
Tak sedikit guru, dosen, siswa, dan mahasiswa yang merasa bosan (boring) saat melakukan dan mengikuti pembelajaran daring. Boring daring, begitu kesimpulan dari sejumlah survei yang memotret pembelajaran daring selama pandemi. Namun fakta ini bertolak belakang dengan kenyataan bahwa banyak siswa, mahasiswa, dan pendidik yang tak pernah boring saat berlama-lama di beragam platform media sosial (medsos). Mengapa bisa begitu? Padahal kedua aktivitas tersebut sama-sama dilakukan di ranah maya.
Perasaan bosan itu biasa punya keterkaitan dengan sesuatu yang dilakukan secara terus berulang. Selain itu orang menjadi bosan bisa karena sesuatu yang dilakoninya itu tak menarik, tak merangsang gairah, membosankan, monoton, dan pasif. Kalau ternyata dengan pembelajaran daring banyak yang boring, bisa jadi karena aktivitas daringnya yang tak menimbulkan selera bagi siswa, tak mengakomodasi partisipasi, memberatkan, dan tak menggembirakan.
Sementara itu, tak sedikit orang yang begitu bersemangat saat berselancar di aneka platform medsos. Saat ini siapa orangnya yang tak punya akun medsos. Guru, dosen, peserta didik, orang tua, dan kebanyakan orang punya akun Facebook, Twitter, Instagram, Youtube. Media pertemanan seperti WhatsApp (WA) juga menjadi sarana yang sangat populer dan banyak digunakan para pemilik smartphone. Para pengguna medsos seperti selalu bergairah dan tak mengenal bosan saat bermedsos ria.
Melalui medsos banyak orang terhibur. Medsos mampu memasilitasi penggunanya untuk saling terhubung dan berkomunikasi. Medsos mampu membangun interaktiviti diantara penggunannya. Bahasa di medsos juga tak kaku, cair dan mudah dicerna. Bagi sejumlah orang, melalui medsos juga bisa digunakan untuk pelampiasan (katarsis) atas situasi tertentu. Medsos juga mampu membangun partisipasi semua penggunanya untuk mengunggah dan mengunduh konten (user generated content).
Itulah medsos, daya pikatnya lebih kuat. Medsos lebih mampu menjawab apa yang menjadi kebutuhan (need) penggunanya. Komunikasi di medsos lebih terbuka, dua arah, dan bisa tak berjeda. Walau secara fisik terpisah jarak, namun interaksi di medsos bisa terbangun lebih intim dan berasa dekat. Banyak contoh terkait hal ini. Bagaimana banyak orang mampu tergerak menyumbang, berdonasi yang hanya digerakkan lewat medsos. Jiwa atruisme dan filantropi banyak digalang lewat medsos.
Diantara sekian sifat, ciri, karakter, dan kelebihan yang dimiliki medsos itulah yang idealnya bisa diadopsi untuk menjadikan pembelajaran daring tak berakhir boring. Bagaimana pembelajaran daring hendaknya mampu menumbuhkan partisipasi dan interaksi dua arah. Tentu peserta didik akan bosan kalau selama pembelajaran daring hanya diisi tugas-tugas dan komunikasi yang cenderung instruksional dan satu arah. Model komunikasi dua arah menjadi salah satu kunci sukses daring yang tak membosankan.
Yang perlu juga dipahami adalah pembelajaran daring itu sejatinya bukan proses belajar mengajar luring yang didaringkan. Mengajar daring tentu bukan hanya copy paste “acting” sang pendidik di depan kelas kemudian di transfer melalui lensa kamera yang terhubung dengan Zoom, Google Meet, Google Classroom, Webex, dan aneka aplikasi pembelajaran online. Kalau itu yang dilakukann sebagai pembelajaran daring, maka “show” sang guru atau dosen akan sungguh tak menarik. Tak “entertaining” hingga membuat boring suasana.
Karakteristik komunikasi tatap muka langsung dengan model komunikasi bermedia tentu tak sama. Untuk itu pemahaman terkait karakteristik media daring dan luring ini menjadi penting. Masing-masing media tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Agar sukses berkomunikasi, termasuk dalam proses belajar mengajar, setidaknya ada lima unsur yang harus diperhatikan yakni; peyampai pesan (komunikator), pesan itu sendiri, media, penerima pesan (komunikan), dan umpan balik (feedback).
Kesenjangan usia antara kebanyakan pendidik dengan peserta didik juga berkontribusi memicu pembelajaran daring tak berlangsung menarik. Kebanyakan peserta didik adalah generasi milenial, dimana generasi ini punya gaya, bahasa, cara pandang sendiri. Aksesibilitas pada teknologi kaum milenial ini sangat tinggi karena mereka sejak lahir memang sudah mengenal teknologi. Sementara kebanyakan ibu bapak guru atau dosen masih “muallaf” urusan teknologi.
Namun apapun yang terjadi, pembelajaran daring masih harus dijalankan. Untuk itu, pembelajaran daring harus menarik dan tak membosankan. Pembelajaran daring mestinya bisa lebih asyik, menyenangkan, seperti yang dialami banyak orang ketika bermedsos. Beragam keywords yang melekat pada milenial perlu dikuasai agar sang pendidik tetap tampil gaul, dekat, dan nyambung dengan peserta didik.
Pandemi Covid-19 sepertinya masih belum terkendali sehingga proses belajar mengajar masih harus terpisah jarak. Saat ini pembelajaran daring masih menjadi pilihan yang harus dijalankan. Untuk itu, bagaimana pembelajaran daring yang membosankan bisa diperbaiki menjadi lebih menyenangkan, menggembirakan, membangun partisipasi dan interaktiviti, dan lebih humanis. Ibu, bapak, para pendidik, semangat tetap kreatif dan inovatif di tengah pandemi. (*)

Penulis : SUGENG WINARNO
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang