MALANG POST – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) menindaklanjuti kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Blora melalui program International Workstation UNESCO.
Inisiatif ini menekankan pengembangan industri kreatif berbasis budaya dan bertujuan menyelaraskan agenda antara UNESCO dan Universitas Brawijaya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan melalui budaya lokal.
Langkah ini bertujuan mengawal wilayah-wilayah tersebut sebagai bagian dari inisiatif Kota Kreatif UNESCO. Sisi peluang bagi daerah lain, termasuk Kabupaten Blora, juga diangkat sebagai bagian dari peluang kemitraan ke depan.
Kegiatan berlangsung di Aula FIB UB pada Kamis, 12 Februari 2026 di aula FIB UB, dengan dihadiri langsung oleh Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si.
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa inisiatif ini memiliki potensi untuk mengangkat perekonomian daerah melalui budaya lokal dan kreativitas, serta meningkatkan kolaborasi lintas sektor.
“Kami didampingi UB dalam rangka mengeksplor potensi yang ada di Kabupaten Blora. Di sana ada Samin, Barongan dan kekayaan budaya lainnya,” tegasnya.
Menurutnya, kesenian Barongan Blora menjadi potensi kebudayaan yang bisa dikembangkan lebih luas lagi.
Memiliki masa historis yang turun temurun hingga ratusan tahun. Bahkan sudah mengakar di desa-desa atau sekolah yang ada di Kabupaten Blora dan sekitar.

Warek IV UB, Prof. Andi Kurniawan bersama jajaran Bupati Blora, Dr. Arief Rohman dalam acara diskusi kerja sama di gedung FIB UB pada Kamis (12/2/2026). (Foto: M. Abd. Rachman. Rozzi / Malang Post)
Sehingga Bupati Arief optimistis barongan bisa mendunia seperti Reog Ponorogo yang ada di Jawa Timur.
“Kalau Reog Ponorogo bisa mendunia, Barongan Blora juga pasti bisa dong. Apalagi kita ini kan sama-sama memiliki awalan yang sama antara Brawijaya dan Blora, jadi 2B ini akan berkolaborasi dengan pasti,” ujarnya dengan penuh tawa.
Selain kebudayaan, Bupati Blora juga menawarkan potensi gastronomi dan kuliner seperti Sate Blora, Soto Blora, Pecel Blora, hingga kuliner lainnya yang layak untuk ditampilkan di festival budaya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UB Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc menegaskan. Bahwa kerja sama ini adalah lanjutan kerja sama dengan kabupaten Blora setelah sebelumnya dalam bidang pertanian dan administrasi pemerintahan.
Kini, lanjutnya, kolaborasi tersebut diperluas ke sektor budaya dan pariwisata melalui Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dengan memanfaatkan posisi UB sebagai International Workstation UNESCO sejak beberapa tahun yang lalu.
Posisi strategis tersebut membuat UB harus mencari potensi budaya di Indonesia untuk dikembangkan menjadi kreatif industri hingga mendukung pembangunan di pedesaan.
Menurut Prof. Andi, kedatangan Bupati Blora menjadi hal yang dicari saat ini untuk Univesitas.
Ini menegaskan bahwa inisiatif ini tidak hanya berorientasi pada pelajar dan akademisi. Melainkan juga melibatkan komunitas serta pelaku industri untuk menciptakan ekosistem kreatif yang berkelanjutan.
UNESCO menekankan pentingnya pengembangan kapasitas lokal melalui kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis budaya.
“Kami berharap bisa memperkenalkan kebudayaan Blora hingga internasional. Hal ini didukung posisi UB sebagai International Workstation UNESCO,” ujarnya.
Ia juga menambahkan terkait hasil diskusi terdapat rencana untuk mengembangkan sumber daya manusia di Blora, baik di dunia pendidikan atau pemerintahan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




