MALANG POST – Bus Trans Jatim di Malang Raya, mencatat okupansi harian sekitar 3.282 penumpang, dengan tingkat keterisian mencapai 104 persen.
Fakta itu menunjukkan minat masyarakat yang tinggi, terhadap transportasi massal. Salah satunya adalah Bus Trans Jatim.
“Program ini juga sejalan dengan Nawa Bhakti Satya Jatim dan dimanfaatkan masyarakat secara optimal.”
“Kalau pun ada fluktuasi penumpang adalah wajar. Dengan lonjakan tertinggi terjadi pada periode Natal dan Tahun Baru,” kata Kepala Seksi Sarana Angkutan Jalan Bidang Angkutan Jalan Dishub Jatim, Cito Eko Yuly Saputro, saat menjadi narasumber talkshow di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Senin (2/2/2026).
Harapannya, Trans Jatim bisa mendorong pertumbuhan UMKM di sekitar terminal dan halte, meningkatkan sektor pariwisata, serta mengurangi kemacetan kota.
“Fokus tahun ini diarahkan pada evaluasi layanan, pelatihan pengemudi dan integrasi moda transportasi,” tegasnya.
Sekali pun demikian, Dinas Perhubungan Jatim tetap mencatat, masih ada ketidakseimbangan armada di Koridor 1 Malang Raya dengan okupansi penumpang.
Sehingga diperlukan tambahan sekitar 5 – 6 bus, untuk menyesuaikan dengan kebutuhan penumpang. Sayangnya tahun ini masih belum bisa ada tambahan armada.
Karena fokus tahun ini lebih pada peningkatan pelayanan, pelatihan pengemudi dan penguatan sistem informasi transportasi.
“Termasuk Inovasi TRADISI (Trans Jatim Ekspedisi). Masyarakat bisa titip barang dari Terminal Batu ke Malang, dengan harga terjangkau,” jelasnya.
Kalangan DPRD Kota Malang juga melihat, kehadiran Trans Jatim memberikan dampak positif dalam mengubah budaya masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
“Antusiasme masyarakat cukup tinggi sejak layanan ini mulai beroperasi pada November lalu,” kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi.
Dito mencatat, okupansi penumpang sangat tinggi sehingga banyak calon penumpang belum terangkut.
Karenanya, Dito melihat penambahan armada menjadi kebutuhan mendesak. Bahkan idealnya jumlah bus bisa ditingkatkan hingga dua kali lipat.
“Kami juga akan mendorong penataan ulang rute, penguatan feeder, serta integrasi dengan angkutan umum lain, agar sistem transportasi publik di Malang lebih efektif.”
“Kami juga memperjuangkan alokasi anggaran untuk transportasi pelajar gratis, sebagai bagian dari pembenahan transportasi publik yang terintegrasi,” sebutnya.
Sementara itu, Pakar Transportasi yang juga Direktur Pascasarjana Universitas Widyagama Malang, Prof. Dr. Ir. Aji Suraji menilai, capaian load factor Trans Jatim di atas 100 persen sebagai indikator luar biasa.
“Hal ini menunjukkan animo masyarakat tinggi dan mulai terjadi peralihan dari kendaraan pribadi ke angkutan massal,” tegasnya.
Meski baru satu koridor, imbuh Aji, indikator minat publik sudah terlihat jelas dan menjadi sinyal awal keberhasilan program.
Prof. Aji menyampaikan, Trans Jatim berpotensi menciptakan multiplier effect seperti efisiensi biaya transportasi, pengurangan kemacetan dan peningkatan aktivitas ekonomi. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




