DI penghujung tahun lalu, saya berbincang dengan seorang dosen sastra Arab di sebuah universitas ternama di Malang. Beragam topik tersaji, tetapi ada satu hal yang terasa relevan untuk direnungkan bersama: pentingnya menghadirkan penghayatan dalam pendidikan.
Kita semua sepakat bahwa pendidikan adalah pintu utama membentuk karakter manusia. Lewat pendidikan, kita berharap lahir figur-figur unggul yang mampu menghadapi dinamika zaman dengan kebajikan.
Namun praktik di lapangan sering kali belok: pembelajaran terasa sekadar seremonial di ruang kelas, tanpa penghayatan yang menyentuh nurani.
Akibatnya, murid dan mahasiswa lebih sibuk mengejar angka nilai ketimbang membangun karakter.
Saya teringat contoh-contoh konkret yang sering terlihat di sekitar kita. Di kalangan pelajar, adakalanya kebiasaan berkata “permisi” saat lewat di hadapan orang tua kian memudar.
Banyak yang lebih memilih gadget daripada menghormati pembicara di depan mereka. Ketika guru masih berada di kelas, ucapan “izin” untuk keluar kadang tidak terdengar.
Bahkan, bagi pelajar di bawah umur, merokok seolah menjadi bagian normal dari keseharian. Semua hal itu terasa memperihatinkan demi masa depan bangsa. Kematangan karakter, di mata banyak pihak, adalah benteng menghadapi dinamika zaman secara arif dan bijaksana.
Karena itu, penghayatan pendidikan menjadi begitu krusial.
Lantas, apa sebenarnya maksud penghayatan dalam pendidikan? Saat berdiskusi dengan dosen tersebut, muncullah istilah atsar—sebagai jejak mendalam yang ditinggalkan. Dalam konteks pendidikan pondok pesantren, atsar dipahami sebagai kesan mendalam yang membentuk kompas hidup.
Penghayatan bukan sekadar memahami materi secara intelektual; ia harus menyentuh sisi moral individu—nilai, empati, etika, dan tanggung jawab sosial.
Ketika seorang pendidik menyampaikan ilmu, ia tidak hanya mentransfer informasi dari buku atau otak, tetapi ilmu itu seharusnya menjadi bagian dari panduan hidup dalam membentuk perilaku dan tindakan sehari-hari.
Lalu, bagaimana mewujudkan penghayatan dalam praktik pendidikan? Ada beberapa pendekatan kongkret yang dapat diimplementasikan:
PEMBELAJARAN BERBASIS TELADAN (modeling learning): Fokus utama bukan fasilitas pembelajaran, melainkan teladan yang ditampilkan guru. Guru harus menjadi figur utama yang perilakunya ditiru murid, baik di dalam maupun di luar kelas.
Uswatun hasanah, contoh perilaku jujur, disiplin, konsisten, dan tidak tergesa-gesa bermain gadget di hadapan murid, jadi standar yang bisa ditiru. Harapannya, lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang selaras dengan ajaran agama, norma sosial, dan rasa cinta tanah air.
PEMBELAJARAN MENDALAM (Deep Learning): Menekankan keterlibatan aktif murid dan makna yang dalam, bukan sekadar pemahaman dangkal. Praktiknya, murid diajak refleksi di akhir pembelajaran: “Apa makna materi ini bagi diri saya?” Materi juga diajarkan lewat tugas berbasis proyek kolaboratif yang menghasilkan karya nyata yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
PENDEKATAN KONTEKSTUAL (Contextual Teaching and Learning): Guru menghubungkan materi dengan realitas hidup sehari-hari murid. Isu aktual di sekitar sekolah dijadikan bahan diskusi agar siswa memahami relevansi materi. Ruang bagi murid untuk mengungkapkan pandangan dan pendapatnya juga diperlukan, sehingga mutu diskusi tidak hanya datang dari guru.
Pada akhirnya, peran pendidik menjadi sangat krusial. Guru dan dosen perlu menjadi fasilitator sekaligus teladan penghayatan, membangkitkan rasa ingin tahu, menyediakan lingkungan aman untuk bereksplorasi secara intelektual maupun emosional, serta mengaitkan materi dengan nilai-nilai kehidupan.
Penghayatan bukan tugas satu pihak; ia adalah kerja kolektif antara pengajar, murid, orang tua, dan masyarakat. Jika semua pihak bersinergi, pendidikan tidak sekadar melahirkan lulusan yang pandai menghafal atau menghitung, melainkan insan yang matang secara moral—yang mampu membuat keputusan bijak, berempati, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sosialnya.
Akhirnya, kualitas pendidikan diukur tidak semata dari angka di rapor, melainkan dari dampak penghayatan yang tampak dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Karena itulah, membangun penghayatan dalam pendidikan adalah investasi panjang yang menumbuhkan manusia utuh, tidak hanya otak terasah, tetapi juga hati yang matang. (***)




