MALANG POST – Dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Masjid Al-Hikmah Universitas Negeri Malang (UM) memperkenalkan rangkaian program unggulan bertajuk “Kemilau Ramadan.” Program ini dirancang tidak hanya untuk memperkuat iman dan spiritualitas sivitas akademika UM.
Tetapi juga untuk membentuk karakter mulia, meningkatkan produktivitas akademik, serta mempererat kebersamaan antarwarga kampus, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.
Gagasan inti dari pelaksanaan program ini adalah menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri. Ketua Umum Pengelola Masjid Al-Hikmah UM, Prof. Dr. Yusuf Hanafi, S.Ag., M.Fil.I., menegaskan. Bahwa Ramadan seharusnya dipandang sebagai madrasah hidup yang membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku.
“Inti Ramadan adalah pembentukan karakter. Ramadan menjadi madrasah bagi seluruh individu agar setelahnya mampu menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya saat diwawancarai Tim Humas UM di Masjid Al-Hikmah.
Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Pengelola Masjid Al-Hikmah UM, Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si., menekankan pentingnya menjaga produktivitas akademik meskipun jadwal perkuliahan menyesuaikan dengan ritme ibadah puasa.
“Puasa melatih kita menahan diri. Mahasiswa harus mampu menahan rasa malas, mengantuk, dan hawa nafsu dalam proses belajar,” katanya, sembari menegaskan bahwa pembelajaran tidak boleh berhenti selama Ramadan.
Salah satu program yang diperkirakan akan menjadi magnet utama adalah buka puasa bersama selama 30 hari penuh. Masjid Al-Hikmah UM menyiapkan 500 paket berbuka setiap hari, yang ditujukan tidak hanya untuk mahasiswa, namun juga dosen, tenaga kependidikan, serta jamaah umum.
Sistem distribusi paket berbuka dirancang terstruktur dengan kupon berbuka yang dibagikan menjelang waktu berbuka, memastikan ketersediaan dan kelancaran antrian bagi para peserta.
Tidak hanya fokus pada buka puasa, rangkaian program “Kemilau Ramadan” juga mencakup kajian terjadwal maupun kajian insidental, dengan beragam topik yang relevan untuk meningkatkan kapasitas ilmiah maupun spiritual.
Program-program tersebut antara lain pelatihan penulisan karya ilmiah berbasis Al-Qur’an, taksim tilawah untuk peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an secara intonasi, serta tartil Al-Qur’an sebagai upaya memperdalam muraja’ah dan hafalan.
Kepada sivitas kampus juga akan diselenggarakan berbagai ibadah yang diakhiri dengan pelaksanaan Salat Idulfitri, sebagai bentuk syiar kebersamaan dan keceriaan umat.
Prof. Yusuf mengajak seluruh warga kampus untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum peningkatan kualitas diri secara menyeluruh.
“Marilah kita sambut Ramadan dengan kegembiraan dan kesungguhan dalam beribadah,” ujar beliau. Sementara itu, Prof. Taufiq menegaskan bahwa Ramadan seyogianya menjadi tolok ukur konsistensi spiritual serta cermin ketakwaan bagi setiap individu yang menjalankannya.
“Ramadan adalah cermin ketakwaan kita,” pungkasnya, menutup wawancara dengan harapan bahwa program Kemilau Ramadan mampu membangkitkan semangat beribadah dan solidaritas di antara sivitas UM.
Rangkaian program ini diharapkan dapat menjadi tonggak budaya kampus yang mendorong integrasi antara aspek spiritual, akademik, dan sosial.
Pihak pengelola Masjid Al-Hikmah UM berjanji akan terus memantau kelancaran pelaksanaan seluruh program serta mengevaluasi dampaknya terhadap peningkatan kualitas diri, kebersamaan dan etos belajar mahasiswa serta civitas akademika UM selama bulan suci Ramadan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




