Ilustrasi salah satu SPPG di Kota Malang. Dispangtan mengimbau SPPG belanja bahan pangan sesuai HET atau HAP. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
MALANG POST – Surat peringatan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang untuk tujuh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melanggar harga eceran tertinggi (HET) dan harga acuan pembelian (HAP) komoditas bahan baku telah dikirim pada Selasa (3/2/2026). Copy surat itu juga dikirim ke seluruh SPPG di Kota Malang.
Walikota Malang dan Sekda Kota Malang yang juga Ketua Satgas Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Malang diberi tembusan surat ini. “Direktorat Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II Badan Gizi Nasional (BGN) dan Direktur SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga kami kirimin surat imbauan itu sebagai laporan,” kata Dr. Elfiatur Roikhah, Kabid Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang, saat mendampingi Kadispangtan Slamet Husnan, Selasa (3/2/2026).
Surat bernomor: 500.1.3.1/23/35.73.407/2026 tertanggal 30 Januari 2026 itu sifatnya penting. Berdasarkan laporan Koordinator Wilayah (Korwil) Kota Malang, terkait pembelian bahan pangan SPPG pada Januari 2026, ditemukan sejumlah SPPG di Kota Malanc yang tidak memenuhi ketentuan HET beras serta migor dan HAP komoditas jagung, telur ayam ras maupun daging ayam ras.
Menurut Elfiatur, beberapa SPPG itu membeli bahan pangan beras dan migor di atas HET. Sesuai ketentuan HET, harga beras premium berkisar 14.900 per kg dan medium berkisar Rp 13.500 per kg. Namun, mereka beli beras di atas Rp 15.500 untuk premium dan Rp 15.000 untuk medium.
Demikian juga untuk migor, telur ayam ras, daging ayam ras dan komoditas jagung. Karena itu, Dispangtan meminta agar ketujuh SPPG itu segera menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan itu.
Setiap bentuk penyimpangan, pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan harga itu akan menjadi dasar untuk dilakukan evaluasi pembinaan dan/atau penindakan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Untuk mengantisipasi pembelian di atas HET atau HAP, baik Slamet Husnan maupun Elfiatur, menyarankan SPPG jangan beli bahan pangan di pasaran atau pengecer karena bahan pangan itu untuk ketersediaan rumah tangga. Dispangtan meminta SPPG untuk beli bahan pangan di tingkat produsen, petani ataupun peternak.
Saat ini, lanjut Elfiatur, Dispangtan mengamati harga komoditas hortikultura. Produk seperti wortel dan buncis, kini harganya mulai merangkak naik. “Harga dari SPPG itu akan berpengaruh di pasar. Bisa memicu pembentukan harga dan tentunya akan berpengaruh terhadap inflasi,” papar Elfiatur.
Tujuh SPPG yang mendapat surat imbauan itu adalah: SPPG Kiduldalem (Klojen), SPPG Bareng (Klojen), SPPG Rampalclaket (Klojen), SPPG Madyopuro (Kedungkandang), SPPG Mojolangu 2 (Lowokwaru), SPPG Kedungkandang, dan SPPG Sawojajar 3 (Kedungkandang).
Ditanya tentang kondisi MBG di Kota Malang, Elfiatur mengatakan lancar dan aman. Tidak sampai ada sekolah yang menolak MBG. Karena di Kota Malang sebelum sekolah menerima MBG, terlebih dulu para guru atau PIC di sekolah mendapat sosialisai dari SPPG dan perangkat daerah terkait, soal pangan beragam, gizi seimbang dan aman.
“Dengan begitu orangtua dan wali murid paham makanan Bergizi yang terukur, sesuai kebutuhan masing-masing murid. Seperti kebutuhan telur untuk anak usia 3 tahun sampai 16 tahun itu adalah 180 gram per minggu atau setara dengan tiga butir telur. Jadi tidak sampai ada kritik, kok telur terus,” papar Elfiatur.
Ditanya tentang laporan keracunan dalam MBG, menurutnya untuk Kota Malang hingga kini nihil. “Tak ada. Aman Kota Malang,” pungkas Elfiatur.
Salah satu owner SPPG di Kota Malang, Danny Agung P, mengaku tidak memasalahkan surat dari Dispangtan. Menurutnya, regulasinya memang seperti itu. Danny mengatakan, untuk daging ayam ras, saat ini harganya fluktuatif. Dari seminggu lalu Rp 27 ribu, sekarang sudah Rp 33 ribu. Bahkan, ada yang sudah 36 ribu per kg.
“Tomat juga fluktuatif harganya. Tetapi kami selalu koordinasi dengan Dispangtan. Yang jelas, kami memberdayakan pedagang dan usaha lokal, seperti tempe kami ambil dari Sanan,” pungkas Danny.(Eka Nurcahyo)




