FLANK: Gustavo Franca yang terus mendapat pengawalan ketat dari Kerim Palic, menjadikan gelandang serang asal Brasil itu sering mati kutu. Meski beberapa kali masih sempat mengirimkan umpan-umpan berbahaya. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Pelatih Arema FC, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, masih memendam kekecewaan karena gagal meraih tiga poin. Ketika Arema FC ditahan imbang 2-2 (1-0) tuan rumah Madura United, di pekan ke-22 Super League musim 2025/2026, Sabtu (21/2/2026) malam kemarin.
Dalam laga yang berlangsung di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan, skuadra Singo Edan seharusnya bisa mendapatkan hasil lebih baik. Karena banyak peluang emas tercipta. Tapi gagal dimanfaatkan menjadi gol.
Yang lebih mengecewakan lagi, Arema FC juga gagal mempertahankan keunggulan 2-1, yang bertahan hingga menit ke-88. Gara-garanya pemain Arema FC tidak mampu menahan gempuran Madura United. Jorge Mendonca berhasil menanduk bola dari hasil tendangan penjuru, tanpa bisa dicegah.
Apalagi di babak pertama, gawang Arema sempat kebobolan lebih dulu oleh gol telat Junior Brandao di pengujung babak pertama. Meski kemudian Arema sempat berbalik unggul di awal babak kedua lewat dua gol cepat Dalberto Luan Belo dan Joel Vinicius.
Sayang, kemenangan Arema yang sudah di depan mata harus pupus tiga menit jelang laga bubar. Gol Jorge Mendonça memaksakan hasil imbang 2-2 mengakhiri laga ini.
“Sebetulnya, kami layak mendapatkan hasil yang lebih baik (daripada imbang). Kami menciptakan banyak peluang (untuk bikin gol lebih banyak),” kata Marcos Santos dalam post match press conference.
Sekali pun kecewa, namun pelatih asal Brasil itu tetap melayangkan pujian untuk para pemain Arema di laga yang dipimpin Wasit Naufal Adya Fairuski. Bukan untuk hasil imbang, melainkan lebih sebagai apresiasi atas perjuangan mereka selama 2×45 menit di lapangan.
Laga itu menjadi pertandingan keempat Arema secara beruntun tanpa kekalahan musim ini. Sebelumnya, Skuad Singo Edan sempat meraih tiga kemenangan berturut-turut dengan clean sheet.
“Terlepas dari hasil pertandingan, saya mengapresiasi para pemain Arema. Saya tidak senang dengan hasilnya. Tetapi saya bangga dengan penampilan mereka, khususnya di babak kedua,” tegasnya.
Wajar jika pelatih berlisensi Pro Conmebol ini melihat perubahan yang terjadi di babak kedua, sebagai sebuah kebangkitan untuk Arema.
Karena pada babak pertama, permainan yang digalang Hansamu Yama Pranata dan kawan-kawan, tidak berjalan sesuai skenario. Ditambah seringnya pemain melakukan kesalahan sendiri.
Beberapa pemain juga tampil under performance di babak pertama. Menjadikan skema serangan balik, maupun penetrasi menggunakan sayap, yang menjadi kekuatan Arema, tidak terlalu muncul.
Bahkan di babak pertama, gawang Arema harus kebobolan lebih dulu oleh gol telat Junior Brandao saat injury time.
Namun saat masuk babak kedua, kondisi langsung berubah. Arema pun hanya butuh waktu satu menit sejak peluit babak kedua dibunyikan, untuk bisa menyamakan kedudukan. Lewat gol cepat Dalberto Luan Belo. Serta empat menit kemudian Joel Vinicius, membuat Arema menjadi unggul 2-1.
Sayang, kemenangan Arema yang sudah di depan mata harus pupus tiga menit jelang laga bubar. Gol Jorge Mendonça memaksakan hasil imbang 2-2 mengakhiri laga ini.
“Babak pertama intensitasnya belum seperti yang kami inginkan. Namun di babak kedua, kami memberikan segalanya. Kami benar-benar merasuk ke dalam pertandingan,” kata Marcos.
Sebelum kebobolan oleh gol Madura United, Arema berusaha menyerang dan menguasai permainan.
Marcos mengakui, para penggawa Singo Edan kesulitan dalam menembus pertahanan lawan di paruh pertama.
Peluang demi peluang yang didapatkan terbuang sia-sia. Gol balasan Arema baru terjadi di awal babak kedua setelah konsolidasi di ruang ganti saat jeda.
“Itu adalah pertandingan yang sulit. Kami tahu bahwa Madura United semakin berkembang di setiap pertandingan, dan memang terbukti demikian di pertandingan ini,” sebut pelatih 48 tahun ini. (Ra Indrata)




