MALANG POST – Sebanyak 50 rumah tangga berpartisipasi mendukung program pengelolaan sampah berbasis sumber Zero Waste Cities di Kota Batu. Program ini menekankan pada pemilahan sampah dari sumber.
Program ini diinisiatif oleh TPS3R Jalibar Berseri, pemerintah desa Oro-Oro Ombo, DLH Kota Batu bersama ECOTON. Koordinator program, Titik Setyowati, menjelaskan bahwa sebelum implementasi program yang lebih jauh, diadakan Analisis Sampah (AKSA) di skala RW.
“jadi AKSA ini adalah Analisis Sampah yang bertujuan untuk mengetahui komposisi timbulan sampah di kawasan RW.05 desa Oro-Oro Ombo, untuk itu kami melibatkan 50 rumah tangga sebagai relawan untuk memberikan sampah harian mereka dalam keadaan terpilah menjadi 3 jenis yaitu Organik, Daur Ulang dan Residu kemudian kita timbang per jenis,” terangnya seperti rilis dari ECOTON ke Malang Post.
Ketua TPS3R Jalibar Berseri sekaligus Alumni Zero Waste Academy 2026 ini pun menambahkan AKSA menjadi ajang belajar memilah sampah dari sumber.
“AKSA ini juga menjadi ajang latihan bagi rumah tangga untuk memilah sampah dengan benar, jika sampah sudah terpilah dari sumber maka akan lebih mudah proses di TPS3R nantinya, juga sebagai ruang mengedukasi pilah sampah rumah ke rumah Door to Door Education (DTDE),” tambah Titik.
Salah satu responden Supriaten (52) mengatakan senang bisa dilibatkan dalam program ini.
“memilah sampah sebenarnya tidak sulit, hanya butuh konsisten dan diedukasi sesering mungkin, saya sudah terbiasa memilah sampah supaya tidak tercampur baur, botol-botol kadang saya donasikan,” jelasnya.

Warga Oro-oro Ombo ikut mendukung program pengelolaan sampah berbasis sumber zero waste cities. (Foto: Istimewa)
Sampah yang sudah terkumpul dari 50 rumah tangga selanjutnya dipilah spesifik menjadi 40 jenis untuk mengetahui jenis sampah terbanyak sepanjang AKSA dilakukan.
Ditemui di tempat yang sama, Tonis Afrianto, Project Manager Zero Waste Cities ECOTON mengatakan AKSA berguna untuk menentukan kebijakan dalam pengelolaan sampah dimasa mendatang.
“Dalam membangun system pengelolaan sampah tidak boleh ngawur, harus tahu dulu jenis sampah yang mendominasi di kawasan tersebut. Jika terbukti sampah jenis organik mendominasi maka perlu dibangun sistem pengelolaannya Misalnya rumah kompos, komposter di kawasan RT/RW, biogas dan lain sebagainya, sehingga sampah organik bisa tertangani di sumber tanpa dipindah ke TPA,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Eni Maulidiyah, Fungsional Bidang Persampahan DLH Kota Batu, bahwa di Kota Batu sudah menyiapkan rumah kompos untuk mengatasi timbulan sampah organik skala kota.
“Sepanjang tahun 2025 kami sudah membangun 16 titik Rumah Kompos (RuKom) di kota Batu, ini juga menjadi kebijakan kota untuk menuntaskan permasalahan pengelolaan sampah salah satunya jenis organik, kami menghimbau masyarakat kota Batu agar selalu memilah sampah dari sumber sehingga sampah organik dapat dikelolah dengan mudah” terangnya.
Sampah yang sudah terpilah sejak dari sumber akan diangkut secara terpilah juga didalam kendaraan roda tiga. AKSA akan dilakukan selama 8 hari berturut-turut, hingga diperoleh sebuah data timbulan dan komposisi sampah yang berguna untuk rencana induk pengelolaan sampah di sebuah kota sehingga. (Eka Nurcahyo)




