SIDAK: Wali Kota Malang ketika berkunjung ke gudang Bulog, beberapa waktu lalu. Karena ada peningkatan harga pangan, membuat terjadi inflasi di Kota Malang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilisnya, pada Februari 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,74 persen (mtm). Padahal bulan sebelumnya, mengalami deflasi sebesar 0,10 persen (mtm).
Dengan kondisi tersebut, Kota Malang mengalami inflasi tahunan sebesar 4,81 persen (yoy), berada di bawah inflasi tahunan Jawa Timur sebesar 4,88 persen (yoy). Namun di atas inflasi tahunan Nasional sebesar 4,76 persen (yoy).
Dalam rilis yang diterima Malang Post, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang menulis, inflasi IHK pada Februari 2026, terutama didorong oleh peningkatan harga kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau. Andil inflasinya sebesar 0,48 persen (mtm).
“Kalau berdasarkan penyebabnya, inflasi Kota Malang terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai merah. Masing-masing dengan andil sebesar 0,20 persen, 0,17 persen, 0,10 persen, 0,07 persen, dan 0,02 persen (mtm),” jelas Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi.
Kenaikan harga komoditas pangan (cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai merah), imbuhnya, disebabkan oleh penurunan pasokan di tengah curah hujan yang tinggi dan meningkatnya permintaan pada awal Ramadan 1447 H.
Sementara kenaikan harga emas perhiasan, terjadi sejalan dengan tren peningkatan harga komoditas emas yang masih berlanjut.

PIMPINAN BARU: Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi. (Foto: Istimewa)
Mantan Deputi Direktur KPwBI Sumatera Utara ini menyebut, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh beberapa komoditas yang mencatatkan deflasi. Seperti bensin, wortel, sawi putih/pecay/pitsai, bawang merah, dan tarif kereta api.
“Komoditas bensin memberikan andil deflasi sebesar -0,05 persen (mtm), sementara empat komoditas lainnya, memberikan andil terhadap deflasi masing-masing sebesar -0,01 persen (mtm),” papar mantan Kepala Divisi UMKM di Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur ini.
Penurunan harga bensin, imbuhnya, terjadi seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi (Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamax Green, Dexlite, Pertamina Dex) per 1 Februari 2026.
Adapun penurunan harga wortel, sawi putih/pecay/pitsai, dan bawang merah disebabkan oleh pasokan yang tetap terjaga.
Tarif kereta api juga mengalami penurunan seiring dengan program diskon tarif kereta api dari PT KAI (Persero) sebesar 30 persen dalam rnagka mendukung angkutan Lebaran 2026.
Sekalipun demikian, tekanan inflasi di Kota Malang pada Februari 2026, masih sejalan dengan kondisi di tingkat Provinsi Jawa Timur dan Nasional.
Hal ini tidak terlepas dari koordinasi solid yang dilakukan TPID melalui sinergi kolaboratif dalam pengendalian inflasi. Seperti pelaksanaan GPM Serentak oleh TPID Kota Malang, monitoring harga bahan pangan pokok selama bulan Februari 2026 oleh TPID Kota Malang. Serta sidak pasar oleh Satgas Pangan Kota Malang, untuk memastikan ketersediaan pasokan.
“Menghadapi risiko meningkatnya tekanan inflasi pada periode Idul Fitri 1447 H, yang jatuh pada bulan Maret, TPID akan berupaya meningkatkan intensitas pemantauan harga dan melakukan intervensi melalui operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga kebutuhan pokok,” kata Indra.
Sinergi kebijakan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan Bank Indonesia akan terus dilanjutkan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan penguatan program 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi serta Komunikasi efektif) untuk menjaga level inflasi berada dalam rentang sasaran 2,5 ± 1 persen (yoy). (Ra Indrata)




