Connect with us

Hi, what are you looking for?

Opini

Catatan Kesehatan Sambut 2021

Tahun telah berganti, dari 2020 menjadi 2021. Tahun 2020 lalu adalah tahun yang berat bagi dunia kesehatan. Pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan sistem kesehatan global. Lebih dari 70 juta orang terinfeksi coronavirus. Kasus meninggal mencapai 1,7 juta jiwa.  

Sejak awal 2020, dunia berjibaku melawan coronavirus. Sepanjang tahun telah kita lalui dengan berbagai upaya melawan pandemi. Beragam peristiwa pun telah terjadi mengiringi perjuangan ini.

Baca Juga ----------------------------

Untuk menyambut tahun yang lebih baik pada 2021, berikut beberapa catatan kesehatan dari tahun 2020 yang patut kita evaluasi bersama.

Jaga Kesehatan dan Kebersihan

Dulu, masalah kesehatan kerap dientengkan. Tak usah berobat jika tak parah. Tak perlu cek kesehatan secara berkala. Olahraga nanti-nanti saja. Pola makan pun sesukanya.

Begitu pula terkait kesebersihan. Dulu, banyak kalangan yang menganggap cuci tangan itu tak penting. Memakai masker pun masih tak familiar. Justru, masyarakat masih menilai bermasker saat sakit itu berlebihan.

Sejak coronavirus menyerang, masyarakat mulai sadar akan pentingnya memelihara kebersihan. Masyarakat juga makin awas pada kondisi kesehatannya. Harapannya, jika wabah telah berakhir pun, protokol kesehatan akan terus diterapkan, meski tak seketat sekarang. Semoga ini menjadi kebiasaan baru yang akan terus terjaga di tahun 2021 ini, juga tahun-tahun setelahnya.

Tingkatkan Literasi

Sebelum wabah melanda, hoax yang paling banyak beredar adalah hoax di bidang kesehatan. Di saat pandemi, hoax kesehatan makin menjadi-jadi lewat berbagai media sosial. Bahayanya, kesimpangsiuran informasi terkait Covid-19 membuat masyarakat tak bisa menyikapi wabah ini dengan tepat.

Sebagian masyarakat panik berlebihan, hingga membuat kekacauan seperti panic buying di awal pandemi lalu. Kalangan lain justru terlalu meremehkan, bahkan terjerumus dalam teori konspirasi. Sikap meremehkan ini malah membuat virus makin menyebar dan pandemi tak kunjung usai. 

Kondisi ini menggambarkan kurangnya literasi di tengah masyarakat, terutama di bidang kesehatan. Rendahnya minat baca menjadikan masyarakat tak terbiasa untuk membedakan berita yang akurat dan hoax.

Di sisi lain, sebagian tokoh yang dinilai sebagai pakar, bahkan bergelar dokter/profesor pun kadang memberi pernyataan tanpa merujuk pada penelitian ilmiah. Hal ini diperparah dengan nihilnya edukasi yang diberikan oleh pihak otoritas. 

Beberapa pejabat malah melontarkan pernyataan tak berdasar, seperti Covid-19 tak berbahaya atau bisa sembuh sendiri. Ketidakpahaman tentang coronavirus menyebabkan penguasa mengambil kebijakan yang kontradiktif dengan upaya penanganan pandemi. Misalnya, dengan membuka lebar transportasi dan pariwisata.

Karena itulah, di tahun 2021, mari tingkatkan literasi. Mari perbanyak membaca dari sumber yang terpercaya, bukan dari media sosial semata. Merujuklah pada orang yang benar-benar ahli di bidangnya. Jangan langsung percaya dan menyebarkan suatu berita, tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu. 

Informasi seputar Covid-19 juga kian berkembang, seperti terkait vaksin atau mutasi virus. Jadi, jangan bosan untuk selalu update berita. Dengan memiliki informasi yang benar tentang wabah ini, kita dapat menyikapinya dengan tepat, serta bisa berkontribusi untuk menghentikan pandemi.

Kita Butuh Sistem yang Lebih Baik

This pandemic doesn’t break the system, but it exposes the broken system. Ungkapan ini sempat viral di awal wabah. Dan memang ini adalah fakta yang tidak terbantahkan. Sebelum wabah pun, sistem kesehatan kita sangat rapuh. Dan ketika wabah ini menyerang, kita tak siap menghadapinya.  

Fasilitas kesehatan belum memadai. Alat kesehatan dan alat pelindung diri masih minim. Jumlah tenaga medis tidak tersebar merata ke seluruh daerah. Sistem pembiayaan kesehatan juga kacau.

Paradigma kapitalisme sumber utama dari sistem yang carut-marut ini. Dalam kapitalisme, keuntungan materi adalah yang utama. Semua bidang dapat dikomersilkan demi meraup laba. Tak terkecuali di bidang kesehatan. 

Cara pandang kapitalisme inilah yang menjadi penghalang utama untuk menuntaskan wabah. Pemerintahan yang menerapkan kapitalisme lebih memilih mengutamakan aspek ekonomi daripada kesehatan rakyat. Penanganan wabah pun menjadi serba tanggung.

Karantina wilayah sulit diterapkan karena dianggap membahayakan ekonomi. Meningkatkan 3T (testing, tracing, dan treatment) pun tidak menjadi pilihan utama karena membutuhkan dana yang besar. Sementara obat-obatan dan alat kesehatan, juga vaksin, menjadi komoditi yang sangat mahal harganya.

Kapitalisme bukan hanya melingkupi bidang kesehatan, tapi juga dalam ekonomi, politik, dan sosial. Karena itulah, pergantian pemimpin atau menteri saja sejatinya tidak cukup untuk menjadi solusi. Dibutuhkan alternatif paradigma lain yang lebih baik daripada kapitalisme yang rusak ini.

Kita perlu belajar dari sistem Islam, yang terbukti mampu menangani wabah dengan tuntas. Islam sangat mengutamakan kesehatan dan keselamatan manusia, serta menjadikannya kebutuhan dasar yang menjadi tanggung jawab penguasa. Dalam Islam, penguasa sebagai pelayan rakyat wajib memberikan fasilitas kesehatan yang berkualitas bagi seluruh rakyat. 

Ketika terjadi pandemi, sebagaimana wabah tha’un pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab, keselamatan rakyat tetap diutamakan. Saat itu, penduduk yang sakit dan yang sehat segera dipisahkan agar wabah tidak cepat menular. Penduduk yang sakit diisolasi, diberi perawatan medis, dan dipenuhi kebutuhan pokoknya selama sakit. Bila wabah sudah menyebar di suatu wilayah, maka wilayah itu harus segera dikarantina.

Berbagai penelitian di bidang medis pun didukung penuh oleh pemerintah. Karena dukungan inilah, pada abad ke-18, para ilmuwan muslim di masa Kekhilafahan Utsmani mampu menemukan vaksin untuk menghentikan wabah cacar yang melanda saat itu. 

Segala pembiayaan, mulai dari fasilitas kesehatan hingga penelitian medis, dapat diambil dari dana wakaf atau dari hasil pengelolaan sumber daya alam. Dengan demikian, layanan kesehatan bisa terjangkau untuk seluruh masyarakat, bahkan bisa gratis. Sistem seperti inilah yang sangat kita butuhkan untuk mengakhiri pandemi ini di tahun mendatang.

Demikianlah beberapa catatan di bidang kesehatan untuk tahun 2020. Semoga tahun 2021 bisa lebih baik lagi. Dan semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir. 

Penulis :  dr. Ventin Yurista, (Dokter umum Klinik BMCI Malang)

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

Malang Raya

Malang Post – Dalam rangka menyambut peringatan HUT TNI ke-76 Tahun 2021, Korem 083/Bdj beserta Kodim 0833/Kota Malang secara serentak melaksanakan Bakti sosial berupa...

headline

Malang Post- Soal kasus rombongan “Gowes”  Walikota Malang, Sutiaji dan jajaran OPD ke Pantai Kondang Merak, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang Minggu (19/9) lalu, memang sudah...

Malang Raya

Malang Post – Bupati Malang Drs HM Sanusi MM pernah menjanjikan akan memberikan dana ekstra kepada 378 Desa dan Kelurahan di Kabupaten Malang sebanyak...

Malang Raya

Malang Post – Stiker Presiden RI Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo serta tulisan ajakan memakai masker terpampang jelas di mobil dinas milik...

News

Malang Post — Kabar duka dari Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, Kamis (23/9/2021) sore. Seorang mahasiswa semester akhir, tewas akibat mengalami kecelakaan di Bululawang....

Pendidikan

Malang Post — Dinas Pendidikan Kabupaten Malang melalui Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat menggelar training of trainer (TOT) bagi guru PAUD.  Temanya:...

Malang Raya

Malang Post — Angin kencang, Kamis (23/9/2021) jelang petang menghempas wilayah Desa Sumbersuko, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Satu rumah rusak berat sementara 5 lebih lainnya...

Pendidikan

Malang Post — Pengabdian kepada masyarakat, bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan seluruh dosen di Indonesia. Termasuk dosen Universitas Negeri Malang melalui Lembaga...