MALANG POST – Desa Bulukerto di Kecamatan Bumiaji kembali menegaskan jati dirinya sebagai desa berbasis ekologi. Kali ini lewat kain batik bernilai filosofi tinggi. Pemdes Bulukerto resmi melaunching Batik Kamulyan, batik tulis bermotif Elang Jawa yang digadang menjadi identitas khas desa sekaligus motor penggerak ekonomi warga.
Peluncuran produk unggulan tersebut berlangsung hangat dan sarat makna. Ketua Dekranasda Kota Batu, Siti Faujiyah Nurochman hadir langsung meresmikan.
Momentum ini bukan sekadar seremoni peluncuran produk kriya. Lebih dari itu, Batik Kamulyan menjadi simbol komitmen desa dalam merawat lingkungan sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat.
Di balik motif anggun Elang Jawa, ada tangan-tangan terampil tujuh ibu pembatik yang sehari-hari berkarya di galeri batik milik desa. Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, secara khusus memperkenalkan para pembatik.
“Kami telah meresmikan produk unggulan desa. Saya persilakan para ibu pembatik maju agar para tamu undangan mengenal langsung sosok-sosok terampil di balik karya ini,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Langkah sederhana itu menjadi bentuk penghargaan atas proses panjang yang telah mereka lalui. Mulai dari pelatihan, eksplorasi motif, hingga penyempurnaan desain yang kini resmi diperkenalkan sebagai Batik Kamulyan.
Pemilihan motif Elang Jawa bukan tanpa alasan. Sejak 2023, Pemdes Bulukerto menjalin kerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk melindungi populasi Elang Jawa yang tersisa di wilayah tersebut.

BATIK KAMULYAN: Ketua Dekranasda Kota Batu, Siti Faujiyah Nurochman saat melihat keindahan Batik Kamulyan yang baru saja diluncurkan Desa Bulukerto. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Saat ini, tercatat hanya tiga ekor Elang Jawa yang masih bertahan di kawasan Bulukerto. Fakta itu menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab moral bagi warga.
“Elang Jawa merupakan satu-satunya spesies endemik yang masih bertahan di Kota Batu. Ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab kita untuk menjaganya,” jelas Suhermawan.
Burung pemangsa yang juga dikenal sebagai simbol negara itu banyak dijumpai di kawasan Gunung Pucung. Karena itu, motif Elang Jawa dinilai tepat menjadi identitas khas desa.
“Upaya ini selaras dengan visi program Batu SAE yang menitikberatkan keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian ekologi. Desa tak ingin sekadar tumbuh secara ekonomi, tetapi juga tetap menjaga harmoni dengan alam,” Katanya.
Nama Kamulyan sendiri diambil dari inspirasi Sumber Umbul Gemulo. Kata ‘Gemulo’ diyakini berasal dari kata ‘Mulyo’ yang berarti mulia, sejahtera dan bermartabat.
“Melalui batik ini, kami berdoa agar masyarakat Desa Bulukerto senantiasa mendapatkan kemuliaan dan kesejahteraan dalam kehidupannya. Semoga langkah kecil ini menjadi titik tolak kemajuan besar bagi desa,” imbuhnya.
Dengan filosofi tersebut, Batik Kamulyan tak hanya menjual estetika, tetapi juga narasi dan nilai.
Ketua Dekranasda Kota Batu, Siti Faujiyah Nurochman menyampaikan apresiasi atas lahirnya batik khas Bulukerto. Ia bahkan mengaku ingin mengenakan batik tersebut saat acara berlangsung. Namun karena persiapan peluncuran yang relatif mendadak, batiknya belum rampung.
“Insyaallah setelah ini saya akan bangga mengenakannya,” ujarnya.
Ia menegaskan komitmen Dekranasda untuk mengawal produk UMKM agar mampu naik kelas. Bahkan busana yang dikenakannya saat itu merupakan karya pengrajin batik dan desainer muda asli Kota Batu.
“Kita harus mengangkat budaya dan potensi lokal agar lebih dikenal luas,” tegasnya.
Menurutnya, Batik Kamulyan tidak boleh berhenti pada seremoni peluncuran. Perlu strategi pemasaran, inovasi desain, serta pengembangan produk turunan agar mampu menembus pasar lebih luas, bahkan nasional.
Batik, lanjutnya, tak melulu soal kain dan busana. Motif khas bisa dikembangkan menjadi tas, aksesori, hingga produk kreatif lain yang memiliki nilai jual tinggi.
Ia juga mendorong perangkat desa dan lembaga adat menjadi contoh dengan mengenakan Batik Bulukerto dalam berbagai kegiatan resmi.
“Jika perangkat desa memakainya, itu akan menjadi promosi yang efektif. Terus semangat dan ciptakan inovasi agar batik kita bisa go international,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




