COBA NAIK: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat beserta Ketua YGSN bersama istri, diikuti Wawali, Ali Muthohirin dan rombongan lainnya, saat mencoba naik Betrik keliling Alun-Alun Tugu. (Foto: Iwan Irawan/Malang Post)
MALANG POST – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto, bertekad mewujudkan komitmennya dalam mengentaskan kemiskinan. Sekaligus membantu meringankan beban ekonomi rakyatnya di daerah.
Salah satu bentuk komitmen tersebut, adalah membantu 200 unit becak listrik (Betrik) untuk warga Kota Malang, melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (YGSN).
Secara simbolis, Ketua YGSN, Letjen TNI (Purn) Teguh Arif Indratmoko, menyerahkan Betrik kepada penarik becak di Kota Malang.
“Saat ini masih 200 unit Betrik yang dibagikan untuk warga Kota Malang. Selanjutnya secara bertahap akan ada pembagian lagi. Tadi Pak Jenderal Teguh Arif, juga telah menginformasikan masih inden Betrik ke PT Pindad.”
“Hasil survei di Kota Malang, ada sekitar 800 becak. Untuk Betrik ini, sementara kita utamakan pada tempat-tempat wisata atau ikonik Kota Malang. Jadi Betrik memudahkan wisatawan untuk jelajah kawasan wisata di Kota Malang,” kata Wahyu, di Balai Kota Malang, Selasa (20/1/2026).
Agar eksistensi Betrik terus terjaga keberlangsungannya, Wahyu secepatkan bakal membuat Peraturan Wali Kota Malang. Untuk mengatur bagaimana servis rutin, titik pangkalan pengisian daya dan kebutuhan listriknya, tarif untuk setiap jarak tempuh, hingga kebutuhan sparepart.
“Kami juga tekankan kepada para penarik becak, perlunya dibentuk paguyuban Betrik, sebagai wadah berkomunikasi dan berkoordinasi. Termasuk bisa memudahkan kita membantu memberikan solusi jika ada masalah,” ujar dia.

BANTUAN: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mendampingi Ketua YGSN, Letjen TNI (Purn), Teguh Arif Indratmoko, secara simbolis menyerahkan bantuan Betrik kepada penerima. Salah satunya, Rasmun yang sudah berusia 104 tahun, asal Kedungkandang. (Foto: Iwan Irawan/Malang Post)
Mantan Sekda Kabupaten Malang ini pun menegaskan, kehadiran Betrik dipastikan sangat ramah lingkungan. Untuk eksistensi dan pelaksanaan regulasinya, pihaknya bakal menggandeng Persatuan Hotel Restauran Indonesia (PHRI), pramu wisata dan akademisi. Utamanya untuk penetapan soal tarif Betrik.
Sedangkan untuk fasilitas pengisian daya listrik, pihaknya bakal mengandeng PT PLN Tbk. Diestimasikan butuh 37 titik pengisian daya di Kota Malang. Itu pun jumlahnya bisa bertambah.
“Nanti PKL bisa membuat pangkalan pengisi daya listrik, melalui corporate social responsibility (CSR) PLN. Dengan begitu, pemilik Betrik bisa mengisi daya dengan gratis,” tambah alumni ITN Malang ini.
Di lokasi sama, Teguh Arif Indratmoko, menyebut, agar pemilik Betrik lebih mudah memahami dan mengoperasikan becak, pihaknya akan menerjunkan tim maintenance. Baik untuk perawatan, operasional serta cara penghematan sparepart.
“Biasaya butuh waktu semingguan, agar pemilik Betrik bisa betul-betul paham dan bisa mengoperasikannya dengan mudah.”
“Contohnya, untuk nge-charger Betrik bisa dilakukan saat sudah berkurang banyak. Tidak perlu menunggu sampai baterainya habis. Karena jarak tempuh Betrik dalam kondisi (baterai) penuh, bisa sampai 36 kilometer,” terang mantan perwira tinggi TNI AD ini.
Bantuan Betrik dari Presiden, jelasnya, diberikan untuk seluruh kota dan kabupaten di Indonesia. Saat ini untuk seluruh provinsi, sudah didistribusikan sekitar 10 ribu unit Betrik. Bahkan kali ini Yayasan GSN, sudah inden lagi 70 ribu Betrik ke PT Pindad.
“Dari hasil survei dan assessment, kita memang perlu sekitar 80 ribu Betrik. Jadi tambahan 70 ribu itu, kita inden untuk 2026 dan 2027. Jadi warga Kota Malang yang belum menerima, mohon bisa bersabar dulu,” sebutnya.

TURIS: Wisatawan manca negara yang berada di Kota Malang, turut menikmati layanan Betrik yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Iwan Irawan/Malang Post)
Dalam bantuan tahap pertama, jelas Teguh Arif, diberikan kepada penarik becak yang sudah berusia 70 tahun. Tahap selanjutnya, untuk warga usia 60 dan usia 50. Hingga pada 2027 mendatang, sebagian besar rakyat yang berprofesi tukang becak, bisa terbantukan.
“Tapi setelah mendapat bantuan Betrik dari Presiden, penerima Betrik dilarang memperjualbelikan maupun memodifikasi yang tidak sesuai regulasi.”
“Kenapa Betrik ini diwujudkan, agar bisa menekan angka populasi udara di daerah. Betrik senantiasa ramah lingkungan dan tidak berisik,” imbuhnya.
Soal adanya pengemudi Betrik yang kesulitan ketika menanjak, Teguh Arif menyebut, karena belum terbiasa saja. Sebab Betrik sudah lolos uji tanjakan hingga 15 derajat.
“Kita juga sempat melihat, ada beberapa penerima Betrik yang kebingungan mengoperasikan. Itulah sebabnya, tim maintenance nanti akan ngajari, agar pemilik Betrik bisa segera memahami dan mengoperasikannya,” tandasnya.
Terpisah, salah seorang penerima Betrik, Muhammad Ra’i (55), asal Kelurahan Mergosono mengucapkan terima kasih atas bantuan Presiden Prabowo.
“Jelas akan sangat membantu pendapatan kami. Karena sebelum menerima Betrik ini, kami harus setor Rp10 ribu kepada pemilik becak. Padahal kami harus menghidupi empat anak dan istri.”
“Dengan bantuan Betrik ini, kami berharap perekonomian kami bisa lebih baik. Terpenting lagi, tidak perlu setor ke orang lain.”
“Semoga saja, kemudahan dan kelancaran perawatan Betrik, bisa dibantu. Termasuk pengisian dayanya ada fasilitasi dari pemerintah. Bisa di tempat mangkal, atau di tempat-tempat strategis di pusat keramaian,” pungkasnya. (Iwan Irawan/Ra Indrata)




