MALANG POST – Para pendaki gunung, tidak seharusnya nekat melakukan pendakian, ketika cuaca ekstrem sedang terjadi.
Pendaki atau wisatawan yang menyukai alam liar, harus bisa bersabar dan tidak nekat melakukan pendakian, ketika cuaca ekstrem demi keamanan pendaki itu sendiri.
Hal itu disampaikan anggota Gimbal Alas Indonesia, Arifianto atau Unyil, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Sabtu (24/1/2026) kemarin.
Menurut Arif, pendaki harus memiliki awareness pada situasi dan memprioritaskan keselamatan.
“Selain itu ada pergeseran tren mendaki, dari aktivitas yang berbasis ilmu dan organisasi, menjadi aktivitas wisata yang membuat banyak pendaki kurang mempersiapkan diri dengan baik,” katanya.
Ditambahkan, keberadaan guide di jalur pendakian merupakan hal penting untuk mengantisipasi kecelakaan. Terutama untuk pendaki yang kurang berpengalaman.
Sementara itu, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Tani, Ahmad Syaifudin menyampaikan, penutupan jalur pendakian di Gunung Butak via Panderman, Gunung Arjuno via sumber brantas dan Gunung Bokong, dilakukan karena cuaca ekstrem yang menyebabkan risiko tinggi untuk pendaki.
Sepanjang tahun 2024 sampai 2025, katanya, pengelola jalur pendakian sudah melakukan penutupan sebanyak tiga kali karena berbagai faktor cuaca. Diantaranya saat puncak musim kemarau yang rawan kebakaran.
Untuk penutupan kali ini, Ahmad Syaifudin memperkirakan jalur pendakian akan tetap ditutup hingga selesai Hari Raya Idul Fitri.
Hal itu dilakukan mengingat kondisi cuaca yang masih ekstrim dan bertepatan dengan bulan Ramadan. Penutupan ini juga sekaligus untuk pemulihan ekosistem. (Anisa Afisunani/Ra Indrata)




