MALANG POST – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, secara resmi melakukan kunjungan takziah ke rumah duka almarhumah Diana Maf’ulla di wilayah Kota Malang, Jawa Timur, pada Jumat (12/6/2026) kemarin. Kehadiran mendadak orang nomor dua di Kementerian Haji (Kemenhaj) ini, ditujukan sebagai bentuk empati mendalam sekaligus penghormatan khusus atas keteguhan hati suami almarhumah, Muhaimin, seorang Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi asal Kota Malang, yang memilih tetap bertahan mengemban amanah melayani jemaah di Tanah Suci di tengah badai duka keluarga.
Menjadi petugas haji itu sepintas terlihat enak. Bisa terbang ke Arab Saudi. Bisa melihat Kakbah gratis. Tapi, di balik jubah seragam PPIH itu, tersimpan kisah pengorbanan personal yang luar biasa besar. Pengorbanan yang kerap kali merobek perasaan ego manusiawi.
Kisah keteguhan hati yang luar biasa itu kini sedang mewarnai jagat haji kita. Datangnya dari Kota Malang.
Jumat kemarin, sebuah rumah duka di Kota Malang kedatangan tamu penting dari Jakarta. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, melangkah masuk. Wamenhaj datang khusus untuk menyampaikan rasa belasungkawa langsung, ke tempat peristirahatan terakhir almarhumah Diana Maf’ulla.
Almarhumah adalah istri tercinta dari Muhaimin. Salah satu marbot pelayanan haji Indonesia, yang saat ini sedang memeras keringat di Arab Saudi.
Ketika berita kematian sang istri mendarat di ponselnya di Tanah Suci, manajemen Kemenhaj sebenarnya langsung bertindak humanis. Muhaimin diberi lampu hijau. Diizinkan. Diberi keringat kelonggaran aturan untuk segera memesan tiket pesawat dan terbang pulang ke Indonesia saat itu juga demi mengubur sang istri.
Tapi, di sinilah letak kebesaran jiwa itu terlihat. Muhaimin, yang juga Sekretaris PWI Malang Raya, menolak pulang.

Dia memilih bersikap kukuh: bertahan di Arab Saudi demi menuntaskan tugas suci pelayanan ratusan ribu jemaah haji, sampai masa penugasannya resmi berakhir pada 2 Juli 2026 mendatang.
Dahnil Anzar terpaku melihat ketegaran itu. Di depan putri almarhumah yang bernama Mia, Wamenhaj melepas rasa duka mendalamnya.
“Atas nama keluarga besar Kemenhaj serta seluruh petugas haji Indonesia, kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhumah Ibu Diana Maf’ulla. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafnya,” ujar Dahnil, Jumat kemarin.
Bagi Dahnil, pilihan yang diambil Muhaimin jelas bukan perkara mudah. Butuh pergolakan batin yang hebat. Namun, keputusan itu adalah bukti sahih tentang apa itu arti sebuah tanggung jawab dan dedikasi total di balik layar birokrasi haji.
“Kami sebenarnya memberikan kesempatan kepada beliau untuk kembali ke Tanah Air. Namun beliau memilih menyelesaikan tugas pelayanan di Tanah Suci hingga akhir masa penugasan,” tegas Wamenhaj.
Dahnil memastikan negara tidak akan melupakan pengorbanan ini. Kunjungan ke Malang ini adalah simbol hormat tertinggi Kemenhaj untuk keluarga, yang ikhlas menyumbangkan punggawanya demi kelancaran ibadah haji nasional.
“Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan kepada Cak Muhaimin, Mia, dan seluruh keluarga yang ditinggalkan,” pungkas Dahnil seraya mengajak seluruh masyarakat ikut mendoakan agar almarhumah meraih derajat husnul khatimah.
Amanah itu memang berat, tapi bagi Muhaimin, melayani tamu-tamu Allah di Mekah rupanya menjadi jalan jihad terbaik untuk mengiringi kepergian sang istri ke haribaan Tuhan.
Dari rumah duka di Malang kemarin, kita belajar: bahwa dedikasi tertinggi sering kali lahir dari hati yang paling terluka. Selamat bertugas sampai akhir, Cak Muhaimin! (Ra Indrata)




