MALANG POST – Setiap Ramadan, angka kunjungan wisatawan ke Kota Batu mengalami penurunan. Utamanya wisatawan domestik muslim, yang lebih fokus menjalankan ibadah. Namun Dinas Pariwisata Kota Batu tidak tinggal diam dan terus menggenjot promosi ke pasar wisatawan mancanegara, untuk menjaga pergerakan sektor pariwisata.
Penegasan itu disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk. Yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Kamis (12/2/2025).
Menurut Onny, kerja sama promosi dengan sejumlah negara, seperti Malaysia hingga China terus diperkuat.
“Karena dari data mobile positioning pada 2025, terjadi peningkatan signifikan kunjungan wisman. Khususnya dari Hong Kong dan China. Momentum ini bisa menjadi peluang untuk menutup penurunan saat Ramadan,” katanya.
Pihaknya juga berkoordinasi dengan pengelola destinasi dan travel agent, untuk menyiapkan paket-paket menarik. Seperti paket berbuka di hotel dan tempat wisata.
Lalu menjelang libur Lebaran, Disporapar melakukan pengecekan kesiapan destinasi. Termasuk maintenance fasilitas agar lonjakan wisatawan saat libur panjang bisa terlayani dengan baik.
Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, juga membenarkan terjadinya penurunan wisatawan saat Ramadan. Bahkan momen itu selalu menjadi periode terendah tingkat kunjungan wisata di Kota Batu.
“Okupansi hotel bahkan rata-rata hanya bertahan di angka 20 persen setiap tahunnya. Terutama pada minggu pertama dan kedua Ramadan yang cenderung sepi,” tambahnya.
Karena itulah, tambah Sujud, sektor perhotelan memperkuat program buka puasa bersama, berbagai inovasi dan kreativitas untuk menutup sebagian biaya operasional.
Tapi biasaya, sebutnya, memasuki minggu ketiga dan keempat Ramadan, kondisi mulai membaik seiring datangnya musim mudik. Wisatawan banyak menginap sambil berwisata di Kota Batu.
Sujud juga mengatakan, tahun ini kegiatan pemerintahan yang biasanya digelar di hotel pada pertengahan tahun, belum berjalan karena efisiensi anggaran. Kondisi itu cukup berat bagi pelaku usaha, namun pihaknya tetap berupaya berinovasi.
Sementara itu, Dosen Pariwisata Universitas Merdeka Malang, Prof. Dr. Bambang Supriadi, SE., MM., menilai, Ramadan sebenarnya bisa menjadi momen bagus bagi industri pariwisata. Meskipun secara angka okupansi cenderung menurun.
Menurutnya, perubahan pola perilaku wisatawan selama Ramadan justru membuka peluang segmen baru yang bisa digarap.
“Interaksi sosial dalam pariwisata saat Ramadan memang berubah. Jika biasanya wisata identik dengan hiburan, kini ada kecenderungan wisata yang terintegrasi dengan aktivitas spiritual.”
“Di sinilah pelaku industri perlu membaca permintaan pasar dan menyesuaikan penawaran. Termasuk menyasar segmen keluarga dan generasi muda,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Bambang juga menekankan pentingnya integrasi strategi kolaborasi, implementasi dan kebijakan.
Seperti menghadirkan paket wisata religi ke masjid tua, pesantren kilat di hotel hingga menghadirkan ustad ternama dalam berbagai kegiatan.
“Dengan pendekatan itu, aktivitas keagamaan tetap berjalan. Sementara sektor pariwisata tetap bergerak selama Ramadan,” katanya. (Faricha Umami/Ra Indrata)




