MALANG POST – Universitas Negeri Malang (UM) terus memperkuat budaya berpikir kritis dan tradisi kebebasan akademik di lingkungan kampus. Komitmen tersebut diwujudkan melalui helatan bedah buku Nasib Publik dalam Republik karya Profesor Emeritus Monash University, Ariel Heryanto, yang digelar di Du Xiu Shu Fang UPT Perpustakaan UM, Malang.
Universitas Negeri Malang (UM) memperkuat budaya bertanya dan berpikir kritis melalui helatan bedah buku bertajuk “Berpikir Kritis demi Kehidupan yang Lebih Demokratis” yang digelar di Du Xiu Shu Fang UPT Perpustakaan UM, belum lama ini.
Bedah buku yang membedah karya Nasib Publik dalam Republik tersebut menghadirkan Profesor Emeritus Monash University, Ariel Heryanto, bersama dosen UM, Ronal Ridhoi, S.Hum., M.A., dan Yuventia Prisca sebagai narasumber utama.
Melalui forum ilmiah ini, UM mendorong seluruh sivitas akademika untuk terus mengembangkan nalar kritis, memperkuat tradisi akademik, serta membangun ruang dialog yang inklusif dan demokratis di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi ruang terbuka yang mendorong keberanian untuk bertanya. Menurutnya, ilmu pengetahuan hanya bisa tumbuh melalu tradisi mempertanyakan berbagai hal yang selama ini dianggap lumrah.
“Saya berharap pikiran Pak Ariel bisa menjadi salah satu ‘virus’ positif yang tumbuh subur di UM. Saya sendiri sejak masih mahasiswa sudah terkena ‘virus’ pemikiran beliau melalui tulisan-tulisannya,” ujar Prof. Hariyono.

Rektor UM, Prof. Hariyono menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi ruang yang mendorong keberanian bertanya dan mengembangkan nalar kritis. (Foto: Istimewa)
Ia menambahkan, budaya berpikir kritis perlu terus dipelihara agar melahirkan insan akademisi yang tidak sekadar menguasai teori, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan inovatif yang berdampak bagi masyarakat luas.
Mengutip filsuf Yunani klasik, Plato, Prof. Hariyono menekankan bahwa penemuan pengetahuan selalu berawal dari sebuah pertanyaan.
“Mesin penggerak ilmu pengetahuan adalah pertanyaan. Harapan saya, di UM mereka yang suka bertanya tidak dianggap seperti Socrates yang harus minum racun. Justru kita ingin melahirkan semakin banyak intelektual yang kritis sekaligus produktif,” tegasnya.
Sementara itu, dosen sejarah UM, Ronal Ridhoi, menjelaskan bahwa buku Nasib Publik dalam Republik menghimpun sekitar 100 tulisan pilihan Ariel Heryanto yang mengulas beragam isu strategis, mulai dari budaya, media, pendidikan, politik, hingga nasionalisme.
Menurut Ronal, kekuatan utama buku tersebut terletak pada konsistensi Ariel Heryanto dalam menghadirkan gagasan kritis secara konsisten selama lebih dari empat dekade.
“Pak Ariel sejak periode Orde Baru sudah sangat kritis. Memasuki akhir Orde Baru semakin kritis, dan di abad ke-21 ini beliau tetap konsisten menyampaikan pandangan-pandangan tajamnya,” jelas Ronal.
Ronal juga menilai produktivitas Ariel Heryanto dalam menulis di berbagai media massa nasional patut menjadi teladan bagi para akademisi muda. Gagasan ilmiah idealnya tidak berhenti di dalam ruang kelas maupun jurnal terindeks saja, melainkan hadir di ruang publik untuk memperkaya diskusi dan meningkatkan literasi masyarakat.
Melalui agenda bedah buku ini, UM mempertegas komitmennya dalam membangun ekosistem akademik yang adaptif, berintegritas, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap dinamika sosial dan demokrasi.
Selain itu, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pendidikan tinggi yang kritis, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) dengan menciptakan ruang dialog yang inklusif, transparan, dan berkeadilan di lingkungan kampus. (M. Abd. Rachman Rozzi / Januar Triwahyudi)




