MALANG POST – Lowongan pekerjaan terus bertebaran, namun puluhan ribu pencari kerja tetap gigit jari. Fenomena ironis ini menjadi potret buram ketenagakerjaan di Kota Malang. Persoalan utamanya bukan lagi ketiadaan lapangan kerja, melainkan jurang lebar antara kompetensi yang dimiliki lulusan dengan standar kualifikasi yang dicari industri (skill mismatch).
Tercatat, masih ada sekitar 27 ribu warga Kota Malang yang berstatus menganggur dan belum terserap pasar kerja secara optimal.
Sengkarut kesenjangan kompetensi, minimnya keterampilan lunak (soft skill), hingga strategi penyerapan tenaga kerja berbasis vokasi ini dibedah tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Senin (27/7/2026) hari ini.
Pengantar Kerja Ahli Muda Disnaker PMPTSP Kota Malang, Eka Yudha Sudrajad, menegaskan bahwa pencari kerja tidak boleh lagi bersikap pasif atau sekadar menunggu pekerjaan yang ideal sesuai keinginan subjektif semata.
“Peluang itu ada, tapi masalah mendasarnya adalah ketidaksesuaian kemampuan (skill mismatch). Kami terus menggenjot program pelatihan kerja, reskilling, dan upskilling gratis demi mendongkrak daya saing warga. Kami mendesak para pencari kerja aktif mengoptimalkan portal Siap Kerja milik pemerintah,” jelas Eka Yudha.
Industri Butuh Karakter dan Kesiapan Kerja, Bukan Sekadar Kertas Ijazah
Pandangan tajam disuarakan langsung oleh praktisi dunia usaha. Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama, Dr. Sugito Adhi, membeberkan fakta bahwa era keagungan selembar kertas ijazah sudah tamat di mata para perekrut tenaga kerja.
Banyak pelamar bergelar sarjana namun gagap saat diterjunkan ke lapangan karena latar belakang akademisnya tidak selaras dengan dinamika industri modern.
“Dunia industri saat ini tidak hanya berpatokan pada lembaran ijazah. Kami mencari SDM yang benar-benar siap kerja. Yang kami uji adalah kemampuan komunikasi, kedisiplinan, hingga daya adaptasi terhadap tantangan kerja. Kami membuka pintu magang lebar-lebar agar calon pekerja bisa mengasah kapasitasnya sebelum direkrut permanen,” tegas Sugito.
Resep Vokasi UB: Keterampilan Digital dan Kurikulum Berbasis Industri
Merespons jeritan industri, institusi pendidikan tinggi berbenah. Ketua BPPM-Kerjasama Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB), Dr. Sovia Rosalin, menilai persoalan pengangguran ini hanya bisa diurai lewat kolaborasi erat tiga pilar: kampus, pemerintah, dan dunia usaha.
Vokasi UB terus merombak kurikulum agar selalu relevan dengan kebutuhan pasar kerja melalui program magang wajib serta penajaman kualifikasi mahasiswa.
“Kemampuan akademik saja tidak cukup untuk bertahan di dunia kerja modern. Lulusan zaman sekarang wajib hukumnya menguasai keterampilan digital, keluwesan beradaptasi, serta komunikasi yang mumpuni. Sinergi kurikulum berbasis industri adalah kunci agar kampus tidak mencetak pengangguran baru,” pungkas Sovia.
Pasar kerja Kota Malang sangat dinamis, namun standar industri kian selektif. Di tengah angka 27 ribu pengangguran, pesan dari Idjen Talk hari ini sangat lugas: pencari kerja harus berani membongkar ulang kapasitas diri, mengasah soft skill, dan membuang mentalitas gengsi jika ingin dilirik oleh perusahaan. (Nurul Fitriani / Ra Indrata)




