MALANG POST – Angka kunjungan masyarakat ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kota Batu mencatat grafik pertumbuhan positif sebesar 17,32 persen dengan total jangkauan mencapai 18.619 pengunjung sepanjang empat bulan pertama tahun ini. Lonjakan data yang menggembirakan ini dibeberkan langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Batu, Abdul Rais, pada Senin (8/6/2026), sebagai hasil dari agresifnya penambahan koleksi 40 ribu buku serta penerapan dua program literasi sekolah bertajuk BABEKU dan SI BOLING.
Zaman sekarang, mengajak orang untuk membaca buku itu susahnya setengah mati. Saingannya berat: layar gawai. Semua mata telanjur candu menatap video pendek di media sosial.
Tapi, ada kabar baik dari Kota Batu. Kabar yang memberi harapan.
Budaya membaca di kota dingin ini rupanya mulai menunjukkan geliat positif. Setidaknya, tanda-tanda kehidupan literasi itu tercermin dari angka kunjungan ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kota Batu sepanjang caturwulan pertama tahun ini.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Batu baru saja merilis datanya. Sahih. Hingga April 2026 kemarin, jumlah orang yang datang ke Perpusda sudah menyentuh angka 18.619 pengunjung.
Kalau dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, grafiknya melompat naik 17,32 persen. Naik dua digit di awal tahun.

KUNJUNGAN: Pelajar di Kota Batu saat berkunjung ke Perpusda, kini minat baca masyarakat Kota Batu mulai merangkak naik. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kepala Disperpusip Kota Batu, Abdul Rais, tersenyum melihat angka itu. Bagi Rais, ini sinyal yang sangat baik. Meskipun, dia tipe pejabat yang realistis. Dia tidak mau cepat puas lalu mabuk pujian.
Rais mengakui, secara makro, minat baca masyarakat kita sebenarnya masih masuk kategori rendah. Tapi setidaknya, sekarang posisinya sudah mulai merangkak naik.
“Kenaikan dua digit pada awal tahun ini menjadi perkembangan yang cukup menggembirakan,” ujar Abdul Rais, Senin (8/6/2026) kemarin.
Mari kita hitung potensinya secara matematika ekonomi.
Sepanjang tahun 2025 lalu, total jenderal kunjungan ke Perpusda Batu berada di angka 47.612 orang.
Nah, kalau baru jalan empat bulan di tahun 2026 saja jumlahnya sudah tembus 18.619 orang, maka logika di atas kertas sangat jelas: peluang untuk memecahkan rekor dan melampaui capaian tahun lalu terbuka sangat lebar.
Mengapa perpusda mulai ramai diserbu?
Faktor utamanya adalah urusan isi toko. Koleksi bacaannya terus berkembang. Saat ini, Perpusda Kota Batu sudah menampung sekitar 40 ribu koleksi buku.
Kategorinya komplet: mulai dari buku umum, buku referensi ilmiah, sampai buku bacaan bergambar untuk anak-anak.
“Koleksi yang beragam membuat masyarakat memiliki banyak pilihan untuk belajar, menambah wawasan, maupun mencari informasi yang dibutuhkan,” jelas Rais.
Tapi, punya 40 ribu buku tidak akan ada gunanya kalau hanya dipajang rapi di rak yang berdebu. Buku itu harus bertemu dengan pembacanya.
Maka, Disperpusip tidak mau hanya duduk diam menunggu di loket pendaftaran. Mereka bergerak radikal menggandeng sekolah-sekolah. Sasarannya adalah para pelajar. Budaya membaca harus dipaksa ditanamkan sejak usia dini. Sejak gigi mereka masih susu.
Senjatanya ada dua. Namanya unik-unik: BABEKU dan SI BOLING.
Program pertama adalah BABEKU. Akronim dari: MemBAca dan BErkreasi dalam KUnjungan ke Perpustakaan.
Ini taktik merayu siswa agar mau datang langsung ke gedung perpustakaan pusat.
Pola kunjungannya diubah total. Tidak kaku. Tidak membosankan seperti perpustakaan zaman dulu yang mengharuskan orang diam tanpa suara.
Di program BABEKU, setelah membaca buku, anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas kreatif yang menyenangkan. Suasananya dibikin ceria.
Senjata kedua adalah SI BOLING. Kepanjangannya: Perpustakaan Keliling. Ini jurus pamungkas: jemput bola.
Gagasannya cerdas. Melalui armada mobil perpustakaan, layanan literasi langsung digas menuju sekolah-sekolah di pelosok desa yang lokasinya jauh dari pusat kota. Anak-anak tidak perlu keluar ongkos untuk mendatangi buku, bukulah yang mendatangi mereka.
“Kalau BABEKU mengajak siswa datang ke perpustakaan, SI BOLING justru membawa perpustakaan mendatangi siswa di sekolah,” kata Rais merangkum logika dua programnya.
Kombinasi antara kekuatan 40 ribu buku, ruang fasilitas yang makin nyaman, serta kreativitas program lapangan inilah yang membuat Disperpusip optimistis. Mereka yakin tren kenaikan kunjungan ini tidak akan kempis di tengah jalan.
Urusan literasi memang bukan perkara membalik telapak tangan. Tapi dari Batu kita melihat, jika birokrasinya kreatif dan mau menjemput bola, buku tidak akan pernah kehilangan pembaca setianya.
Kita tunggu saja, apakah target melampaui angka tahun lalu bisa benar-benar pecah di akhir tahun nanti. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




