
MALANG POST – Aroma Agustusan mulai terasa di berbagai sudut Kota Batu. Bendera Merah Putih dan umbul-umbul warna-warni perlahan mulai menghiasi pinggir jalan. Sejak akhir bulan kemarin, para pedagang musiman dari Kabupaten Garut, Jawa Barat, mulai menjajakan dagangan khas bulan kemerdekaan itu di sejumlah titik strategis kota wisata ini.
Para pedagang bendera terlihat sudah menggelar lapak di sejumlah ruas jalan utama Kota Batu. Mulai dari Jalan Ir Soekarno, kawasan Pendem, Jalan Diponegoro, Panglima Sudirman, hingga Jalan Bromo-Semeru dan Jalan Hasanuddin, Pesanggrahan. Deretan bendera berbagai ukuran dan motif tampak mencolok di antara lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki.
Salah satu pedagang, Topan mengaku sudah sekitar dua pekan berada di Kota Batu. Ia merupakan satu dari 20 pedagang asal Kabupaten Garut yang setiap tahunnya merantau ke Kota Batu untuk menjual bendera dan umbul-umbul jelang HUT Kemerdekaan RI.
“Semua pedagang yang di sini masih satu kecamatan dengan saya, dari Garut. Tahun ini ada 20 orang. Tahun 2022 kemarin cuma sekitar 15 orang,” ungkap Topan saat ditemui di lapaknya di Jalan Hasanuddin, Senin (4/8/2025).
Menurutnya, kenaikan jumlah pedagang dari Garut ini menunjukkan bahwa pasar bendera di Kota Batu cukup menjanjikan. “Kalau dari Jalan Hasanuddin sampai ke pertigaan TMP (Taman Makam Pahlawan), ada enam pedagang. Itu belum termasuk di jalan-jalan lain,” tambahnya.

BENDERA: Arome hari kemerdekaan di Kota Batu mulai terasa, menyusul mulai berdagang penjual bendera musiman. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Pot)
Meski hanya berdagang musiman setahun sekali, omzet yang didapatkan tidak bisa dianggap remeh. Topan tak menyebut angka pasti, namun menyebutkan bahwa di tahun sebelumnya ia berhasil menjual hingga 25 kodi bendera. Bahkan ada rekannya yang mampu menjual dua kali lipat jumlah itu selama musim Agustus.
“Bendera yang saya jual macam-macam. Ada yang harga Rp 10 ribu sampai Rp 60 ribu, tergantung ukuran dan jenis kain. Untuk umbul-umbul mulai dari Rp 25 ribu sampai Rp 70 ribu,” jelasnya.
Pada tahun 2024 lalu, ia mencatat mampu menjual 60 sampai 70 lembar bendera setiap hari, terutama mendekati tanggal 17 Agustus. Puncak penjualan biasanya terjadi satu minggu sebelum hari kemerdekaan. Hal ini karena banyak instansi pemerintah, sekolah, hingga perkantoran mulai sibuk menggelar berbagai kegiatan Agustusan dan membutuhkan atribut kemerdekaan.
“Kalau sekarang masih kebanyakan perorangan yang beli. Belum ada instansi atau sekolah. Mungkin karena saya juga baru jualan seminggu,” pungkasnya.
Fenomena pedagang musiman ini seolah menjadi penanda tak tertulis datangnya bulan kemerdekaan. Warga pun mulai terbiasa menyambut kehadiran para penjual bendera dari luar daerah, yang saban tahun turut mewarnai semangat nasionalisme di Kota Batu. Bukan sekadar mencari rezeki, tapi juga menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan yang meriah dan penuh warna. (Ananto Wibowo)