Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kesehatan

Ketika Anak Kecanduan Gadget, Orang Tua Bisa Apa ?

Foto Ilustrasi (Istimewa)

Jakarta – Teknologi menjadi bagian penting kehidupan manusia. Berbagai hal kecil hingga krusial, tak lepas dari sentuhan teknologi. Gadget atau gawai misalnya. Benda yang satu ini sepertinya begitu lekat di genggaman, baik orang dewasa maupun anak-anak. Kegunaanya beragam,  mulai dari mencari informasi, rekomendasi, atau sekadar sarana hiburan, bahkan amunisi saat bekerja. Sayangnya, hal itu meningkatkan risiko terjadinya kecanduan gadget alias tidak bisa hidup tenang tanpa mengakses gadget.

Tidak hanya pada orang dewasa, kecanduan gadget juga sangat mungkin terjadi pada anak-anak. Akibatnya, anak malas bersosialisasi, malas belajar, bahkan cenderung tidak memperhatikan sekitarnya.

Baca Juga ----------------------------

Lebih menakutkan lagi, kecanduan gadget pada anak bisa menyebabkan gangguan pada  postur tubuh, sebab anak-anak yang bermain gadget biasanya tidak memperhatikan hal-hal seperti sikap badan, jarak layar, dan kecerahan layar yang memengaruhi penglihatan dan kesehatan. Mengitip Halodoc,  Menatap layar dalam waktu lama menyebabkan ketidaknyamanan dan bisa menimbulkan mata kering, iritasi mata, dan sulit untuk fokus.

Selain itu, Menghabiskan banyak waktu dalam satu postur juga dapat menyebabkan anak mengalami sakit leher dan punggung. Pada kasus yang parah, kecanduan gadget bisa memicu anxiety disorder  atau depresi, ketika dijauhkan dan dilarang bermain gadget.

Mengutip IDN Times, Banyak hal yang menyebabkan anak candu menggunakan gadget atau gawai. Mulai dari menemukan kesenangan dengan melakukan eksplorasi dengan gadget, tak punya banyak pilihan permainan, ataupun tidak dibiasakan bersosialisasi dengan lingkungan. Kecanduan ini juga bisa disebabkan oleh orang tua. Misal, saat anak merengek, biar cepet, ada orang tua yang justru memberikan gadget secara tidak terbatas kepada buah hatinya. Hubungan yang tidak baik antara anak dan orang tua juga bisa menjadi salah satu biang keroknya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan orangtua saat anak mengalami kondisi ini? Berikut tips yang dirangkum dari beberapa sumber.

Batasi penggunaan gadget

Penggunaan gatget maksimal 30 menit setiap kali bermain. Itulah salah satu contoh aturan yang bisa disepakati anak dengan orang tua.  Pastikan jumlah total waktu bermain setiap hari tidak melebihi rekomendasi kelompok umur. Tidak hanya gadget, ini juga berlaku untuk penggunaan TV, komputer, dan perangkat hiburan lainnya.

Jadwalkan bermain gadget  

Orang tua bisa menerapkan penjadwalan  untuk menggunakan gadget dan rencanakan kegiatan fisik yang menyenangkan bagi anak untuk mengalihkan perhatianya. Misal, anak hanya boleh bermain gadget setelah belajar, disore hari, atau di hari hari tertentu saja.

Letakan gadget di tempat yang Tepat

Jangan menempatkan gadget, televisi, komputer, dan perangkat hiburan lainnya di kamar anak. Anda bisa langsung menyiimpan di tempat yang tidak terjangkau setelah digunakan. Saat kebersamaan dengan keluarag, seperti saat makan, mengerjakan pekerjaan rumah atau waktu tidur, upayakan menjauhkan gadget dari jangkauan anak-anak. 

Siapkan kegiatan yang menyenangkan

Saat anda mencoba menjauhkan gadget dari anak-anak, sebaiknya siapkan kegiatan pengganti yang menyenangkan. Misal, kegiatan outdoor, permainan tradisional, atau pembelajaran yang asik dan menyenangkan. Mendorong mereka bersosialisasi dengan teman sebaya juga bisa mengurangi ketertarkan anak pada gadget.

Reward

Apabila anak telah berhasil menaati kesepakatan yang telah dibuat, termasuk dalam hal penggunaan gadget, sebaiknya berikan pujian kepada mereka. Atau menyiapakan hadiah kecil, sebagai bentuk apresiasi atas komitmen bersama.

Memperbolehkan anak bersentuhan dengan teknologi, termasuk gadget dengan segala dampak positif dan negatifnya, tentu bukan hal yang salah.  Namun yang perlu diperhatikan adalah penggunaan yang benar dan tidak berlebihan. Orang tua juga harus bijak dalam mendidik dan mengawal perkembangan buah hatinya. Apabila ada masalah, jang segan-segan untuk berkonsultasi dengan ahlinya. (hlc/idn/anw)

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

Malang Raya

Malang Post – Lanal Malang menghelat serbuan vaksin di RW 09 Kelurahan Oro Oro Dowo Kecamatan Klojen. Selasa (7/12), tim nakes dari Lanal Malang...

Malang Raya

Malang Post – Selasa 7 Desember 2021, tim vaksinasi di Kota Malang menggelar penyuntikan di kawasan RW 04 Kelurahan Mulyorejo Kecamatan Sukun Kota Malang....

News

Malang Post — Sejumlah penambang pasir berhasil menyelamatkan saat lahar dingin mengaliri sungai dekat Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang. Ada 1 sopir...

Malang Raya

Malang Post — Beberapa waktu lalu, rencana pembangunan cold storage senilai Rp 16 miliar di Kelurahan Dadaprejo, Kota Batu disoal dewan. Kini pembangunan cold storage...

News

Malang Post – Sembab kedua mata Gitta (39) kakak kandung korban Happy Teguh Hartanto atau Hebe (34). Ia berhenti terisak memanggil nama sang adik. Malam...

Pendidikan

Malang Post – Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan tim ke lokasi erupsi Lumajang. Dua tim dengan masing-masing lima orang, berangkat...

Wisata

Malang Post – Memasuki pergantian tahun 2022, Harris Hotel & Conventions Malang resmi meluncurkan package menarik di penghujung tahun. Situasi PPKM yang lebih diperketat di akhir...

Pendidikan

Malang Post – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang terus bergerak menjadi universitas bereputasi internasional. Berbagai upaya ditempuh sivitas kampus berlogo Ulul...