
Siklus hidrologi selalu berulang, dengan keseimbangan yang alam semesta ciptakan dan putaran rotasi volume air yang berputar pun relatif sama dipengaruhi pergerakan makrokosmos galaksi.
Air hujan akan meresap ke dalam tanah, mengalir di dalam tanah dan muncul sebagai sumber-sumber air yang mengalir ke sungai, ke laut menguap dan menjadi hujan kembali.
Jika lingkungan tak seimbang, ada kala ulang penyeimbangan debit yang tercurah, agar membuat keseimbangan baru.
Akibat alih fungsi lahan, dari resapan air yang berupa hutan, sawah, kebun dan ruang-ruang terbuka hijau yang menjadi perumahan, perkantoran, jalan dan utilitas penunjang kehidupan lain manusia, air mengalir ke permukaan dan gagal meresap.
Dengan rekayasa teknis, manusia merencanakan dan membuat saluran-saluran air yang gagal meresap ini.
Dimensi salurannya bergantung pada muatan/debit air yang akan dialirkan.
Dalam perencanaan saluran dipertimbangkan luas atau zona daerah resapan/tangkapan air (catchment area) yang gagal/berubah fungsi permukaannya.
Dalam perencanaan, keseimbangan dan karakteristik debit hujan jadi prioritas bahan utama yang diperhatikan, dengan penghimpunan data tahunan yang diambil.
Diambil data rata-rata terbaik/debit andalan, data kala ulang tahunan (tahun-tahun tertentu), untuk prediksi sebuah perencanaan sebuah dimensi saluran.
Perencaan mempertimbangkan zona per zona sesuai pembagian sebuah wilayah, misalkan zona hunian, bisnis, pabrik, terbuka hijau dan lain-lain.
Untuk kasus Malang, run-off atau aliran permukaan dengan debit yang tinggi saat intensitas hujan yang tinggi pula, dan terjadi dalam interfal waktu yang pendek untuk berulang, saya dapat menganalisanya sebagai berikut:
Telah terjadi mal-fungsi saluran drainase, sehingga aliran atau debit yang terjadi tidak tertampung. Berakibat, air keluar/meluap dari saluran dan beralih ke dataran yang lebih rendah dengan aliran deras, mengingat kontur yang naik-turun secara ekstrim dataran tinggi Malang.
Disatu sisi, pemerintah kota dituntut untuk melakukan sebuah restrukturisasi ulang, meliputi penghitungan kembali dalam sebuah perencanaan besar terpadu zona-perzona dari wilayah Kota Malang. Bukan hanya sebatas tambal sulam dengan melakukan short-cut, by-pass, sudetan tanpa menghitung ulang luas catchment area yang telah berubah fungsi sehingga air gagal meresap ke dalam tanah.
Dari perencanaan yang terintegrasi dan terpadu, diharapkan desain baru jaringan drainase, dengan analogi saluran yang berdimensi kecil, menyatu ke saluran yang berdimensi menengah, kemudian dialirkan ke dimensi besar dan lepas kearah sungai-sungai besar yang mengelilingi seantero Kota Malang. Bukan sekedar membuat sudetan-sudetan, short-cut, by-pass instan tanpa memperhitungkan debit yang mengumpul dalam sebuah saluran, semata.
Pengalihan aliran yang meluap yang ideal bukan dengan cara-cara instan, tetapi dengan perencanaan baru yang terpadu dalam beberapa zona kota Malang.
Distribusi debit air pun dapat menyesuaikan menurut zona dan telah terbantu kontur serta terpadu dalam desain dimensi saluran.

Penulis : Tjahjana Indra Kusuma
(Teknik Sipil UB angkatan 1988)