Wagub Jatim, Emil Dardak, saat meninjau proyek drainase Jalan Soehat, Kota Malang, belum lama ini. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Proyek drainase sepanjang Jalan Soekarno-Hatta (Soehat) Kota Malang oleh Pemprov Jatim telah rampung. Hanya saja pohon-pohon yang dipotong dampak dari proyek itu belum diremajakan.,
Kini kawasan itu masih belum ada pohon peneduh. Menanggapi ini, Walikota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan Pemkot Malang berkomitmen untuk memulihkan keasrian kawasan Jalan Soehat. Pernyataan itu disampaikan Wahyu Hidayat setelah menerima keluhan masyarakat dan kritikan dewan terkait hilangnya sejumlah pohon akibat proyek drainase.
Saat ini, Pemkot Malang tengah melakukan komunikasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) untuk mencari solusi atas saluran drainase yang tertutup serta rencana penanaman kembali pohon di sepanjang Jalan Soehat.
“Kami sedang berkoordinasi dengan provinsi untuk mencari alternatif solusi terkait saluran yang sudah tertutup tadi. Saya rasa nanti akan ada solusi untuk memberikan peneduhan dan hijau-hijaunya lagi,” ujar Wahyu Hidayat, Minggu (25/1/2026).
Wahyu menjelaskan, status Jalan Soehat sebagai jalan provinsi membuat seluruh aspek teknis, konstruksi, hingga perizinan menjadi kewenangan Pemprov Jatim. Meski begitu, Pemkot Malang tetap terlibat sejak tahap perencanaan awal proyek.
Salah satu langkah yang disiapkan untuk penanaman kembali pohon itu adalah mengoptimalkan pemanfaatan sempadan jalan. Area itu akan dihitung ulang untuk menentukan titik-titik yang memungkinkan dilakukan penanaman pohon.
“Sempadan jalan itu kan berarti dari as sampai dengan pagar atau tembok. Karena ini jalan provinsi, kita akan manfaatkan sempadan itu. Kita hitung dulu berapa meter yang tersedia,” jelasnya.
Menurut Wahyu, meskipun sempadan jalan tidak boleh digunakan untuk bangunan permanen, area itu sangat memungkinkan difungsikan sebagai ruang terbuka hijau yang berperan sebagai peneduh jalan.
Lebih lanjut, Pemkot Malang juga menekankan pentingnya peran serta warga dan pelaku usaha di sepanjang Jalan Soehat. Pemerintah berencana memberikan pemahaman agar masyarakat turut menjaga dan menanam pohon di area sempadan yang telah ditetapkan.
“Nanti kita berikan pemahaman kepada mereka (masyarakat) untuk menanam pohon. Sempadan tidak boleh ada bangunan, tetapi kalau untuk peneduh sebagai pendukung jalan, itu bisa dilakukan,” tambahnya.
Wahyu memastikan bahwa konsep penghijauan telah menjadi bagian dari kesepakatan awal dengan Pemprov Jatim. Meski dalam pelaksanaan proyek terdapat pohon yang harus ditebang, upaya penghijauan kembali kawasan Jalan Soehat tetap menjadi prioritas Pemkot Malang.
“Sejak awal perencanaan, kami sudah sampaikan bahwa pohon harus tetap ada. Itu sudah menjadi kesepakatan kami dengan provinsi,” tegas Wahyu.
Terpisah politisi PKB yang juga anggota Komisi C DPRD Kota Malang, Arif Wahyudi, menegaskan bahwa penanaman pohon kembali di kawasan Soehat yang terdampak proyek drainase sangat penting. Dan itu sebaiknya segera dilakukan.
Namun, Arif mengingatkan agar pohon yang ditanam perlu ada kajian dari Dinas Lingkungan Hidup maupun Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan. “Jangan sampai pohon yang ditanam berakar tunggang karena akarnya dapat merusak drainase itu. Sebaiknya pohon yang ditanam berakar serabut agar tidak merusak drainase.”
“Sayang kalau dalam waktu 5 tahun, bangunan drainase itu rusak akibat akar tunggang,” papar Arif.
Apalagi, lahan untuk menanam nantinya di sempadan yang tidak begitu luas. Arif juga berharap ada partisipasi pemilik lahan untuk menanam pohon peneduh. Hanya saja pohon yang ditanam harus dikoordinasikan dengan pemkot, agar akar pohonnya tidak merusak bangunan drainase. (Eka Nurcahyo)




