MALANG POST – Transformasi digital di ruang-ruang kelas sekolah dasar (SD) mulai digeber serius oleh Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Batu. Tak ingin sekadar wacana, seluruh guru SD negeri dan swasta se-Kota Batu dikumpulkan dalam agenda Pendampingan Pembelajaran Digitalisasi Pendidikan yang digelar di SDK Sang Timur, 13–14 Februari 2026.
Langkah ini menjadi penegasan bahwa digitalisasi pembelajaran bukan lagi opsi tambahan, melainkan kebutuhan mendesak.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat menegaskan, peningkatan kapasitas guru menjadi fondasi utama. Menurutnya, transformasi digital tidak akan berjalan tanpa kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di sekolah.
“Kami terus meng-upgrade kompetensi para pendidik. Pendampingan ini untuk memastikan kualitas pendidikan dan membuatnya tetap kompetitif,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Alfi menyebut, tantangan pendidikan saat ini tidak ringan. Tren hasil PISA menurun, skor literasi, numerasi dan sains cenderung stagnan dan menurun dibanding negara lain, ini menjadi alarm serius.

DIGITALISASI: Kepala Dindik Kota Batu, Alfi Nurhidayat saat membuka program pendampingan pembelajaran digitalisasi pendidikan untuk guru SD se Kota Batu. (Foto: Dindik Kota Batu)
Disisi lain, daya saing SDM Indonesia di tingkat global juga masih perlu digenjot. Dimana indeks kualitas tenaga kerja Indonesia rata-rata masih dibawah negara Asean. Belum lagi persoalan klasik berupa ketimpangan akses infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) antarwilayah.
Karena itu, digitalisasi dipandang sebagai salah satu jawaban strategis. Perubahan teknologi menuntut pendidikan beradaptasi agar siswa siap menghadapi era digital dan kompetisi global.
Ada empat misi utama yang dibawa dalam transformasi ini. Pertama, pemerataan akses pendidikan berkualitas tanpa terhambat jarak dan kondisi geografis. Kedua, peningkatan mutu pembelajaran melalui integrasi teknologi agar metode belajar lebih interaktif dan kontekstual.
Ketiga, pemberdayaan guru dengan meningkatkan kemahiran dalam mengoperasikan perangkat dan aplikasi pembelajaran digital. Keempat, menyiapkan siswa agar adaptif dan siap menghadapi tantangan era digital.
“Digitalisasi bukan sekadar menghadirkan perangkat. Yang kita bangun adalah ekosistem pembelajaran yang utuh,” tegasnya.
Ia merinci, ekosistem tersebut bertumpu pada tiga pilar. Yakni teknologi (perangkat keras, perangkat lunak, jaringan dan konten digital), environment atau ruang belajar yang fleksibel dan mendukung pemanfaatan teknologi, serta process berupa metode pembelajaran interaktif yang berpusat pada siswa.

Secara regulatif, program ini mengacu pada Inpres Nomor 7 Tahun 2025 dan Perpres Nomor 46 Tahun 2025 tentang percepatan digitalisasi dan pengadaan perangkat pendidikan. Dengan payung hukum tersebut, pemerintah daerah memiliki landasan kuat untuk mempercepat penyediaan infrastruktur.
Ke depan, fokus Dindik Kota Batu tidak hanya pada pelatihan guru. Penyediaan internet sekolah, perangkat pembelajaran, papan interaktif, hingga pengembangan sistem pembelajaran terintegrasi juga masuk dalam roadmap. Penguatan kapasitas tenaga kependidikan menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Alfi optimistis, jika dijalankan konsisten, digitalisasi akan mendorong lahirnya generasi yang lebih unggul dan adaptif. Terlebih, program ini juga sejalan dengan target besar Visi Indonesia Emas 2045.
“Kami ingin Kota Batu bukan hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi juga kota pendidikan yang lebih maju dan SAE,” tambahnya.
Dengan langkah awal berupa penguatan kompetensi guru, Dindik Kota Batu kini tengah menata fondasi. Tantangan memang masih ada, terutama soal pemerataan infrastruktur dan kesiapan sekolah. Namun, percepatan digitalisasi di jenjang sekolah dasar menjadi sinyal bahwa ruang kelas di Kota Batu bersiap memasuki babak baru pembelajaran berbasis teknologi. (Ananto Wibowo)




