SINERGI: (dari tengah ke kanan) Wakil Bupati Malang, Kapolres Malang, Deputi KPwBI Malang dan unsur Forkopimda lainnya, saat hadir dalam high level meeting di Ruang Anusapati. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST – Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Dedy Prasetyo, dalam High Level Meeting yang digelar di Ruang Rapat Anusapati Pemkab Malang, menegaskan, dinamika inflasi pada akhir tahun 2025, inflasi di Malang Raya ada kecenderungan naik, yang berada di atas bulan-bulan sebelumnya.
Data Perwakilan Bank Indonesia Malang mencatat, terdapat tiga komoditas yang paling menonjol tekanannya. Di antaranya, komoditas emas perhiasan yang disebabkan karena dinamika global, serta tomat dan cabai merah, yang disebabkan oleh siklus produksi dan cuaca ekstrem.
Dedy menjelaskan, perkembangan harga hingga Selasa (9/11/2025), juga menunjukkan tekanan dari komoditas cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras dan daging sapi.
Disamping itu, hampir semua daerah di Malang Raya mengalami kenaikan pada komoditas bawang merah, telur ayam ras, beras, minyak goreng, hingga udang dan jeruk.
“Ini bukan fenomena lokal semata. Tekanan harga komoditas hortikultura bersifat nasional dan terkait langsung dengan gangguan produksi akibat curah hujan tinggi,” katanya.
Secara garis besar, Dedy memaparkan, Inflasi Kota Malang sebagai kota acuan terdekat bagi Kabupaten Malang tercatat sebesar 2,71 persen (yoy) dan 0,16 persen (mtm) pada November 2025. Kondisi ini relatif sejalan dengan inflasi Jawa Timur dan Nasional.
Dedy menegaskan, komoditas tomat, cabai merah dan emas perhiasan, merupakan pendorong utama inflasi saat ini. “Sementara beras, daging ayam ras dan telur justru menahan laju inflasi karena pasokan terjaga dan distribusi relatif lancar,” tambahnya.
Di sisi lain, Bank Indonesia juga menyoroti pola historis menjelang Nataru. Ketika komoditas telur ayam ras, bawang merah, tomat, cabai rawit serta angkutan udara selalu menjadi sumber tekanan inflasi.
“Tahun ini ada tambahan risiko dari ketidakpastian global yang dapat mempengaruhi emas perhiasan,” jelasnya.
Secara global, Bank Indonesia menilai, inflasi tahun 2025 masih akan berada dalam rentang sasaran nasional, didukung cuaca yang relatif stabil, program GNPIP, serta harga energi global yang tidak terlalu bergejolak.
Namun demikian, Dedy memberi peringatan agar kewaspadaan tetap tinggi. “Risiko kenaikan harga komoditas non-energi global, potensi penyesuaian tarif domestik dan ekspektasi pasar harus terus diantisipasi.”
“Dalam hal ini, strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Keterjangkauan Harga, dan Komunikasi Efektif) harus dijalankan lebih disiplin,” beber Dedy.
Karena itu, tambahnya, perlu antisipasi terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2025, yang berpotensi mendorong kenaikan permintaan pangan. “Maka perencanaan pasokan tidak boleh biasa-biasa saja, harus lebih presisi,” ucapnya.

KENDALIKAN INFLASI: Wakil Bupati Malang, Hj Lathifah Shohib, saat membeberkan kondisi perkembangan harga di Kabupaten Malang. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
High Level Meeting itu sendiri, digelar menjelang momentum Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), oleh Pemerintah Kabupaten Malang, melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), sebagai bentuk sinergi untuk mengendalikan inflasi.
Dipimpin Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, dihadiri jajaran Forkopimda Kabupaten Malang, Perwakilan Bank Indonesia Malang dan seluruh stakeholders TPID Kabupaten Malang, menjadi forum tersebut sebagai langkah strategis, menghadapi tekanan harga Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Lathifah menjelaskan, kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) sebesar 0,12 poin, dari 0,40 pada minggu ketiga November, menjadi 0,52 pada minggu keempat November 2025.
Selanjutnya pada minggu pertama di Desember, terjadi lonjakan sebesar 1,78 poin menjadi 2,30. Kondisi ini, sebutnya, merupakan sinyal penting bahwa tekanan harga mulai menguat.
“Kenaikan IPH ini bukan sekadar angka statistik. Tapi juga sebagai refleksi meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang libur panjang.”
“Karena itu, kita harus memastikan dua hal sekaligus. Yakni pasokan (bahan kebutuhan pokok dan barang penting) tetap terjaga dan harga tetap berada dalam batas kewajaran,” ujar Bu Nyai Lathifah, sapaan akrabnya.
Berdasarkan data yang ada, politisi PKB ini menambahkan, proyeksi neraca pangan 2025 di Kabupaten Malang menunjukkan kondisi yang relatif aman.
“Ketersediaan daging ayam, telur, bawang merah, cabai, beras, jagung, gula dan minyak goreng, seluruhnya berada pada zona aman. Ini modal penting kita memasuki Nataru,” tegasnya.
Namun demikian, Wakil Bupati mengingatkan bahwa kesiapan struktural tetap harus ditingkatkan. “Kita harus bekerja lebih cepat, lebih kompak, dan lebih presisi.”
“Setiap potensi gejolak harga harus segera terdeteksi dan ditangani bersama. Saya ingin distribusi kita benar-benar lancar tanpa hambatan, terutama di jalur yang rawan longsor dan banjir,” tegasnya.
Alumni IKIP Negeri Malang ini juga menekankan pentingnya pengawasan dan komunikasi publik terhadap ketersediaan bahan pokok pangan.
“Saya berharap Polres Malang, Kodim 0818/Malang-Batu dan Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, dapat memperkuat pengamanan distribusi dan mencegah penimbunan barang.”
“Jangan lupa, publikasi harga harus harian, jelas dan transparan, agar masyarakat tidak terjebak isu yang tidak berdasar,” beber Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPW PKB Jatim, periode 2012-2017.
Sedangkan dari sisi penegakan hukum, Kasubsi Intelijen Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Faizal Aditya Wicaksana, S.H., menegaskan, menjelang Nataru potensi tekanan inflasi harus dijaga dengan pendekatan intelijen yang kuat.
“Periode ini memang identik dengan lonjakan konsumsi dan mobilitas. Kami mengantisipasi potensi pelanggaran seperti penimbunan, manipulasi harga, hingga distribusi barang yang tidak wajar,” ujarnya.
Faizal menambahkan bahwa Kejaksaan terus berupaya memperkuat koordinasi dengan seluruh instansi. (*/Ra Indrata)




