MALANG POST – Ramadan tidak sekadar momentum menahan lapar dan dahaga bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., menegaskan bahwa Ramadan 1447 Hijriah adalah titik tolak kebangkitan peradaban para intelektual kampus ini.
Pernyataan itu disampaikan dalam ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin, Selasa malam 17 Februari 2026.
“Nabi puasa bukan hanya menahan diri, tetapi membentuk karakter dan intelektual untuk melahirkan generasi Ulul Albab yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan nyata,” ujar Nazaruddin.
Rektor menekankan agar bulan suci ini tidak menjadi rutinitas ritual belaka, melainkan ruang pembentukan etos kerja, inovasi, dan kemajuan sosial.
Ia menceritakan bahwa bangsa-bangsa maju lahir dari etos perbaikan berkelanjutan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Ia menegaskan bahwa integrasi dimensi ibadah ke dalam kehidupan sehari-hari akan mendorong kemajuan, bukan perusakan.
“Jika semua dimensi ibadah terintegrasi dalam keseharian, always ada dorongan untuk kemajuan baru,” tegasnya.

Nazar mengaitkan komitmen ini dengan visi akademik UMM sebagai Kampus Putih yang menjadikan Ramadan sebagai fondasi Center of Excellence.
Pendidikan, menurutnya, adalah instrumen strategis untuk mereformasi bangsa dari karakter pasif menjadi pribadi yang tangguh dan progresif.
Mahasiswa dan dosen didorong menjadi Ulul Albab: pemikir cerdas, peka terhadap tanda-tanda Kebesaran Allah, dan mampu menelurkan kebudayaan luhur serta pembaruan tiada henti demi kemaslahatan umat.
Terkait tantangan sosial, Nazar membahas ketertiban ruang publik hingga fenomena tragedy of the commons.
Ia menilai puasa sebagai latihan disiplin untuk menahan ego individual maupun sektoral, sehingga perilaku koruptif bisa dicegah karena menghargai hak orang lain di ruang publik.
Lebih lanjut, ia menguraikan makna jihad dalam konteks modern: bukan lagi semata-mata perang, melainkan ikhtiar maksimal dalam bekerja dan berkarya.
Seorang muslim yang berpuasa diharapkan memiliki etos kerja superior, solutif, dan inovatif, sehingga umat tidak hanya menjadi konsumen peradaban, tetapi produsen kebudayaan yang diakui dunia.
“Bangsa unggul adalah yang selalu berpikir untuk melakukan perubahan yang membawa kemajuan dan membesarkan hati semua orang,” ujar Nazar, yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM.
Ceramah ditutup dengan harapan agar momentum Ramadan menjadi gerakan kolektif. UMM diharapkan melahirkan insan saleh secara ritual, sosial, dan intelektual, serta mampu memberikan solusi konkret bagi permasalahan bangsa.
“Marilah kita jadikan Ramadan sebagai titik berpikir untuk mewujudkan the society of Ulul Albab,” pungkasnya. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




