MALANG POST – Pendopo Agung Kabupaten Malang menjadi saksi sejarah dimulainya babak baru transformasi sepakbola nasional.
Beberapa elemen yang terdiri dari akademisi, guru, praktisi pendidikan, tokoh agama dan masyarakat, hingga perwakilan suporter berkumpul dalam Seminar Nasional bertajuk “Revolusi Mental Suporter: Dari Kurikulum Dini Hingga Sinergi Ekonomi Berkelanjutan”.
Acara yang diinisiasi oleh kolaborasi elemen mahasiswa dan suporter ini, tidak hanya menghasilkan rekomendasi lokal, namun langsung mendapat atensi dan dukungan penuh dari PSSI dan Pemerintah Pusat.
Hadir secara virtual melalui Wakil Ketua Umum II PSSI periode 2023-2027, Ratu Tisha, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang lahir dari Malang ini.
Ia menegaskan dukungannya terhadap upaya suporter dalam membangun kultur yang positif dan berdaya saing.
“Kegiatan positif dari suporter Malang ini menunjukkan bahwa suporter bukan hanya pendukung klub saat bermain di lapangan, namun juga peduli terhadap perkembangan sepak bola tanah air,” ujar Ratu Tisha di hadapan peserta seminar.
Tisha berharap hasil diskusi di Malang bisa menjadi referensi nasional. “Kami apresiasi dan semoga gagasan-gagasan baru dari diskusi ini bisa bermanfaat bagi suporter Indonesia ke depan,” tambahnya.
Dukungan senada datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Asisten Deputi Olahraga Profesional Kemenpora, Dr. Yusup Suparman, SH.L.LM, yang hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya forum semacam ini untuk membangun ekosistem olahraga yang produktif, bukan destruktif.
“Kami apresiasi kegiatan di Malang ini. Semoga ekosistem ini memberi dampak positif bagi kebijakan kami dan memberikan kontribusi serta usulan yang akan kami akomodir untuk kemajuan suporter ke depan,” ungkap Dr. Yusup Suparman.
Pernyataan ini menjadi sinyal positif bahwa rekomendasi seminar, termasuk soal kurikulum dan subsidi, berpeluang besar diadopsi dalam kebijakan pemerintah melalui Kemenpora.
Sementara Koordinator BEM Malang Raya, Moh Fauzi, selaku salah satu penggagas acara, menegaskan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan.
Pihaknya merekomendasikan agar materi ‘Karakter Suporter dan Sportivitas’ dimasukkan secara resmi ke dalam kurikulum pendidikan.
Menurutnya, pembinaan suporter selama ini terlambat karena hanya menyasar usia dewasa, padahal karakter dibentuk sejak dini.
“Kami merekomendasikan kepada Kemendikbudristek agar materi ‘Karakter Suporter dan Sportivitas’ dimasukkan secara resmi ke dalam kurikulum pendidikan, baik melalui program yang telah ada berbasis karakter Pancasila atau ekstrakurikuler wajib PJOK.”
“Kami ingin Malang menjadi pilot project nasional di mana etika suporter diajarkan dari bangku SD,” tegas Fauzi dalam rilis resminya
Fauzi menambahkan, pelibatan Guru Olahraga sebagai mentor utama di sekolah adalah kunci.
“Kami ingin Malang menjadi pilot project nasional di mana etika suporter diajarkan dari bangku SD. Siswa tidak hanya diajari menendang bola, tapi juga diajari bagaimana menjadi penonton yang menghargai lawan dan menerima kekalahan,” tegas Fauzi.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana dari unsur Aremania, Telly Hardadi, menyoroti aspek ekonomi. Ia memaparkan konsep terobosan “Suporter Bermartabat = Suporter Untung” sebagai solusi konkret.
“Selama ini narasi yang dibangun selalu soal sanksi. Kami merekomendasikan agar uang denda disiplin klub dialihkan menjadi dana subsidi tiket bagi suporter yang berkelakuan baik dan terdata resmi (Single ID),” ujar Telly.
Telly menjelaskan, dengan dukungan PSSI dan Kemenpora yang hadir hari ini, pihaknya optimis konsep “Ekonomi Berkelanjutan” ini bisa diterapkan.
“Jika suporter tertib, klub hemat biaya denda. Penghematan itu dikembalikan ke suporter sebagai diskon tiket. Ini win-win solution,” jelasnya. (*/Ra Indrata)




