anak-anak, misalnya dari gereja-gereja, itu berasal dari berbagai negara, ada sekitar 20 sampai 40. Kemarin itu dari Philadelphia Praise Center, pendetanya Pak Aldo Siahaan, mengirim anak-anaknya ke sini,” tambahnya.

Meskipun hasil panen kebunnya melimpah, Syarif belum kepikiran  untuk menjual hasil panen sayur mayurnya.“Semua hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan dibagi-bagikan kepada sesama diaspora dan mereka yang memerlukan,” paparnya.

Bahkan Syarif merasa tidak tertarik untuk menjadikan kebunnya sebagai lahhan bisnis, walaupun sudah ada beberapa pihak yang mengajaknya bekerja sama. “Saya sudah berada pada zona aman (secara ekonomi), dan kalau saya bisa makan enak, maka saya ingin juga memberdayakan orang lain (ke tingkat itu),” pungkasnya.

Meski mapan secara ekonomi dan nyaman tinggal di negeri Paman Sam, hati kecil Syarif tetap ingin menghabiskan masa pensiun di tanah air, dan beraspirasi menjadi motivator bagi sesama warga negara di tempat tumpah darah yang dicintainya, Indonesia. (voa/anw)

Click to comment

Leave a Reply

You May Also Like

headline

AMEG – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), ikut membantu penanganan darurat bencana gempa bumi. Yang mengguncang sejumlah kota/kabupaten […]

Kriminal

AMEG – Pelaku jambret kalung emas 20 gram di Karangwidoro Dau, Minggu (11/4/2021) sempat terekam CCTV salah satu toko. Pelaku […]

Malang Raya

AMEG – Kepala Stasiun Geofisika Karangkates, Mamuri mengungkap, telah terjadi 11 kali gempa susulan, setelah gempa besar 6,1 SR, Sabtu […]

headline

AMEG – Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko mengatakan tingkat kesembuhan warga yang terinveksi Covid 19 menunjukkan grafik yang sangat bagus.  […]

Arema

AMEG – Pelatih caretaker Arema FC, Kuncoro berencana mengalihkan jam latihan para pemainnya. Selama bulan puasa, 15 April – 10 […]

headline

AMEG – Kawanan maling hewan beraksi di Buluawang, Selasa (13/4/2021) dini hari,  membawa jarahan 3 ekor sapi. “Benar ada laporan […]

Arema

AMEG – Meski sudah memiliki duet penyerang lokal mumpuni, seperti Dedik Setiawan dan Kushedya Hari Yudo, General Manager Arema FC, […]

Malang Raya

AMEG – Dibulan penuh berkah Ramadan 1442 hijriah, Polres Batu melakukan bantuan sosial kepada masyarakat di  Kota Batu, Selasa (13/4/2021). […]

headline

AMEG – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Malang menyebut, aplikasi kawal dan jaga dana desa atau disingkat Si […]

Socialnet

AMEG – Di setiap kekurangan, pasti ada kelebihan. Pepatah itu benar adanya. Salah satunya, dimiliki oAhmad Syihab Athaillah (13). Warga […]

Malang Raya

AMEG – Pasca gempa berskala 6,1 SR, yang mengguncang wilayah selatan Kabupaten Malang pada Sabtu (10/4/2021).  Jajaran TNI, khususnya Korem […]

%d bloggers like this: