MALANG POST – Sejak pembentukan sekolah tujuh bulan lalu, Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu, memprioritaskan mitigasi bullying. Dengan mengantisipasi potensi perundungan melalui berbagai program.
Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Batu, Yulianah, SS., M.Pd., saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM menyampaikan hal tersebut.
“Di antaranya sesi curhat langsung, kotak curhat melalui OSIS dan program kakak-adik asuh,” katanya.
Selain itu, tambahnya, SRMP 14 Batu juga bekerja sama dengan Dinsos, Dinkes sampai aparat hingga mahasiswa, sebagai upaya edukasi dan pendampingan. Agar peserta didik merasa aman dan punya ruang berbicara jika mengalami masalah.
“Tantangan terbesar yang dialami dalam segala proses mitigasi, datang dari karakter, latar belakang hingga gap usia peserta didik.”
“Kondisi itu membuat proses penyesuaian awal cukup sulit. Sehingga sempat dilakukan pengawasan intensif di bulan pertama, guru standby mengawasi 24 jam,” tegasnya.
Lewat berbagai hal yang sudah dilakukan, Yulianah melihat sudah ada perubahan signifikan pada peserta didik. Terutama dari sisi karakter spiritual dan kesehatan.
Namun selain aspek spiritual, Yulianah memastikan kebutuhan gizi dan kesehatan anak terpenuhi.
Dia menegaskan, jadwal makan sudah terkondisikan sesuai analisa gizi. Bahkan cek kesehatan rutin juga dilakukan setiap minggu.
“Dari sisi pendidikan dan fasilitas, seluruh kebutuhan pelajar sudah lengkap. Mulai dari seragam, alat tulis dan laptop.”
“Kami berharap bisa meningkatkan motivasi belajar peserta didik di SRMP 14 Batu,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat menegaskan, perundungan bisa terjadi di mana saja. Terutama di boarding school seperti Sekolah Rakyat (SR), yang memiliki interaksi 24 jam.
Karena itu, pihaknya menekankan pemerintah dan semua pihak terkait, harus bersikap tegas dengan hati yang tulus dalam pencegahan bullying.
Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Amida Yusiana menambahkan, banyak korban perundungan yang takut melapor. Bahkan di beberapa kasus justru pelaku melibatkan pengasuh.
Amida juga mengatakan, penyebab pelaku bullying umumnya berasal dari pola asuh, lingkungan kurang bagus dan latar belakang keluarga tidak harmonis.
“Melalui hadirnya Satgas PPA, kami berkomitmen menjaga kesejahteraan anak dan memastikan mereka tidak sampai berurusan dengan hukum,” katanya.
Penegasan boarding school memiliki potensi perundungan yang tinggi, juga disampaikan Dosen Psikologi UMM, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si. Karena siswa tinggal bersama selama 24 jam.
Interaksi yang intens, ujarnya, bisa memunculkan konflik kecil yang kemudian berkembang menjadi perundungan sistemik jika tidak cepat ditangani.
Zakarija menyebut, dominasi sosial dan hierarki informal antar siswa, juga bisa menjadi pemicu bullying.
“Meski berasal dari latar yang sama, senioritas tetap muncul dan kadang disertai sikap intimidasi. Terutama jika siswa merasa ada perbedaan perlakuan dari guru atau pengasuh.”
“Hal itulah yang membuka ruang munculnya bullying verbal dan simbolik yang sering tidak disadari,” kata Zakarija.
Sehingga, pihaknya menekankan pentingnya guru dan pengasuh untuk selalu peka terhadap semua bentuk perundungan, termasuk yang bersifat halus.
Dia menilai, perhatian terhadap masalah kecil harus ditingkatkan agar konflik tidak membesar dan berubah menjadi perundungan yang sulit dihentikan. (Faricha Umami/Ra Indrata)




