MALANG POST – Upaya menekan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batu terus digencarkan. Wali Kota Batu Nurochman turun langsung memimpin Gerakan Masyarakat Hidup Sehat melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serentak di RW 9, RW 10, dan RW 12 Kelurahan Sisir, kemarin.
Didampingi Ketua TP PKK Kota Batu Siti Faujiyah, jajaran perangkat daerah, serta tim dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu, Cak Nur menyusuri gang-gang permukiman warga. Mereka memeriksa tempat penampungan air, talang rumah, hingga barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
PSN kali ini difokuskan pada penguatan gerakan 3M Plus. Yakni menguras tempat penampungan air secara berkala, menutup rapat tempat penyimpanan air, mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas, serta langkah pencegahan tambahan seperti menabur larvasida dan menggunakan kelambu atau lotion antinyamuk.
“Penurunan kasus di 2025 patut kita syukuri. Tapi jangan sampai lengah. PSN harus jadi kebiasaan rutin dari rumah masing-masing. Kuncinya ada pada partisipasi masyarakat,” tegas Cak Nur.

DBD MENGINTAI: Wali Kota Batu Nurochman saat turun langsung melakukan pemberantasan sarang nyamuk, karena hingga saat ini DBD masih mengintai. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Selain intervensi pemerintah, perubahan perilaku masyarakat juga menjadi faktor penentu. Ia mengapresiasi kesadaran warga yang semakin aktif menjaga kebersihan lingkungan dan menjalankan 3M Plus secara mandiri.
“Kolaborasi antara pemerintah dan warga menjadi benteng utama. PSN rutin dari pemerintah, ditambah kesadaran warga di rumah masing-masing, kami yakin hasilnya lebih maksimal,” ujarnya.
Data Dinkes Kota Batu menunjukkan, tren kasus DBD memang fluktuatif dengan pola siklus tiga tahunan. Pada 2023 tercatat 129 kasus. Angka itu melonjak tajam pada 2024 menjadi 444 kasus, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Memasuki 2025, kasus turun signifikan menjadi 159 kasus. Sementara hingga Januari 2026, sudah tercatat 14 kasus. Meski relatif terkendali, Pemkot Batu tak ingin kecolongan seperti lonjakan pada 2024 lalu.
“Kita belajar dari 2024. Lonjakan terjadi saat kewaspadaan menurun. Karena itu, intervensi harus dilakukan sebelum masa penularan, terutama menjelang April dan Mei,” ujar Kepala Dinkes Kota Batu, Aditya Prasaja.
Menurut dia, keberhasilan menekan kasus pada 2025 tak lepas dari strategi PSN massal yang digelar serentak di seluruh wilayah Kota Batu. Pendekatan jemput bola dilakukan sebelum puncak musim hujan, saat populasi nyamuk Aedes aegypti berpotensi meningkat drastis.

“Momentum itu penting. PSN dilakukan sebelum masa penularan. Jadi kita putus dulu siklusnya sebelum berkembang,”jelasnya.
Lebih lanjut, tak hanya memantau PSN, rombongan juga menyempatkan diri mengunjungi sejumlah warga rentan di Kelurahan Sisir. Di antaranya penderita penyakit paliatif, balita stunting, serta lansia. Kunjungan tersebut untuk memastikan mereka mendapat perhatian dan pendampingan yang optimal.
Sebagai bentuk dukungan konkret, wali kota menyerahkan paket PSN kepada para ketua RW di lokasi kegiatan. Paket tersebut berisi perlengkapan penunjang pencegahan DBD di tingkat lingkungan.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan fogging saat kasus meningkat. Pencegahan berbasis rumah tangga melalui 3M Plus dinilai jauh lebih efektif dan berkelanjutan.
“Jika setiap rumah disiplin menjaga kebersihan dan rutin melakukan PSN, siklus tiga tahunan yang kerap memicu lonjakan kasus bisa ditekan sejak dini,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




