SPRINT: Arkhan Fikri beradu lari dengan Zanadin Fariz, sebelum akhirnya berhasil one on one dengan kiper Persis, Riyandi, untuk mencetak gol bagi Arema FC. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Pemain muda Arema FC, Arkhan Fikri, memberikan komentar pedas terhadap Wasit Heru Cahyono, setelah Arema gagal menang saat dijamu Persis Solo.
Salah satu Kapten Timnas U-23 Indonesia itu, mengaku tidak respect terhadap wasit yang memimpin laga. Karena banyak keputusannya dianggap merugikan Arema.
Laga yang berlangsung di Stadion Manahan, Surakarta, pada Minggu (28/9/2025) sore itu, di pekan ketujuh Super League musim 2025/2026, skor akhir 2-2.
Padahal hingga menit ke-90+2, Arema masih unggul 2-1. Setelah sempat tertinggal 0-1 saat laga berada di menit ke-12.
Sayangnya kemenangan yang sudah di depan mata itu, digagalkan oleh sontekan Gervane Zjandric Adonnis Kasteneer. Hingga menyebabkan laga harus diakhiri dengan skor imbang.
Gol itulah yang menjadi salah satu penyebab kekecewaan Arkhan. Pemain berusia 20 tahun itu -juga pemain dan ofisial Arema- menganggap ada pelanggaran yang dilakukan pemain Persis, sebelum gol tercipta.
Dalam tayangan ulang, memang terlihat Zanadin Fariz mendorong Ian Lucas Puleio Araya, sebelum proses sontekan gol Kasteneer menjebol gawang Arema yang dikawal Lucas Frigeri.
Sayangnya meski sudah dilakukan review VAR, wasit tidak menganggap dorongan itu sebagai sebuah pelanggaran. Gol itu pun disahkan, sekaligus menjadi penyebab kegagalan Arema meraih poin penuh.
“Sebenarnya saya tidak pernah protes untuk masalah wasit. Saya tidak pernah kecewa kepada wasit. Tapi untuk kali ini, saya merasa kecewa sekali.”
“Karena kita semua bermain dan berusaha sangat keras. Tapi kita tidak bisa menang karena wasit. Saya tidak respect terhadap wasit,” katanya dalam post match press conference, di Stadion Manahan, Solo, Minggu (28/9/2025) petang.
Penyebab lain yang membuat Arkhan kecewa, adanya beberapa keputusan Heru Cahyono yang dianggap tidak tepat. Yakni tidak memberikan kartu merah kepada Jose Cleylton de Morais dos Santos.
Padahal terlihat sekali Jose Santos melakukan tekling keras terhadap Bayu Setiawan di menit 90+5. Wasit hanya memberi kartu kuning, tanpa merasa perlu melakukan VAR checking.
“Jadi sebenarnya tidak masalah, apakah pertandingan dipimpin wasit asing atau lokal. Ada wasit lokal yang justru lebih baik dari asing. Tinggal bagaimana wasit itu memimpin pertandingan.”
“Tapi hari ini kita benar-benar merasa dikecewakan. Jadi saya mau mengkomentari kepemimpinan wasit yang tidak memimpin pertandingan dengan baik,” kata pemain kelahiran Serdang Bedagai ini.
Arkhan memang layak kecewa. Karena pemain yang sudah tiga musim ini memperkuat Arema, berhasil mencetak ‘gol kemenangan’ di menit ke-88.
Gol dari hasil assist Paulinho itu, berhasil membalikkan keadaan. Dari tertinggal 0-1 sejak menit ke-12, menjadi unggul 2-1 hingga menit 90+2.
Tidak itu saja, gol yang dicetak pemain dengan postur 165 cm menjadi bukti kehebatan pemain yang sudah memiliki tujuh cap bersama Timnas Indonesia.
Hal yang sama juga disampaikan pelatih Arema FC, Marcos Vinicius Santos Goncalves. Yang juga menganggap banyak momen tidak menguntungkan, harus diterima pemainnya karena kepemimpinan wasit.
“Pertama saya dan semua pemain bersyukur, bisa datang hari ini dan mendapatkan poin.”
“Sebelumnya saya sangat respek terhadap Persis dan para pemainnya semua. Sayang tidak demikian dengan wasit,” kata pelatih asal Brasil ini.
Menurut pelatih 46 tahun ini, ada banyak momen yang tidak menguntungkan buat Arema. Mulai dari tidak adanya kartu merah untuk pemain Persis yang melakukan tekling keras, pelanggaran di dalam kotak penalti yang dibiarkan. Sampai pada disahkannya gol Kasteneer, meski didahului pelangaran pemain Persin.
“Karena itu kami tidak bisa memenangkan pertandingan. Yang seharusnya kami bisa memenangkan pertandingan itu,” sebutnya. (Ra Indrata)




