MALANG POST – Peringatan Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi ruang refleksi, sekaligus pengingat pentingnya merawat nilai kemanusiaan dan kebhinekaan di tengah kehidupan bermasyarakat. Momentum itu dimanfaatkan Wali Kota Batu, Nurochman, untuk mengajak seluruh elemen masyarakat meneladani pemikiran dan keteladanan Presiden ke-4 RI tersebut.
Pesan itu disampaikan Nurochman di momen peringatan Haul Gus Dur yang digelar Gusdurian Kota Batu di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, kemarin. Acara tersebut dihadiri ratusan peserta dari berbagai latar belakang agama dan komunitas.
Cak Nur sapaan Nurochman menegaskan bahwa Gus Dur bukan hanya sosok ulama dan negarawan, tetapi juga tokoh kemanusiaan yang gagasan-gagasannya melampaui zamannya. Hingga kini, nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur dinilai masih sangat relevan untuk menjawab tantangan kebangsaan.
“Gus Dur memberi teladan bahwa kepemimpinan sejati itu lahir dari rakyat, dijalankan bersama rakyat dan sepenuhnya diabdikan untuk kepentingan rakyat,” tutur Cak Nur.
Ia menambahkan, tema haul tahun ini, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, menjadi penegasan bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir. Kekuasaan, kata dia, merupakan amanah untuk melayani, melindungi, serta menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Menurutnya, Gus Dur selalu menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan golongan. Prinsip tersebut tercermin dari keberpihakan Gus Dur terhadap kelompok-kelompok minoritas, serta komitmennya dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman.
“Gus Dur mengajarkan kita bahwa kebaikan dan kemanusiaan adalah nilai universal. Perbedaan suku, agama dan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk saling meniadakan,” tegasnya.

RAWAT KEBHINEKAAN: Wali Kota Batu Nurochman saat menghadiri Haul Gus Dur di Kota Batu, ia mengajak masyarakat untuk merawat kebhinekaan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Melalui peringatan haul ini, Cak Nur mengajak masyarakat Kota Batu untuk meneladani keberanian, kejujuran, serta kelapangan hati Gus Dur dalam merawat kebhinekaan. Ia berharap semangat tersebut terus hidup dalam praktik kehidupan sehari-hari, baik dalam pemerintahan maupun di tengah masyarakat.
“Meneladani Gus Dur berarti berani bersikap adil, jujur, dan berpihak pada kemanusiaan. Itulah warisan besar yang harus terus kita rawat bersama,” katanya.
Peringatan Haul Gus Dur ke-16 di Kota Batu berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Selain doa bersama, kegiatan juga diwarnai dialog kebangsaan yang memperkuat semangat toleransi dan persaudaraan lintas iman.
Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa jasa Gus Dur untuk Kota Batu sangat besar. Ia merupakan sosok penting dalam perjalanan sejarah Kota Batu. Melalui Keputusan Presiden yang ditandatanganinya, Kota Batu resmi ditetapkan sebagai daerah otonom yang memiliki kewenangan mengatur dan mengelola pemerintahan sendiri sejak 21 Juni 2001.
Penetapan tersebut menandai lahirnya Kota Batu sebagai entitas pemerintahan yang berdiri mandiri dengan lembaga-lembaga pemerintahan sebagai mitra penyelenggara roda pembangunan. Meski Hari Jadi Kota Batu diperingati setiap 17 Oktober, tanggal 21 Juni memiliki makna historis sebagai tonggak awal berdirinya Kota Batu sebagai daerah otonom.
Ia menambahkan, peringatan haul Gus Dur juga menjadi wujud rasa cinta dan penghormatan atas ketokohan serta jasa-jasanya bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, Gus Dur meninggalkan warisan pemikiran yang plural dan inklusif, tanpa sekat mayoritas maupun minoritas.
“Dalam pandangan beliau, tidak ada perbedaan antara mayoritas dan minoritas. Semuanya adalah anak bangsa Indonesia. Nilai-nilai inilah yang patut terus kita teladani dan rawat bersama,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




