MALANG POST – Penurunan jumlah wisatawan yang berlibur ke Kota Batu sepanjang 2025 benar-benar terasa di berbagai lini. Salah satu yang terdampak cukup signifikan adalah Taman Rekreasi Selecta. Ikon wisata legendaris itu mencatat penurunan jumlah pengunjung hingga 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur PT Selecta, Pramono, tak menampik kondisi tersebut. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi turunnya minat masyarakat untuk berwisata ke Kota Batu.
“Faktor utama tentu kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih. Daya beli masyarakat melemah. Di sisi lain, berwisata itu bukan kebutuhan primer, tapi sekunder bahkan tersier,” ujar Pramono, Jumat (9/1/2026).
Ia menjelaskan, situasi tersebut diperparah dengan semakin banyaknya daerah lain yang agresif mengembangkan destinasi wisata baru. Persaingan pun kian ketat. Wisatawan kini memiliki banyak pilihan dan cenderung menyesuaikan tujuan liburan dengan kemampuan anggaran.
“Sekarang banyak daerah berlomba-lomba membangun destinasi wisata. Masyarakat akhirnya punya lebih banyak opsi, tinggal menyesuaikan dengan budget,” paparnya.
Meski demikian, Selecta tidak tinggal diam. Pramono menegaskan pihaknya terus melakukan pembenahan, baik dari sisi pelayanan, kualitas wahana, hingga penguatan citra Kota Wisata Batu secara keseluruhan.
“Kami terus berinovasi. Salah satu yang akan kami kembangkan ke depan adalah wisata outbound. Sepanjang 2025 kemarin, tren outbound justru menunjukkan peningkatan,” katanya.

MENURUN: Daya beli melemah, kunjungan wisatawan ke Kota Batu menurun, banyak masyarakat yang berpikir ulang untuk berwisata. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Di tengah gempuran konsep wisata modern, Selecta tetap mempertahankan identitas lamanya. Sejak dulu, taman rekreasi ini mengusung tagline Truly Picnic, sebuah konsep piknik klasik yang kini justru menjadi nilai pembeda.
“Orang datang ke sini untuk piknik dengan cara lama. Gelar tikar, makan bersama di atas hamparan rumput, menikmati udara pegunungan. Itu pengalaman masa lalu yang kami rawat dan pertahankan,” ujar Pramono.
Secara historis, Pramono memaparkan tren kunjungan wisata ke Kota Batu sebenarnya sempat menunjukkan grafik positif pascapandemi Covid-19. Pada 2022, jumlah wisatawan mulai meningkat, lalu kembali naik pada 2023.
“Namun mulai 2024 tren itu melambat. Dan di 2025 kembali turun,” ungkapnya.
Meski demikian, ada sedikit angin segar pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026. Menurut Pramono, jumlah kunjungan selama libur panjang tersebut masih lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski kenaikannya tidak signifikan.
“Terutama di sisa libur Nataru, tanggal 1 sampai 4 Januari, trennya cukup bagus,” katanya.
Manager Marketing & Public Relations Jatim Park Group, Titik S. Ariyanto mengungkapkan bahwa penurunan tahun ini cukup terasa. “Secara total, kunjungan turun sekitar 20 persen dibanding dua tahun terakhir. Meski terlihat ramai di beberapa hari puncak, tapi secara akumulatif menurun,” jelasnya.
Menurut Titik, faktor ekonomi masih menjadi penentu utama. Daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih. Selain itu, pola liburan juga mengalami perubahan. “Wisatawan kini cenderung memilih liburan singkat, destinasi yang lebih dekat, atau membagi waktu liburan di beberapa periode,” ujarnya.
Persaingan antar destinasi wisata di berbagai daerah juga semakin ketat. Banyak daerah menghadirkan atraksi baru dan promosi agresif, sehingga pilihan wisata tidak lagi terpusat di satu wilayah. (Ananto Wibowo)




