MALANG POST – Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di jalur wisata Kota Batu, kembali menjadi sorotan. Menyusul sejumlah insiden fatal dalam dua tahun terakhir.
Setelah kasus bus rem blong di Jalan Imam Bonjol pada 2024, kecelakaan serupa akibat dugaan kegagalan pengereman kembali terjadi di Jalan Patimura, pada 18 Februari lalu.
Dalam talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide FM, Senin (23/2/2026), Kanit Laka Satlantas Polres Batu, Ipda Agus Atang Wibowo menyebut, evaluasi terus dilakukan karena angka kecelakaan masih cukup tinggi.
“Selain itu, penyuluhan tertib lalu lintas juga dilakukan 4x dalam sepekan di sekolah, hingga kampanye keselamatan melalui media sosial dan pemasangan rambu di titik rawan,” katanya.
Untuk penyebab tertinggi terjadinya kecelakaan lalu lintas, Ipda Agus menyebut, karena faktor human error. Karenanya masyarakat diminta menghindari arogansi di jalan, memastikan kendaraan laik jalan, serta selalu mengutamakan keselamatan dan etika berlalu lintas.
Kabid Angkutan Dinas Perhubungan Kota Batu, Harijuni Susanto, menambahkan, pencegahan kecelakaan difokuskan pada faktor manusia melalui edukasi ke sekolah, sopir dan masyarakat.
“Karena selain human error, kondisi jalan dan faktor alam juga menjadi perhatian. Terutama di ruas Jalan Imam Bonjol dan Patimura yang kerap terjadi kasus rem blong,” sebutnya.
Sarana prasarana yang belum lengkap, tambahnya, seperti belum adanya rambu batas kecepatan di jalur turunan Imam Bonjol hingga Sultan Agung, menjadi evaluasi.
Sementara itu, Kepala Laboratorium Transportasi dan Penginderaan Jauh FT Universitas Brawijaya, Ir. Hendi Bowo Putro, ST., MT., menyebut, lebih dari 60 persen kecelakaan dipicu human error. Sisanya dipengaruhi kondisi jalan, kendaraan, cuaca atau kombinasi faktor tersebut.
“Sejauh ini upaya yang dilakukan Polisi dan Dishub Kota Batu berupa edukasi yang menyasar SDM dinilai tepat. Namun karakter Kota Batu sebagai kota wisata dengan banyak pendatang juga perlu jadi perhatian,” tandasnya.
Menurut Hendi, banyak wisatawan belum paham kontur dan geometrik jalan di Kota Batu yang berbeda dengan daerah asal mereka. Sehingga perilaku tertib berkendara sangat penting. Terlebih jalan Malang–Batu secara fungsi arteri, namun terasa seperti jalan lokal dengan hambatan samping yang tinggi.
Hendi menegaskan, jika infrastruktur belum sepenuhnya ideal, maka keselamatan harus dimulai dari kesadaran pribadi untuk lebih waspada dan tidak ugal-ugalan.
Edukasi juga perlu diperluas melalui media sosial, website, serta informasi titik rawan laka yang mudah diakses wisatawan sebelum memasuki Kota Batu. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




