MALANG POST – Pemkot Kota Batu kian serius membuka diri terhadap kolaborasi internasional yang berorientasi hasil nyata. Tak sekadar kerja sama akademik, kolaborasi lintas negara itu diarahkan untuk memperkuat hilirisasi riset yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata.
Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Nurochman saat menerima jajaran Graduate School of International Development (GSID) Nagoya University, Jepang, bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, di Gedung Bina Praja, Rumah Dinas Wali Kota Batu.
Menurut Cak Nur sapaan Nurochman, Kota Batu terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama internasional. Namun, ia menekankan, arah kolaborasi harus jelas dan aplikatif. Riset yang dilakukan tidak boleh berhenti pada tataran konsep atau publikasi ilmiah semata, tetapi mampu diterjemahkan menjadi kebijakan dan program konkret.
“Kolaborasi internasional harus menjawab kebutuhan daerah. Kami ingin hasil riset itu benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama petani dan pelaku pariwisata,” tegas Kamis, (19/2/2026).

PERTEMUAN : Wali Kota Batu Nurochman saat menggelar pertemuan dengan jajaran Graduate School of International Development (GSID) Nagoya University, Jepang, bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi riset, agar inovasi yang dihasilkan dapat direplikasi dan diintegrasikan dalam program pembangunan daerah. Karena itu, sejak tahap awal perencanaan, perangkat daerah terkait diminta terlibat aktif agar sinergi lintas sektor dapat terbangun dengan baik.
“Kami tidak ingin kerja sama ini hanya menjadi agenda rutin. Harus ada output yang jelas, terukur dan bisa langsung diimplementasikan,” imbuhnya.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan GSID Nagoya University yang dipimpin Prof. Isamu Okada menyampaikan rencana pengiriman 15–20 mahasiswa magister (S2) ke Kota Batu pada September mendatang. Program ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan bagi mahasiswa Jepang, sekaligus ruang kolaborasi dengan Pemerintah Kota Batu dalam mengembangkan model pembangunan berbasis potensi lokal.
Tim GSID juga memaparkan sejumlah praktik baik dari Jepang yang dinilai relevan untuk dikaji dan diadaptasi. Salah satunya konsep Michi-no-Eki, yakni fasilitas terpadu di jalur utama yang berfungsi sebagai rest area, pusat informasi wisata, sekaligus etalase promosi produk lokal dan UMKM.

Selain itu, diperkenalkan pula pengembangan pertanian berbasis pengalaman wisata (experiential tourism), hingga strategi pengemasan komoditas unggulan bernilai tinggi, seperti mangga premium dari Prefektur Miyazaki, yang dikenal memiliki standar kualitas ketat dan segmentasi pasar eksklusif.
Model-model tersebut dinilai sejalan dengan karakter Kota Batu yang memiliki kekuatan di sektor hortikultura sekaligus destinasi wisata. Dengan pendekatan riset terapan, potensi tersebut diharapkan mampu diolah menjadi produk dan layanan bernilai tambah tinggi.
Pertemuan ini turut dihadiri sejumlah kepala SKPD di lingkungan Pemkot Batu, tenaga ahli wali kota, akademisi FEB UB, serta perwakilan instansi vertikal terkait. Ke depan, penjajakan kerja sama ini akan ditindaklanjuti melalui penyusunan rencana kerja bersama yang lebih teknis, terukur dan berorientasi pada hasil nyata. (Ananto Wibowo)




