MALANG POST – Dalam memilih wedding organizer yang tepercaya, masyarakat harus bisa mendahulukan logika ketika ada tawaran-tawaran yang diberikan. Jangan sampai tergiur dengan harga yang murah tapi bonus yang banyak sekali.
Kondisi tersebut diingatkan Ketua Himpunan Perusahaan Penata Acara Pernikahan Indonesia (HASTANA) DPC Malang Raya, Adhie Rama, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk. Yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Sabtu (20/12/2025), kemarin.
“Dalam WO biasanya yang dijual bentuk jasanya dulu. Jasa wedding organizer di hari H, konsultasi persiapan pernikahan, sampai penyusunan budgeting,” katanya.
Sebenarnya, tambah Adhie Rama, pola yang terjadi kasus Wedding Organizer yang marak hampir sama.
Beberapa wedding awalnya diselesaikan dengan baik. Tapi gelaran wedding selanjutnya ada yang bermasalah.
“Padahal sudah mulai banyak orang yang percaya dengan WO ini. Sehingga polanya mirip skema ponzi,” tegasnya.
Rama menjelaskan juga, kebanyakan yang bermasalah ini, jika dilihat bukan WO sesungguhnya, melainkan broker wedding. Jadi mereka hanya berfikiran soal untung besar, bukan pelayanan yang memuaskan.
Diharapkan masyarakat ketika mencari WO, supaya tidak mudah tergiur dengan iming-iming bonus tambahan, yang kesannya terlalu murah dan tidak masuk akal.
Sementara itu, Presiden Lembaga Perlindungan Konsumen Nasional indonesia (LKPNI), Nanang Nilson menyampaikan, infrastruktur perlindungan hak konsumen di indonesia sebenarnya sudah aman.
Bahkan di tingkat Kota Malang, sebutnya, ada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Ketika korban melaporkan, maka pelaku usaha WO akan dipanggil untuk dilakukan mediasi.
Ke depan, pihaknya akan jemput bola untuk mendaftar sertifikasi para pelaku WO, yang ada di dalam himpunan atau asosiasi.
“Jadi nanti WO akan ada rating-ratingnya, sehingga masyarakat bisa memilih. Hal ini sebagai upaya mitigasi, supaya kejadian WO tipu-tipu seperti di Jakarta tidak sampai ada di Malang Raya,” tegasnya. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




