MALANG POST – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu, tengah memperketat sistem deteksi dini melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) di tingkat desa guna memutus fenomena unik “lulus 10 masuk 10” yang menghambat penurunan drastis angka stunting di Kota Wisata Batu, Jumat (22/5/2026). Langkah intervensi medis dan pengetatan distribusi susu subsidi ini, digencarkan oleh Kepala Dinkes Kota Batu, Aditya Prasaja, demi mengejar target realistis pemerintah daerah. Untuk menekan prevalensi stunting, yang saat ini masih berkutat di kisaran 10 persen, agar bisa turun ke angka satu digit atau sekitar 9 persen.
Menurunkan angka stunting itu ternyata bukan perkara mudah. Tidak semudah membalik telapak tangan.
Pemkot Batu sudah habis-habisan. Berbagai program intervensi gizi sudah diguyurkan ke lapangan. Tapi, angka prevalensi stunting di Kota Batu seperti enggan bergeser jauh. Masih bertahan di kisaran 10 persen.
Mengapa begitu?
Dinas Kesehatan Kota Batu menemukan jawabannya. Ada tren unik di lapangan. Mereka menyebutnya: fenomena “lulus 10 masuk 10”.
Istilah itu sebenarnya sederhana, tapi bikin pusing kepala. Artinya: ketika petugas posyandu berhasil menyembuhkan dan meluluskan 10 balita dari kategori stunting, di saat yang sama muncul 10 balita dengan kasus stunting baru.

BALITA SEHAT: Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto saat melihat kondisi balita sehat di Kota Batu, kini Pemkot Batu terus mengejar penurunan stunting ke angka satu digit. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Siklusnya berputar terus. Impas. Akibatnya, grafik penurunan stunting di tingkat kota menjadi datar.
“Masih terjadi fenomena lulus 10 masuk 10. Yang kami upayakan sekarang adalah memutus siklus itu.”
“Caranya dengan memperketat pengawasan pada fase perlambatan pertumbuhan (growth faltering),” ujar Kepala Dinkes Kota Batu, Aditya Prasaja, kemarin.
Logika Aditya jelas. Idealnya, kalau ada 10 anak yang sembuh, kasus barunya tidak boleh lebih dari tiga anak. Baru angka stunting bisa merosot tajam.
Untuk memutus rantai itu, Dinkes Kota Batu kini mengubah strategi. Mereka tidak lagi hanya fokus mengobati anak yang sudah telanjur stunting. Pencegahan sejak dini kini menjadi kunci mati.
Para kader posyandu di tingkat terbawah, kini dilatih untuk lebih jeli. Mereka diminta tidak hanya melihat angka timbangan berat badan yang naik. Grafik pertumbuhan tinggi badan anak, juga harus dibaca dengan saksama.
Anda sudah tahu kelakuan sebagian orang tua: mereka merasa anaknya baik-baik saja hanya karena timbangannya bertambah.
Padahal, kenaikan berat badan yang tidak sesuai standar usia adalah lampu kuning. Sinyal bahaya menuju stunting.
“Kalau berat badan naik tapi tidak mencapai target minimal kelompok umur, itu sudah lampu kuning,” tegas Aditya.
Bukan hanya urusan isi piring makan atau asupan gizi. Faktor eksternal seperti cuaca ekstrem belakangan ini juga ikut menjadi biang kerok.
Anak-anak di Kota Batu belakangan sering terserang penyakit musiman. Batuk dan pilek secara berulang.
Saat anak sakit terus-menerus, energi dari makanan yang masuk ke tubuhnya habis digunakan untuk proses pemulihan. Bukan untuk pertumbuhan.
Akibatnya, berat dan tinggi badan anak macet. Sulit naik meski pola makannya sudah diperbaiki.
Di sinilah peran orang tua diuji. Mereka harus lebih peka menjaga lingkungan anak. Termasuk mengawasi pola jajan anak yang tidak sehat yang bisa memicu penyakit.
Kini, Pemkot Batu bertindak taktis. Mereka memaksimalkan layanan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Skrining kesehatan dibuat berlapis sejak dari tingkat desa.
Bantuan nutrisi, seperti distribusi susu subsidi, tidak boleh lagi salah sasaran. Datanya diperketat. Harus benar-benar jatuh ke tangan keluarga yang berisiko tinggi.
Aditya Prasaja menegaskan, institusinya menolak menyerah dengan keadaan. Target satu digit harus diraih tahun ini.
“Tetap kami upayakan turun satu digit,” ucapnya optimistis.
Perang melawan stunting ini memang tidak bisa dimenangi oleh dinas kesehatan sendirian.
Pemerintah bisa saja membagikan berkotak-kotak susu gratis, tapi kesadaran orang tua untuk rutin mengontrol grafik tumbuh kembang anak di posyandu adalah penentu utamanya.
Sebab, memutus siklus “lulus 10 masuk 10” hari ini adalah taruhan nyata untuk melahirkan generasi Kota Batu yang lebih sehat dan tangguh di masa depan. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




