Dr. Ir. Mohammad Reza Tirtawinata Dosen IPB Sekaligus Peneliti Buah Durian (tengah) Sedang Menjelaskan Jenis-jenis Durian Nusantara dan Disambut Dengan Sesi Tanya Jawab Oleh Peserta (kiri dan kanan). (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) melalui Departemen Budidaya Pertanian menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Peluang Durian Nusantara Menjadi Primadona Komoditas Strategis Nasional”.
Sekaligus rangkaian kenduren peresmian Kelompok Kajian Durian FP UB. Kegiatan berlangsung di Gedung Sentral (GS) 1.1 dan dihadiri oleh Dekan FP UB, ketua asosiasi Durian Research Center, peneliti tanaman durian FP UB, perwakilan BRIN, serta pengamat durian dari IPB.
FGD berfungsi sebagai forum diskusi lintas akademisi dan praktisi untuk memperkuat riset serta pengembangan komoditas durian sebagai salah satu potensi unggulan hortikultura Indonesia. Melalui kegiatan ini, FP UB berupaya membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan komunitas penggiat durian guna mendorong pengembangan durian secara ilmiah dan berkelanjutan.
Dekan FP UB, Prof. Mangku Purnomo, dalam sambutannya menekankan pentingnya perubahan paradigma pertanian dari sekadar komoditas hobi menjadi sistem industri berbasis ilmu pengetahuan.
“Kita punya potensi sangat besar, tetapi menjadikannya sebagai industri masih menjadi tantangan. Pertanian harus bergerak menuju bioindustri, dengan riset, teknologi, dan sumber daya manusia yang siap. Kita tidak bisa hanya berhenti pada komoditas hobi, tetapi harus berpikir industri dan pasar global,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa FP UB mulai mendorong pemanfaatan teknologi pemuliaan modern, termasuk pemetaan genetik dan penyuntingan gen, untuk mempercepat pengembangan varietas durian unggul.
“Kami sudah memiliki peralatan yang cukup lengkap untuk memetakan genetik durian. Cara konvensional membutuhkan waktu sangat lama, sehingga pendekatan bioteknologi menjadi peluang agar pengembangan varietas unggul dapat dipercepat,” tambahnya.
Menurut Prof. Mangku, Indonesia perlu berani berpikir dalam skala besar jika ingin menjadikan durian sebagai komoditas strategis nasional.
“Kalau ingin bersaing secara global, kita harus memikirkan pengelolaan kebun dalam skala industri, bukan hanya beberapa hektare. Artinya perlu benih unggul, teknologi budidaya, pemasaran, serta kolaborasi yang kuat,” tegasnya sebelum secara resmi membuka kegiatan FGD.
Dalam sesi materi, Dekan FP UB juga menyoroti bahwa sektor pertanian Indonesia selama ini belum memiliki arah pengembangan komoditas hortikultura yang sistematis dan berkelanjutan.
Ia menilai keberhasilan beberapa komoditas lebih banyak didorong oleh komunitas pecinta daripada desain kebijakan industri berbasis riset jangka panjang. Karena itu, keberadaan asosiasi dan kelompok kajian dinilai penting sebagai penghubung antara riset akademik dan kebutuhan industri.
Pemateri berikutnya, Dr. Ir. Mohammad Reza Tirtawinata, M.S., memberikan arahan teknis pengembangan durian nasional. Ia menekankan bahwa budidaya durian harus menyesuaikan habitat asli masing-masing varietas.
“Indonesia seharusnya membudidayakan durian sesuai habitat hidup varietasnya di tiap daerah. Pilih varietas lokal terbaik, kemudian diperbanyak dan dikembangkan di wilayah yang paling sesuai,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan pentingnya top working dan pengelompokan kualitas buah sesuai kebutuhan pasar.
“Durian perlu dilakukan grading kualitas, minimal kelas 7 sampai 9, disesuaikan dengan segmen pasar. Namun durian sangat sensitif terhadap perubahan iklim dan cuaca, sehingga ini menjadi perhatian serius dalam pengembangan ke depan,” tambahnya.
Melalui peresmian Kelompok Kajian Durian FP UB, fakultas berharap riset terkait genetika, budidaya, hingga hilirisasi durian dapat dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan. Kolaborasi dengan peneliti nasional dan komunitas penggiat diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen durian unggul sekaligus membuka peluang ekonomi baru di sektor hortikultura.
FGD berlangsung hangat dan interaktif, menandai komitmen bersama untuk menjadikan durian Nusantara tidak hanya populer di tingkat lokal, tetapi juga berdaya saing di pasar internasional sebagai komoditas strategis nasional. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




