MALANG POST – PT Nestlé Indonesia melanjutkan komitmen lima dekade pengembangan persusuan nasional, dengan meresmikan teknologi kandang semi tertutup (Closed-Barn) dan menyerahkan 90 ekor sapi perah impor kepada KUD Dadi Jaya Purwodadi, Koperasi SAE Pujon Malang, serta KUD Sumber Makmur Ngantang, untuk meningkatkan produktivitas susu segar dan kesejahteraan peternak rakyat di Jawa Timur.
Angkanya mencengangkan: lebih dari US$ 60 juta tiap tahun. Atau setara ratusan miliar rupiah. Sebesar itulah uang tunai yang dikucurkan PT Nestlé Indonesia untuk menyerap susu segar langsung dari tangan para peternak rakyat di Jawa Timur.
Semua itu tidak dibangun dalam semalam. Pondasinya sudah ditancapkan sejak setengah abad lalu—tepatnya tahun 1975.
Kala itu, Nestlé memulainya dari langkah yang sangat bersahaja: menyerap 160 liter susu segar harian dari sebuah koperasi kecil di Malang. Lima dekade berlalu, setetes air susu itu telah menggulung menjadi samudra kemitraan. Kini, Nestlé membina lebih dari 12 ribu peternak sapi perah rakyat dan menggandeng 28 koperasi di seantero Jawa Timur.
Hasilnya nyata. Jawa Timur kokoh bertengger sebagai lumbung susu terbesar di Indonesia, dengan capaian produksi menembus 475,39 ribu ton.
Namun, zaman berubah. Kebutuhan susu nasional melonjak tajam, sementara tantangan iklim tropis yang panas dan lembap kerap membuat sapi-sapi perah stres (heat stress). Produktivitas susu kerap merosot.

DI KANDANG: Wamenko Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, saat berada di kandang yang menerapkan teknologi closed-barn, milik KUD Dadi Jaya Purwodadi. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Nestlé tidak tinggal diam. Langkah modernisasi peternakan diterjunkan langsung ke lapangan.
Melalui kemitraan bersama KUD Dadi Jaya Purwodadi Kabupaten Pasuruan, Koperasi SAE Pujon Malang, dan KUD Sumber Makmur Ngantang, Nestlé meluncurkan dua gebrakan strategis sekaligus: penerapan teknologi Closed-Barn (kandang semi tertutup) dan penyerahan 90 ekor sapi perah impor unggulan.
Sistem Closed-Barn ini bekerja mirip pengatur iklim portabel. Dilengkapi dengan cooling pad dan exhaust fan, suhu serta sirkulasi udara di dalam kandang dijaga tetap sejuk. Sapi tidak lagi kehangatan atau depresi iklim. Hasilnya dahsyat: produktivitas susu terbukti melonjak lebih dari 20 persen!
“Closed-Barn dirancang untuk menciptakan lingkungan kandang yang lebih nyaman. Dengan sirkulasi udara yang optimal, sapi memiliki pola makan dan waktu istirahat yang lebih baik, sehingga produktivitas susu naik drastis,” papar Syahrudi, Sustainable Agri Advisor Nestlé Indonesia. Sejak 2023, lebih dari 50 Closed Barn sudah berdiri di enam daerah sentra: Malang, Pasuruan, Probolinggo, Ponorogo, Jombang, hingga Blitar.
Gebrakan itu diganjar apresiasi tinggi oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Dr. Hanif Faisol Nurofiq. Menurutnya, pola pembinaan hulu yang dilakukan Nestlé adalah model ideal kolaborasi industri dan peternak rakyat demi memicu kemandirian pangan nasional.
Hal senada ditekankan Bupati Pasuruan, H. Mochamad Rusdi Sutejo. Sebagai daerah penghasil susu terbesar kedua di Jawa Timur, keberadaan Closed-Barn dianggap sebagai jawaban atas keterbatasan lahan di daerah.
“Susu adalah komoditas vital penggerak ekonomi warga dan penekan angka stunting. Di tengah keterbatasan lahan, inovasi closed barn ini sangat membantu meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan peternak,” kata Rusdi Sutejo.

MANCA NEGARA: Total ada 30 sapi perah impor yang saat ini menghuni kandang dengan sistem closed barn milik KUD Dadi Jaya. (Foto: Ra Indrata / Malang Post)
Tak cuma kandang dan sapi impor, Nestlé juga membagikan imported straw (semen beku) dari pejantan ras Friesian Holstein untuk menyuntikkan genetik unggul secara berkelanjutan.
Prinsip keberlanjutan lingkungan (regenerative agriculture) juga digarap serius. Limbah kotoran sapi ditransformasi menjadi energi lewat 8.700 unit biodigester dan 2.000 manure application unit untuk pupuk organik. Lebih dari 200 ribu pohon legum pun ditanam guna menjaga konservasi air tanah.
Corporate Affairs Director Nestlé Indonesia, Fajar Dewantara, menegaskan komitmen panjang ini. Melalui tim khusus Milk Procurement & Dairy Development (MPDD) yang setiap hari mengawal peternak di lapangan, Nestlé ingin memastikan rantai pasok susu nasional semakin tangguh.
“Selama lebih dari 50 tahun, tujuan kami tetap sama: mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas susu segar sekaligus memperkuat daya saing sektor persusuan nasional,” tegas Fajar.
Ketua KUD Dadi Jaya Purwodadi, Drs. H. Nurianto, M.M, tersenyum lega. Bagi para peternak di desa, sentuhan teknologi dan bantuan bibit unggul ini adalah nafas baru yang membuat masa depan peternakan rakyat makin menjanjikan.
Dari 160 liter di Malang 50 tahun lalu, kini Nestlé membuktikan bahwa memajukan industri susu tak harus menyingkirkan peternak kecil—melainkan tumbuh maju bersama mereka. (Ra Indrata)




