MALANG POST – Kota Batu tengah menghadapi tantangan serius di sektor pariwisata. Sepanjang tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Apel tercatat turun cukup tajam. Dari sebelumnya sekitar 11 juta wisatawan, pada 2025 hanya sekitar 8,5 juta wisatawan yang berkunjung. Artinya, ada sekitar 2,5 juta wisatawan yang hilang.
Penurunan tersebut langsung menjadi perhatian DPRD Kota Batu. Untuk mengetahui penyebabnya, DPRD telah memanggil Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu.
Anggota DPRD Kota Batu, Sujono Djonet menyebut, ada sejumlah catatan penting yang muncul dalam rapat tersebut. Salah satu sorotan utama adalah soal sumber dan akurasi data kunjungan wisata.
“Yang pertama kami soroti adalah sumber data. Ini perlu dievaluasi. Karena data tersebut belum tentu sepenuhnya akurat, atau berapa persen tingkat error-nya,” ujar Djonet, Senin (19/1/2026).
Ia menilai, jika melihat kondisi pascapandemi, tren kunjungan wisata ke Kota Batu sudah mulai bergerak naik. Meski daya beli masyarakat memang sempat melemah, namun geliat wisata dinilai mulai kembali terasa.
“Kalau dilihat secara kasat mata, pascapandemi kunjungan wisata sudah mulai meningkat. Daya beli memang agak menurun, tapi sekarang sudah mulai bergairah,” katanya.
Karena itu, DPRD menilai perlu ada peran lebih nyata dari pemerintah dalam menyikapi tren penurunan angka kunjungan tersebut. Salah satunya melalui evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan dan strategi pariwisata.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian khusus adalah efektivitas kalender event pariwisata yang selama ini diluncurkan Pemkot Batu. Menurut Djonet, perlu dikaji apakah kalender event benar-benar mampu menjadi daya tarik wisata atau justru tidak berdampak signifikan.
“Kami melihat, tanpa kalender event pun, wisatawan tetap datang ke Kota Batu karena tertarik ke destinasi wisatanya. Bukan ke event yang sifatnya temporer,” tuturnya.

BANTENGAN: Event 1.000 Banteng menjadi salah satu kegiatan di dalam kalender event Kota Batu yang paling diminati wisatawan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Dari puluhan event yang masuk dalam kalender pariwisata, Djonet menilai hanya beberapa yang benar-benar memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan. Di antaranya Festival 1.000 Banteng dan Batu Art Flower Carnival.
“Event-event lain harus dievaluasi. Bagaimana caranya agar lebih menarik dan mampu menjadi ruang sinergi antara pemerintah dan swasta,” tegasnya.
Ia mencontohkan, di sejumlah daerah lain, event pariwisata yang berkualitas justru berkembang karena kolaborasi kuat antara pemerintah dan pihak swasta. Pemerintah hanya memulai satu atau dua kali, lalu selanjutnya sponsor atau pihak swasta justru berebut untuk terlibat.
‘Karena event itu memang berkualitas dan punya daya tarik. Di Kota Batu, kami masih menuju ke arah sana,” paparnya.
Lebih jauh, Djonet juga mengingatkan posisi Kota Batu sebagai kota wisata. Ia menyebut, jika peringkat kunjungan wisata Kota Batu hampir sejajar dengan daerah lain seperti Kota Mojokerto, maka hal itu patut dicermati secara serius.
“Ini sangat aneh untuk kota yang sudah lama dikenal sebagai Kota Wisata. Apalagi sekarang, kota-kota di sekitar Kofa Batu berkembang sangat cepat. Yang dulu belajar ke Kota Batu, sekarang justru melesat,” ujarnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, harus menjadi momentum evaluasi bersama, termasuk dalam penataan kota dan jaminan kenyamanan wisatawan.
Ia mengapresiasi berbagai pembangunan fisik yang sudah dilakukan, seperti trotoar, taman kota dan fasilitas publik lain yang semakin memanjakan wisatawan. Namun, hal itu dinilai belum cukup.
“Yang tidak kalah penting adalah keramahan kota ini. Itu harus terus diperjuangkan agar menjadi layanan publik yang benar-benar berkualitas,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)





Banyak faktor yg mempengaruhi turunnya wisatawan ke kota batu diantaranya.
– Daya beli masyarakat yg belum pulih akibat pandemi korona 2020.
– Tarif hotel di batu termasuk mahal jika dibandingkan dg kota wisata lain.
– Wisatawan dari surabaya yg terbiasa melihat kebersihan dan keindahan kota surabaya sangat kecewa melihat sebuah kota wisata yg terkesan kurang bersih.
– Di kabupaten/kota lain sdh banyak yg mengembangkan industri wisata yg cukup menarik namun dg tarif yg lebih terjangkau.
Hasil investigasi……Dikarenakan :
1. Akses jalan yg kurang dan sering terjadi kemacetan
2.harga penginapan relatif mahal
3.harga makanan mahal peringkat 1 se Jatim
4.harga oleh² apalagi hasil bumi luarbiasa mahal .lebih murah beli di pinggir² jalan di sidoarjo & surabaya
5.akhirnya warga surabaya sidoarjo gresik mojokerto dan pasuruan lebih memilih ke Pacet,Trawas,Prigen dan Pandaan